Tampilkan postingan dengan label jurnal jomblo berprinsip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnal jomblo berprinsip. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2021

DARI MENULIS BUKU TERBITLAH BUKU NIKAH

[ JJB ke #37 ] 


Sumber: Foto pribadi


Surabaya, 3 Februari 2021

20.30

“Mas, besuk kalau mau kasih mahar, buku aja ya mas. Jadi Mas nulis buku lagi,” ucap wanita yang malam itu di depanku. Wajahnya bercampur sinar lampu terang cafe hingga memantulkan cahaya indah di dua kornea matanya. Wulan, begitu orang-orang memanggilnya. Sesuai namanya, wajahnya kuning bersinar bak rembulan.

“Hah... Buku?” Sahutku kaget.

“Iya, mas. Tapi nggak maksa lho. Kan mahar katanya nggak boleh memberatkan.” Jawabnya pelan.

Kemudian senyum penuh teduh padanya kuantarkan. Wanita ini tau saja kalau kekasihnya sudah lama tidak menulis buku. Memang rencanaku dulu sebelum menerbitkan buku nikah, setidaknya satu atau dua buku bisa aku tulis lagi.

“Iya dek. Mas jawab sehabis lamaran ya permintaan adek.” Ujarku menjanjikan jawaban.

Perasaanku kala itu campur aduk. Dari permintaan maharnya aku membayangkan bahwa dia bukan hanya wanita cantik yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi pendamping hidupku. Namun juga insyaAllah wanita shalihah yang ditakdirkan untuk mendukung proses berkaryaku sebagai penulis. Menjadi laksana obor penyemangat di kala malam hitam kelam menyulitkanku menyusuri jalan sunyi kepenulisan.

Memang menulis belum menjadi profesiku seutuhnya. Lebih tepatnya hanya sekedar hobi yang aku tekuni saja. Namun, aku teringat kata-kata yang pernah dilontarkan oleh Kang Ridwan Emil, “pekerjaan yang paling menyenangkan itu adalah hobi yang dibayar.” Begitu katanya. Aku sepakat dengan Kang Ridwan. Tapi sejak awal uang bukanlah motif utama kenapa aku mesti menulis. Itu hanya bonus. Selebihnya aku menyetujui kata Pramodeya, bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Pun aku teringat dengan kata mentor menulisku dulu, Mas Brili. Menulis juga bisa menjadi ladang amal kita berupa ilmu yang bermanfaat. Yang pahalanya tidak akan terputus meskipun kita sudah meninggal kelak. Syahdan, lewat dialog singkat dengan calon makmumku malam itu, seakan alampun mendukungku untuk tetap semangat dalam berkarya lewat tulisan.


Minggu, 7 Februari 2021

Aku memandang keluar jendela mobil. Matahari diantara akhir musim penghujan itu masih menumpahkan sisa sinarnya diantara kabut awan-awan hitam. Kulihat jam di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 09.10. Mobil toyota rust warna putih itu menghantarkanku dan keluargaku ke suatu desa di kota Jombang. Meminang seorang gadis yang baru tiga bulanan dekat dengannya. Di tengah hari istimewa itu ada tiga hal yang menjadi beban pikiranku.

Pertama, aku dan keluargaku sedang berbahagia di hari istimewa itu, namun tanpa kehadiran Almarhum Ibuku. Kedua, ini adalah kali pertama aku berani melamar anak orang. Aku hanya menerka-nerka bagaimana jalannya acara nanti. Lalu yang terakhir, Apa yang akan kuhadapi setelah selesai acara tunangan ini, bagaimana jawaban dari permintaan akan maharnya kemaren? Sepanjang perjalanan, aku hanya memperlihatkan muka yang senang dan gembira, tanpa memberi tahu sedikitpun apa yang menjadi pertanyaan yang menjadi kegelisahan dalam hatiku.

Dua hari seusai acara pertanyaan itu muncul kembali di benakku. Cepat atau lambat aku harus segera mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu untuk kemudian aku forward jawaban itu ke tunanganku. Apakah aku harus mengiyakan atau justru menolak permintaan itu dengan beberapa alasan. Ya, begitulah kehidupan. Terkadang kita disuguhkan dengan teka-teki yang wajib kita selesaikan.

Mahar (mas kawin) adalah salah satu syarat sahnya pernikahan. Dalam Islam sendiri, mahar adalah untuk sempurnanya nikah. Di Al-Qur’an, Allah telah menjelaskannya dalam surat An-Nisa ayat 4 berbunyi:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”

Demikian Firman-Nya. Begitupun dengan sebuah hadist beliau Nabi juga menyebutkan:

“Wanita yang paling besar berkahnya ialah wanita yang paling mudah (murah) maharnya.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Hadis ini sangat sejalan dengan kata tunanganku beberapa waktu lalu. Setelah menimbang dan menimbang lalu memutuskan, InsyaAllah akupun siap untuk menjawab permintaan tunanganku. Akan ku usahakan, lalu menyerahkan segala usaha itu pada Allah. Sebab, tiada daya dan upaya melainkan daya dan upaya dari Allah semata.

“Bismillah tawwakaltu ‘alallah. La haula wala quwwata illa billah,” ucapku kemudian. Dari menulis buku, terbitlah buku nikah. Semoga saja.


Surabaya, 11 Februari 2021 || Budi Setiawan

Senin, 18 Mei 2020

Bijak Bermedia, Kritis di Era Krisis


[ JJB ke #34, Series: #LiterasiLawanPandemi ]





Belakangan, sebenarnya saya sudah agak malas membicarakan soal media. Bukan sebab saya sudah nggak aktif lagi di pers mahasiswa, akan tetapi saya sudah menginjak pada tangga kecewa sebab kenapa kok justru konten-konten yang bermuatan negatif yang banyak menjadi trending belakangan ini. Sementara konten-konten yang bermuatan positif, inspiratif dan mengedukasi justru sebaliknya. Kebayang nggak sih, sebetulnya bagaimana algoritma media itu bekerja sehingga hal di itu bisa terjadi?

Tidak munafik! Saya sendiri mungkin menjadi salah satu bagian dari jutaan pemirsa pengkonsumsi konten negatif tersebut. Walaupun disatu sisi hati saya berontak menolaknya. Instagram misalnya, dari sekian banyak postingan yang bernilai positif, postingan negatif masih merajainya. Mulai dari tersebarnya berita hoax soal telur rebus obat korona, hebohnya aksi kelulusan anak SMA di Riau, pembulyan bocah penjual jalangkote, hingga goyangan sexy “mama muda” ala tik tok. Sealim-alimnya cowok kalau liat goyangan mama muda, ya pada akhirnya akan ikut goyang juga keles..!!!

Sejujurnya tulisan ini bermula ketika seorang teman mantan sesama pengurus persma dulu Wa saya dan meminta untuk share info gimana cara mendapatkan jodoh menyaring info yang sifatnya hoax. Dia merasa resah ketika di lingkungan rumahnya barusan terdengar desas-desus ada yang positif korona, akhirnya semua pada heboh bikin status a, b, c. Dan ternyata setelah diketahui beritanya itu nggak benar alias hoax. “Ngilu rasanya gigiku dengar dan bacanya mas,” sambatnya.

Oke, kita mulai pembahasannya. Dahulu kala ketika saya masih memimpin rezim UKM Jurnalistik Mahardhika pernah membuat workshop jurnalistik dengan “Bijak Bermedia, Kritis di Era Krisis”. Saat itu saudara Vais Lubis dari Redaktur Online yang mengusulkan temanya. Tema yang menurut saya waktu itu lumayan keren. Namun tempo hari saya berpikir, “sepertinya tema ini justru sangat relevan untuk kondisi krisis seperti ini ya.” Disaat terjadinya krisis akibat pandemi ini semestinya memang kita harus bisa bersikap dan berpikir kritis. Tidak hanya kritis terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat,  bagaimana menyelamatkan masalah ekonomi agar tetap bisa bertahan hidup pun dengan pemberitaan masalah korona di media.

Semua itu tak luput dari bagaimana kita untuk menyikapinya dengan cara berpikir kritis. Sehingga pada akhirnya, perilaku “bijak bermedia” lah yang akan menjadi implikasinya. Berbicara masalah kabar palsu atau hoax seputar korona, sudah ada sekitar 556 berita hoax yang beredar menurut data dari Kementerian dan Informatika. Melangsir info dari Detiknews (18 April 2020). Angka yang sungguh fantastis, itu belum termasuk ditambah data hoax yang terjadi pada bulan Mei ini. Lalu bagaimana cara kita menangkalnya?

Terdapat dua langkah yang bisa dilakukan menurut presidium Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) Harry Sufehmi. Karena  mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, upaya menangkal berita hoax itu sebenarnya sudah terdapat dalam ilmu hadis. Jadi sejak pada zaman dahulu sudah ada namanya hoax berupa hadis dhoif (bohong) sehingga akhirnya para ‘ulama membuat ilmu hadist. Dua langkah untuk mendeteksi hoax itu dasarnya simpel yaitu dengan melihat  Sanad dan Matan. Sanad adalah sumber berita dan matan adalah kontennya.

a. Perhatikan Sanad atau Sumber Beritanya
Hal pertama yang perlu kita lakukan untuk menepis info hoax seputar virus korona adalah dengan melihat sumber dari berita yang beredar tersebut. Apabila info yang kita terima itu tidak jelas sumbernya dari mana, sebaiknya kita abaikan saja informasi tersebut. Skipp ajalah, tidak perlu pusing-pusing dengan berita yang tidak jelas sumbernya.

b. Perhatikan Matan atau Kontennya

Lalu menganai Matan atau kontennya, isi dari beritanya ini kira-kira ada yang aneh nggak. Aneh di sini maksudnya adalah ketika berita itu dibaca kita spontan langsung merasa emosi, langsung marah atau gusar, merasa takut dan berlawanan dengan info yang kita dapatkan di media massa yang kredible  seperti media Tempo, Liputan6.com, Jawapos, Detik.com dan media lain yang terverifikasi oleh Dewan Pers. Maka jika begitu beritanya bisa kita anggap hoax hingga terbukti kebenarannya.

Memerangi berita hoax dan konten negatif adalah tugas semua masyarakat. Kendati berselancar di media sosial (instagram, facebook, twitter), whatshapp dan youtube menjadi suatu rutinitas kaum milenial di saat senggang tapi kita harus juga bijak dalam menyikapinya. Media sosial layaknya mimbar bebas, begitu banyaknya yang sekedar menunjukkan eksistensi diri, beropini dan bahkan sebagai tempat meluapkan emosi, kekecewaan ataupun kegembiraan. Hingga tak ada aturan baku mengenai cara berperilaku bijak di media sosial tersebut.

Syahdan, kita sendiri yang harus bisa mengontrolnnya dan membuat batasan atas perilaku bijak tersebut. Dan jangan lupa belakangan pemerintah juga membuat UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang bisa mempidanakan pelanggarnya. Terlepas dari pro dan kontra terhadap kebijakan UU ITE itu, demi kebaikan bersama ada baiknya kita juga harus memperhatikan norma-norma yang berlaku ketika sedang mengakses dan berselancar di media sosial. Sebab, masing-masing dari kita adalah “konten kreator” yang akan mempertanggungjawabkan dari postingan-postingan kita.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu informasi, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujaraat:6)

Sidoarjo, 18 Mei 2020 || Budi Setiawan