Tampilkan postingan dengan label Aksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2020

Upaya Radikal Brili Agung Bantu Tim Medis

[ JJB ke #30 Series; #LiterasiLawanPandemi ]

HAMPIR satu bulan kebijakan “Physical distancing” dijalankan untuk memutus rantai persebaran Covid-19. Bak Thanos dalam film Avengers: Infinity War, Si monster raksasa yang akan menyapu setengah alam, pandemi Covid-19 pun keras menghantam banyak lini. Tak hanya menyerang sisi kesehatan, namun juga menyerang sisi ekonomi. Banyak pelaku usaha yang mulai mengambil kebijakan untuk merumahkan karyawannya, tak sedikit pula yang sampai di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Kondisi yang memaksakan demikian, tak bisa disalahkan memang.

Bagi sebagian pengusaha cara menyikapinya berbeda. Ada yang memilih bertahan dengan cara berinovasi dan bertranformasi di bidang usahanya. Adapula yang memanfaatkan momentum ini untuk beramal sosial sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responbility (CSR). Salah satu diantaranya adalah Brilli Agung, seorang pemilik hotel Aksara Homestay Purwokerto dan Penulis Buku ini menghibahkan 24 kamar hotelnya untuk tenaga medis Covid-19 di Kabupaten Banyumas.

Upaya radikal yang dilakukan mas Brilli ini ditengarai karena merasa prihatin dengan perlakuan miris masyarakat terhadap tenaga medis.  Terutama pemilik kos yang tidak menerima tenaga medis yang bekerja di rumah sakit rujukan Corona Covid-19. Perlakuan yang tak semestinya didapatkan kepada pahlawan kesehatan dewasa ini. Sehingga beliau tergerak hatinya untuk turut serta membantu tim medis sebagai garda terdepan dalam penanganan korban pandemi ini. Aksinya ini pun sempat viral di Twitter @BriliAgung, jumat (27/3/2020) yang sampai saat ini unggahannya telah mendapat 25,4 rb retweet dan 51,4 rb suka. Berikut unggahan dalam akun twitternya:

Gambar: Akun twitter Brilli Agung

Saya mengetahui kisah ini berawal dari update story-nya di Whatshapps. Kebetulan mas Brilli ini adalah salah satu mentor saya menulis 2017 silam. Lewat ikut pelatihan dan mentoring beliaulah Buku perdana saya yang berjudul, “Tuhan, Inilah Proyek Cintaku” alhamdullillah lahir. Setelah mendapat kabar tersebut saya langsung memutuskan untuk mencari tahu detailnya kisah lengkapnya lewat media massa online dan akun twiterrnya. Jiwa skeptis saya ketika menjadi aktivis pers mahasiswa dulu di kampus, membuat saya langsung gercep (gerak cepat) untuk searching cek fakta lebih lanjut ketika mendapat kabar yang menurut saya bagus.

Menurut kabar yang dilansir di liputan6.com, mas Brilli tak hanya menghibahkan 24 kamar hotelnya. Namun juga menanggung biaya operasional, baik sarapan dan kebutuhan seperti hand sanitizer. Di samping itu dia juga tetap akan memenuhi tanggung jawabnya kepada karyawannya yang bekerja yakni berupa gaji dan THR akan tetap diberikan. Senada dengan yang diucapkan saat wawancaranya dengan CNN TV, “Saya sudah berkomitmen untuk menanggung biaya operasional, kebetulan kami juga dibantu oleh beberapa relawan. Dan saya juga berkomitmen untuk menunaikan hak karyawan berupa full gaji dan juga THR yang akan datang sebentar lagi”.

Sekarang saatnya masyarakat di sejumlah negara saling menguatkan, saling membantu dan saling memberi harapan satu sama lain agar virus yang melanda bumi ini segera bisa dilewati. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh mas Brilli Agung di atas. Harapannya hal-hal kebaikan semacam itu bisa menjadi inspirasi bagi para pengusaha lain untuk berbuat sama bahkan bisa jadi lebih kalau memang mampu. Seperti pesan Allah dalam Al-Quran, Wa ta’awwanu ‘alalbirri wattaqwa, “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa”.

Sidoarjo, 10 April 2020 || Budi Setiawan



Selasa, 30 April 2019

Mahasiswa: Representasi Kaum Borjuis dan Proletar (Buruh) Masa Depan

[[ JJB Ke #26 ]]

Foto Pribadi: May Day 2018 yang lalu


Sebelum membaca tulisan saya terlalu jauh, saya ingin mengajak teman-teman untuk bernyanyi bersama dalam sebuah alunan lagu di bawah ini: 

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota bersatu padu rebut demokrasi gegap gempita dalam satu suara demi tugas suci yang mulia

hari hari esok adalah milik kita terciptanya masyarakat sejahtera terbentuknya tatanan masyarakat Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita kabarkan di tangan kita tergenggam arah bangsa marilah kawan mari kita nyanyikan sebuah lagu tentang pembebasan (Buruh Tani)

Begitulah kira-kira lagu yang sering didengungkan oleh para demonstran dari serikat buruh dan mahasiswa yang tengah menyuarakan aspirasinya di telinga para penguasa. Saya yakin teman-teman yang mengaku sebagai aktivis kampus baik dari Pers Mahasiswa maupun Ormek-ormek (Organisasi Ekstra) seperti HMI, PMII, GMNI dan lain-lain tidak asing dengan lagu tersebut. Namun bagi sebagian mahasiswa yang "IPK Oriented" mungkin masih asing, ada baiknya jika memang iya coba cek di YouTube dulu judul lagunya "Buruh Tani" hehe.

Kita bukan hanya sebatas membahas popularnya lagu tersebut di kalangan aktivis, tapi lebih dari itu. Jika kita analisa lebih lanjut, ada semacam konvergensi yang saling berkaitan antara mahasiswa dengan buruh sebagai subjek instrumen demokrasi. Dan itu terpapar jelas di bait pertama lagu. Artinya, masalah yang berkaitan dengan buruh juga seharusnya menjadi masalah yang patut diperbincangkan di kalangan akademisi seperti mahasiswa.

Berkaca pada sejarah, Hari Buruh "May Day" diresmikan pada 1 Mei oleh pemerintah lewat UU Kerja No.12/1948. Dalam pasal 15 ayat 2 UU No.12 Tahun 1948 dikatakan, "Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja". Namun situasi berubah ketika Orde Baru berkuasa. Sejak 1 Mei 1967, hari buruh sedunia "May Day" dilarang. Serikat buruh dibatasi ruang geraknya dan Orde Baru melemahkan gerakan buruh dengan berbagai cara. Tidak hanya itu, Bahkan pergerakan mahasiswa pada waktu itu juga dibungkam dengan diberlakukannya kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinas Kemahasiswaan). Buruh dan Mahasiswa pada saat itu haknya dibelenggu dengan meng-haram-kan kritik terhadap rezim.

Tahun 1998 ketika Mahasiswa terlibat aksi demonstrasi besar-besaran akhirnya ORBA tumbang dan pasca itu peringatan hari buruh sedunia tak lagi dilarang. Begitulah hiruk pikuknya sekilas perjuangan mahasiswa dan buruh melawan penindasan kapitalisme pada masa itu. Yang sebenarnya antara keduanya saling bertautan seperti yang sudah saya jabarkan di awal.

Mahasiswa: Buruh Masa Depan

Apa artinya hal tersebut bagi mahasiswa? Kita bisa menyimpulkan bahwa mahasiswa adalah para buruh di masa depan. Dengan posisinya sebagai ‘buruh masa-depan’, maka mahasiswa sebetulnya harus sadar bahwa kepentingan buruh saat ini adalah kepentingannya di masa yang akan datang. Ketika mahasiswa lulus, dalam profesi apapun ia bekerja, ia harus sadar bahwa ia adalah ‘buruh’. Kesadaran atas subjektivitasnya inilah yang, menurut Zizek (2009) akan menjadi salah satu fondasi dari resistensi yang ia bangun pada konstruksi bangunan yang bernama kapitalisme.

Mahasiswa: Borjuis Masa Depan.

Seperti yang kita ketahui, makna dari Borjuis menurut KBBI adalah kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas (biasanya dipertentangkan dengan rakyat jelata). Artinya, mahasiswa selain menjadi bagian buruh di masa depan seperti yang saya uraikan di awal juga ada kemungkinan untuk menjadi seorang Borjuis dari kalangan menengah ke atas. Bisa jadi lewat jalur menjadi pejabat pemerintah ataupun menjadi seorang pengusaha. Dan sadarlah, bahwa di kelas inilah benih-benih Kapitalisme tumbuh. Sederhananya Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Tak hanya itu mereka juga rela menindas kaum buruh demi keuntungan pribadinya. Di era Revolusi Industri 4.0, ternyata akumulasi kapital tak hanya dilakukan di pabrik, tetapi  juga di berbagai tempat. Sebut saja misalnya kampus, sekolah, bank, rumah sakit ataupun di perusahan jasa berbasis online yang sekarang mulai tumbuh subur.

Nah, dengan kita mengetahui paham dan konstruksi yang diikuti para kaum kapitalis tersebut setidaknya kita di masa depan bisa menghindari untuk tidak terlibat dan terjatuh dalam kubangan lingkaran setan tersebut.

Begitu sebaliknya, jika mahasiswa adalah representasi dari 'buruh masa depan,' maka sudah selayaknya gerakan mahasiswa saat ini mengambil posisi yang inheren dengan gerakan buruh. Bahwa masalah buruh secara tersirat juga menjadi masalah mahasiswa begitu sebaliknya. Oleh karenanya seperti masalah kesejahteraan buruh yang selalu menjadi tuntutan tiap tahun baiknya menjadi PR juga bagi gerakan mahasiswa untuk ikut serta menyuarakan aksinya tak hanya sebatas di jalan namun juga lewat senjata intelektual-nya melalui penulisan berita Pers Mahasiswa misalnya atau lewat jalur lain. Tujuannya sama, yaitu untuk bersama-sama melawan dan menumbangkan Kapitalisme di Negeri ini. Lalu memberi sinyal "Hijau" bagi pengusaha yang ikut serta mensejahterakan karyawannya (Social Entrepreneur).

SELAMAT HARI BURUH SEDUNIA Bagi para buruh masa kini dan masa depan. Semoga kita tetap diberi kekuatan untuk tetap melawan Kapitalisme.

Sidoarjo, 30 April 2019 || Budi Setiawan

#SalamMahasiswa πŸ’ͺ
#SalamPersMahasiswa πŸ“ΈπŸ“
#SalamPergerakan.
#PanjangUmurPerjungan.