Tampilkan postingan dengan label berkaryauntuknegeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berkaryauntuknegeri. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2020

LAHIRNYA VENTILATOR KARYA ANAK BANGSA


[JJB ke #33, Series:#LiterasiLawanPandemi]

“Nilai akhir dari proses pendidikan, sejatinya terekapitulasi dari keberhasilannya menciptakan perubahan pada dirinya dan lingkungannya. Itulah fungsi daripada pendidikan yang sesungguhnya.”

-Lenang Manggala (Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia)

Benar adanya, apabila disebutkan bahwa fungsi dari pendidikan yang sesungguhnya adalah menciptakan perubahan pada diri dan lingkungannya seperti yang diungkapkan oleh mas Lenang Manggala di atas. “Agent of change” begitu kawan-kawan mahasiswa menyebutnya. Sejalan dengan hal tersebut, YPM Salman bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (UNPAD) berusaha mewujudkannya dengan aksi nyata berkarya. Terbukti pada tanggal 21 April 2020 kemaren, Ventilator portabel CPAP, Vent-I yang merupakan hasil produk kerjasama telah lolos uji produk oleh Balai Pengamanan Fasillitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Sumber Foto: Grid.id

Seperti yang telah dilangsir dilaman resminya ITB, Ventilator ini dinisiasi pengembangannya oleh Dr.Syarif Hidayat, Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) dari Kelompok Keahlian Ketenagalistrikan ITB, didukung oleh beberapa Dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantra (FTMD) dan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). Vent-I adalah alat bantu pernapasan bagi pasien yang masih dapat bernafas sendiri (jika pasien COVID-19 pada gejala klinis tahap 2), bukan diperuntukkan bagi pasien ICU. Katanya ventilator tersebut diklaim  dapat digunakan dengan mudah oleh tenaga medis.

Dengan kian banyaknya kebutuhan Ventilator untuk pasien COVID-19 di Indonesia, Vent-I ini diharapkan mampu untuk membantu mencukupi kebutuhan tersebut. Vent-I ini akan diproduksi untuk kebutuhan sosial, artinya Vent-I akan dibagikan secara gratis kepada rumah sakit yang membutuhkan. Menurut Ir.Hari Thahjono, MBA., Selaku tim Komunikasi Publik dari pengembangan Vent-I dalam rilisnya mengatakan, “Vent-I ini akan diproduksi sekitar 300-500 sesuai dengan jumlah donasi yang masuk ke Rumah Amal Salman. Produksi tahap pertama dimulai begitu lolos uji pada tanggal 21 kemaren, dan akan diproduksi melalui kerjasama dengan PT DI,” ujarnya.

Kendati di satu sisi, menurut kabar yang beredar di media, Indonesia akan mendapatkan bantuan ventilator dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tapi di sisi lain kita tidak bisa sepenuhnya menggantungkan harapan kepada negara lain. Dengan aksi nyata yang dilakukan oleh tim pengembang Vent-I di atas setidaknya akan bisa memicu dan menginspiasi para pemuda Indonesia lain agar lebih semangat dalam berkarya. Mereka dengan karyanya seakan ingin meneriakkan kepada bangsa ini dan dunia, bahwa Indonesia itu “mampu”.

Dalam wawancaranya bersama VOA (Voice Of America), Dr.Syarif Hidayat dengan semangatnya berkata, “saya memilih mati dalam keadaan berdiri, daripada mati dalam keadaan memeluk lutut”.  Artinya kurang lebih yang ingin beliau sampaikan adalah jangan sampai kita hanya pasrah dengan keadaan dan sebatas berpangku tangan menunggu keajaiban. Tapi ciptakanlah keajabaiban itu. Dengan cara apa? Dengan cara berusaha menjadi yang terbaik bagi sesama. Sebab, seperti pesan Rasulullah “Sebaik-baik manusia adalah paling yang bermanfaat bagi sesama”.

Menjadi pribadi yang bermanfaat bisa diibaratkan seperti menanam kebaikan untuk diri sendiri. Selayaknya orang yang menanam, suatu saat kita juga akan memanennya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Isra ayat 7:

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.”

Seperti yang telah kita ketahui bersama, tim medis sudah menjadi garda terdepan dalam menangani pasien covid-19. Pak Syarif dengan tim kerjasamanya sudah menciptakan ventilator karya anak bangsa. Lalu, bagaimana dengan kita? Siapkah kita menjadi barisan pahlawan covid-19 selanjutnya? Semoga saja cita-cita luhur itu tidak hanya sebatas bertengger di angan.

Sidoarjo, 27 April 2020 || Budi Setiawan

Rabu, 06 Februari 2019

MEMAHAMI TRANSFORMASI MARKETING 4.0

[ Resensi Buku #1 ]

Sumber: Foto Pribadi



Judul Buku      : Marketing 4.0, Bergerak dari Tradisional ke Digital
Pengarang       : Philip Kotler, Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan
Penerbit           : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2019
Tebal Halaman: 171 Halaman
Resentator       : Budi Setiawan

Sinopsis Buku:

            Revolusi industri 4.0 telah membawa pergeseran manusia dari tradisional ke digital dengan begitu cepat. Dilain pihak taktik pemasaranpun terjadi transformasi dan perkembangan dari waktu ke waktu.

            Enam tahun terakhir, marketing 3.0 menginspirasi dunia untuk merangkul dan menjelajahi pemasaran yang berorientasi pada manusia (Human Centris). Dengan adanya konvergensi teknologi ini akhirnya akan berunjung pada konvergensi antara pemasaran digital dan pemasaran tradisional. Untuk itu bapak pemasaran Phillip Kotler beserta Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan memperkenalkan marketing 4.0 sebagai perkembangan wajar dari marketing 3.0.

            Dasar pemikiran utama dari buku ini adalah bahwa pemasaran harus disesuaikan dengan perubahan alami dari jalur pelanggan dalam ekonomi digital. Para pemasar harus menerima pergeseran ke lanskap bisnis yang lebih horizontal, inklusif dan sosial. Media sosial telah menghapus rintangan geografis & demografis yang memungkinkan masyarakat berkomunikasi dan perusahaan berinovasi melalui kolaborasi.

            Paradoks dari pemasaran ke pelanggan terhubung, menuntut pemasar untuk memadukan antara interaksi online versus offline. Dan konektivitas telah memberdayakan pelanggan dengan informasi yang berlimpah. Selain itu Subkultur digital besar dari kaum muda, perempuan dan warganet yang akan menjadi pondasi bagi jenis pelanggan baru sepenuhnya disaat ini.

            Di era digital ini jalur pelanggan didefinisikan ulang dari 4A (Aware, Appeal, Ask dan Act) menjadi 5A (Aware, Appeal, Ask, Act dan Advocate) karena ternyata pendapat dan rekomendasi dari keluarga dan teman-teman kita memiliki dampak besar terhadap keputusan pembelian. Anjuran itu bisa dari online contohnya  TripAdvisor, posting produk perusahaan dll  maupun dari offline.

            Sejalan dengan 5A, buku ini memperkenalkan seperangkat metrik baru yaitu purchase action ratio (PAR) dan brand action ratio (BAR). Keduanya dapat mengevalusai dengan lebih baik seberapa efektif pemasar dalam menggerakkan pelanggan dari sadar ke bertindak dan akhirnya menganjurkan. Pada intinya PAR dan BAR memungkinkan pemasar untuk mengukur seberapa produktivitas usaha pemasaran dalam sebuah perusahaan. Juga ditelusuri secara mendalam beberapa industri kunci & belajar cara  melaksanakan gagasan marketing 4.0 pada industri 4.0 dengan mengidentifikasi empat pola besar untuk berbagai industri: “gagang pintu”, “ikan mas”, “terompet”, dan “corong”.

            Setelah itu dibagian ketiga diuraikan secara terperinci dari marketing 4.0 yang dimulai dengan pemasaran yang berorientasi pada manusia, yang ditujukan untuk memanusiakan mereka dengan atribut yang mirip manusia. Selain itu pemasaran konten dan pemasaran omnichannel juga diharapkan lebih diperhatikan dan ditingkatkan untuk meraih penjualan yang lebih tinggi dengan mengkombinasikan teknologi dengan tradisional.

            Pada akhirnya, marketing 4.0 adalah pendekatan pemasaran yang menggunakan interaksi online dan offline antara perusahaan dan pelanggan, memadukan gaya dan substansi dalam membangun merek dan akhirnya melengkapi onektivitas mesin ke mesin dengan sentuhan manusia ke manusia untuk memperkuat keterlibatan pelanggan. Pemasaran digital & pemasaran tradisinonal dimaksudkan untuk dipadukan dan dikombinasikan dengan tujuan mendapat pembelaan ataupun loyalitas pelanggan.

Kelebihan Buku:

-       Buku ini sangat cocok dibaca oleh para dosen, mahasiswa, praktisi dan pekerja pemasaran, pengusaha serta semua orang yang ingin mengetahui perkembangan terbaru dari dunia pemasaran.

-       Isi dari buku lumayan berbobot karena penulis memaparkan fakta berdasarkan data dan sumber-sumber yang relevan.

-       Memampukan pembaca untuk memeriksa contoh langsung peningkatan produktiviatas dari perkembangan marketing 4.0 dengan melibatkan pelanggan disepanjang jalur dunia nyata melalui pasar digital masa kini.

Kekurangan Buku:

-       Banyak istilah dalam buku ini yang mungkin akan susah dimengerti oleh orang awam.

-       Tidak ada indeks bukunya

-       Cover buku kurang maching dengan judulnya.

Minggu, 18 November 2018

Kenapa Berhenti Produktif?


JJB ke #23


"Dan para insinyur di Jepang sering diingatkan akan sebuah moto, ‘Tidak pernah akan ada kemajuan jika Anda mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama dari waktu ke waktu"  

        -Masaaki Imai-         

Sumber Foto: news.lewatmana.com



Terus beraktifitas, bekerja dan berkreatifitas adalah sebagai pertanda daya hidup seseorang. Maka kelangsungan hidup seseorang tergantung pada tingkat produktifitasnya sebagai manusia. Namun, sayangnya tidak semua orang menyadari akan hal itu. Sehingga seperti yang sering kita lihat bersama banyak pengangguran, berandalan, anak jalanan, maling, pencopet dan lain-lain. Mereka bertebaran di sekitar kita akibat kurang produktifnya pribadi tersebut. Hal itu sudah pasti akan menjadikan masalah masyarakat (Problem Society) yang perlu untuk dituntaskan.

Seiring berjalannya waktu, seorang yang berakal pasti punya cita-cita dan harapan untuk meraih kesuksesan hidup. Artinya adalah kesuksesan ini bisa berupa pencapaian atau prestasi yang berhasil ia raih setelah dirinya bekerja keras dalam mengerjakan sesuatu.
Produktif dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang menguntungkan atau bermanfaat bagi dirinya atau kegiatan yang dipenuhi  hal-hal yang bermanfaat. Tidak hanya itu dalam islampun seorang yang produktif seperti misalnya bekerja karena mengaharap ridha Allah pun dianggap ibadah. Beliau Ibnu Umar R.A dari Rasulullah, berkata,”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang beriman yang berkarya.”(HR.Thabrani dalam Al-Kabir)

Untuk mengetahui produktif atau tidaknya seseorang, menurut saya cukup dengan kita mengajukan pertanyaan, “apa karyamu?” itu mungkin sudah cukup dan mewakili dari sekian pertanyaan untuk menguji seseorang produktif atau tidak. Karena syarat seseorang dikatakan produktif yang paling utama adalah dengan karya dan pencapaian apa yang ia ukir selama ini. Menurut saya sebuah karya atau pencapain tersebut tidaklah harus sesuatu yang besar, hal kecilpun bisa dikatakan produktif asal ia punya nilai lebih (Value added) yang bisa membuat dirinya berdaya.

Beberapa bulan terakhir saya merasa ada penurunan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih produktif. Walaupun di satu sisi angan-angan untuk berencana memperbaiki kualitas diri hari demi hari itu selalu ada, namun pada kenyataannya saya tetap saja terkalahkan oleh rasa malas yang berkepanjangan ini. Sialnya terkadang kesadaran-kesadaran seperti ini hanya mampir sebentar, setalah itu edan lagi.

Penurunan semangat dalam hidup ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja atau bahkan diternak untuk kemudian beranak pinak. Ya, kalau misal yang diternak sapi mah bisa menghasilkan. Lha kalau misal sikap malas yang diternak maka jelas rugilah yang akan didapat. Oleh karnanya, kata ‘semangat’ menjadi semacam amunisi yang perlu ada agar kita bisa mencapai target-target kehidupan yang sudah direncanakan.

Dahulu kala ada sebuah legenda yang menyebutkan bahwa manusia serigala (werewolf) memiliki kekuatan yang akan meningkat berkali lipat jika bulan purnama tiba. Begitu juga dengan tukang sihir. Segala kemampuannya akan meningkat disaat bulan purnama menjelang. Kekuatan sihirnya akan mencapai puncak saat momen sakral itu tiba. Hal tersebut berlaku juga bagi kita, kita sendiri bisa membuat purnama yang menggairahkan semangat. Purnama tersebut dapat kita ibaratkan dengan sesuatu yang menjadikan kita lebih bersemngat dan bergelora dalam menjalani kehidupan maupun untuk meraih pencapaian-pencapaian dalam hidup.

Purnama tersebut misalnya adalah seorang Ibu, dengan kita menjadikan ‘ibu’ sebagai purnama saat kuliah misalnya, maka kita akan lebih bersemangat untuk belajar dan menyelesaikan study. Purnama lain yang bisa jadi contoh mungkin bisa jadi calon pasangan kita. Ya, walaupun mungkin masih tampak samar-samar layaknya idghom syamsiyyah tapi setidaknya kita sadar bahwa kita harus betul-betul mempersiapkan diri untuk kebahagiaan keluarga kita di masa depan.(#Eaaakk) Prinsip “Perbaiki dirimu sama denganperbaiki jodohmu” memang sudah seharusnya kita terapkan karena katanya jodoh adalah cerminan diri kita.

Ada yang bilang, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Lah, ngimpi opo..!! emang situ punya kenalan orang dalam? Enggak kan hehe. Hal mustahil tersebut terkadang menjadi icon beberapa pemuda yang tidak punya kesadaran untuk tumbuh dan berkembang. Ia seakan-akan menjadi bunga tidur bagi pemuda yang senang menginap di zona nyaman. Dengan kata “Nyaman” inilah sebuah realitas seakan terlihat tidak jelas, dan akirnya terjebak dikenyamanan yang hanya sebatas kamuflase.

Menjadi seseorang produktif bisa kita latih dengan hal-hal sederhana, misalnya kalau biasanya kita mandi sekali dalam sehari menjadi tiga kali dalam sehari. Kalau misal kita biasaya datang telat ke kampus, kita rubah menjadi datang tiga puluh menit lebih dulu sebelum jam perkuliahan dimulai. Selanjutnya mungkin bisa dibuat planing yang lebih serius dan membuat skala prioritas sehari-hari agar hidup kita jadi lebih terarah. Dan yang terpenting adalah kita harus punya visi dalam hidup. Visi tersebut bisa kita artikan dengan sebuah pertanyaan, “kira-kira sepuluh tahun yang akan datang kita ingin menjadi apa?” artinya bahwa visi itu harus mencangkup tujuan dan cita-cita jangka panjang kita.

Kalau misalnya ada yang bertanya apakah saya punya visi, jawabannya sudah pasti punya. Saya punya visi dalam sepuluh tahun ke depan ingin menjadi seorang penulis best seller yang bisa menginspirasi pembaca lewat tulisan dan menjadi seorang pengusaha yang bisa ikut serta menciptakan lapangan pekerjaan baru. Saya tidak perlu malu memplubikasikan visi dan cita-cita saya ke depan, karena dengan cara seperti ini mungkin bisa membuat kita lebih bertanggung jawab atas apa yang sudah direncanakan dan syukur-syukur dari teman-teman pembaca ada yang mau membantu meng-amini kan alhamdulillah banget. Hehe.

Semoga dengan kita mengkaji ulang  dan menganalisa kembali kaitannya dengan produktifitas kita sebagai manusia ini akan menambah gairah dan semangat ke depan agar lebih baik hari demi hari. Dan jangan sampai kita menjadi orang yang tidak ada kemajuan karena dari waktu ke waktu selalu melakukan hal yang sama seperti pesan para insinyur di Jepang kata Masaaki Imai di atas. Amiinn.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS.94:&)

Sidoarjo, 19 September 2018 || Budi Setiawan          

Kamis, 26 April 2018

Mohon Waspada Jika ke STIE Mahardhika Malam Hari !

Mohon Waspada Jika ke STIE Mahardhika Malam Hari !




Sebenarnya agak tidak enak hati buat kuceritakan. Tapi rasanya ini penting buat informasi dan kewaspadaan kita bersama.

Jadi begini. Hari Kamis lalu, temanku, Jose (Joko Seto) pergi ke kampus. Ia kesana di tengah malam hari sendirian. Kira-kira waktu itu sudah pukul 22.00 wib, kebetulan anak-anak yang kuliah malam sudah pulang semua. Rencananya ia mau mengambil Hp-nya yang ketinggalan di ruang 3.05 seusai UTS. Maklum, hp-nya ketinggalan sebab setelah UTS dia buru-buru pulang karena lupa kucingnya waktu itu belum dikasih makan.

Nah, sampainya di samping ruang 3.05, ia mendengar suara yang memanggil namanya. Suasananya sedikit menegangkan. Maklum, malam itu malam Jumat Kliwon dan dalam kondisi yang lumayan sepi. Lampu-lampu kampus pun sudah banyak yang dimatikan.Tapi Jose bersikap biasa saja.

Sampai kemudian hal yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup itu terjadi. Ia mendekati sumber suara itu dan mulai mendekati pintu masuk ruang 3.05. Saat kaki kanannya melangkah, bulu kuduknya berdiri. Ia agak panik, tetapi tetap menunjukan kesan kalau semua baik-baik saja.

Lalu ia membuka pintu. Dan kamu tahu, teman-teman? Pintunya terkunci. Padahal sebelumnya ada suara yang memanggilnya. Kenceng lagi. Ia pun semakin panik dan buru-buru pergi ke lantai 1 untuk meminta bantuan OB. Ia pikir, jika ke lantai 1 semuanya bisa normal kembali. Sampai di depan tangga turun ke lantai 2, suara itu kembali memanggilnya.

Jose bingung sekaligus makin merinding. Tapi dengan sisa keberanian, ia dekati suara itu. Sumber suara itu, setelah didekati, terhenti lagi di ruang 3.04. Dan apa yang terjadi? ruangannya terkunci lagi. Ia tak bisa masuk dan melacak muasal suara itu.

Ia panik. Lalu ia memutuskan balik ke kosnya di kureksari, Waru. Ia jalan kaki menusuri tangga kampus. Sampai di lantai 2 ia kaget. Suara itu lagi-lagi memanggilnya.

“Jos.. Jose.. Berhenti” suara itu kembali muncul dengan volume yang makin keras.

Jose berhenti. Ia clingak-clinguk dan ketakutan. Sembari pelan-pelan menengok kebelakang, ia berdzikir tanpa henti. Tangannya gemetar. Dan betapa terkejutnya ia, sosok itu menampakkan dirinya.

Bajunya putih, lusuh dan agak bau. Tetapi wajahnya samar. Sosok itu kian mendekat. Semakin dekat.

“Hei!” kata sosok itu.

Jose diam tak berkutik.

“Kamu kemana saja. Aku mau tanya sesuatu” katanya.

Jose dengan keringat dingin lalu benar-benar melihat sosok itu. Dan lagi-lagi ia tak menyangka hal itu akan terjadi di hidupnya.

"Kun...kun.. Kunty...!!" Jose berbicara dengan gagap, lidahnya menjadi kelu dan kaku.

“Kunta-kunty !! Aku kenty woe..!! Minggu depan acara workshop jurnalistik  gimana?” ungkap sosok itu, yang setelah diteliti agak lama adalah teman satu organisasi yaitu Kenty, ia ternyata belum mandi sejak tiga hari yang lalu.

Jose pun menjelaskan bahwa acara Workshop Jurnalistik akan dilaksanakan 6 Mei 2018 di ruang 3.05 Multifunction Hall Lt.3 STIE Mahardhika Surabaya pukul 10.00-15.00 WIB.

Di sana akan ada pembicara Kepala Kompartemen Metropolis Jawapos (Doan Widhiandono) beliau juga seorang penulis Oleh-Oleh Jurnalis, Catatan Traveling di 20 kota pada 11 negara yang akan berbagi ilmu tentang:
1). Kiat-kita bijak bermedia di era millenial.
2). Citizen Of Journalism
3). Literasi media massa.
Dan juga Kepala Biro NET TV Jatim (Mustika Muhammad) yang akan berbagi ilmu tentang Jurnalistik Televisi.

HTM Acara tersebut hanya 50K/Peserta. Yang akan mendapatkan benefit berupa;
1). Sertifikat.
2). Makan Siang.
3). Snack.
4). Seminar Kit
5). Ilmu yang bermanfaat.

Dan bagi yang mau mendaftar cukup registrasi via WA dengan format: [ Workshop_Nama_Instansi/kampus_Email_No.Hp ] ke nomor 0821-3269-1460 (Kenty). Pembayaran ke no. Rek.216-062-7584 (BCA) an.Lasmini.

Buruan daftar pemirsa !! Karena kuota terbatas !!

Minggu, 25 Februari 2018

Berkarya Untuk Bangsa dengan Aksi Nyata

Berkarya Untuk Bangsa dengan Aksi Nyata

[ JJB Ke #17]

“Kalau pemuda sudah berumur 21,22 sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa... Pemuda yang begini baiknya digunduli saja kepalanya... Revolusi belum selesai”- Bung Karno pidato HUT Proklamasi, 1949

Sumber Foto: kickandy.com


Bertepatan dengan hari raya waisak, jumat (16/2) sepekan yang lalu, Metro TV kembali menayangkan program Kick Andy. Program tersebut bertajuk “Aku Pasti Sukses”, tayangan yang begitu menarik untuk pemuda-pemuda yang mendambakan hal tersebut seperti saya. Kali ini Kick Andy ingin berbagi kisah inspiratif dengan mengundang anak-anak muda lulusan Politeknik yang punya karya luar biasa. Untuk menjadi tamu om Kick Andy dalam programnya tentu bukan sembarang pemuda yang diundang. Pemuda yang saya maksud adalah mereka yang hidupnya tidak terlalu begitu percaya dengan filosofi hidup “Biarkan hidup seperti air yang mengalir” sekali lagi tidak. Atau dengan kata lain pemuda yang normal-normal saja, punya standar hidup yang linier dan tidak melakukan sesuatu hal yang revolusioner juga. Mereka bukan itu, mereka adalah orang-orang special yang “behid the scene” kehidupanya penuh perjuangan yang luar biasa hingga menjadi aktor di balik kesuksesannya seperti sekarang ini.

Sebetulnya saya sendiri tidak melihat tayangannya secara langsung melalui channel tv. Saya hanya melihat lewat siaran ulang di website m.metrotvnews.com/kick-andy, karena baru dapat kabar dari internet di hari minggunya. Karena tertarik dengan tema yang diangkat, saya pun menonton videonya sampai selesai. Kick Andy saat itu mengundang empat orang dalam acaranya yaitu Rido Nurul Adityawan, Taufik Hidayat, Agur Yake Mulia dan Tiyo Avianto. Hadir juga dalam acaranya menteri Menristekdikti bapak M.Nasir. Ke empat inspirator Kick Andy tersebut punya spesifikasi dan cerita hidup yang berbeda-beda.

Inpirator pertama namanya Nurul Adityawan dengan karya berupa usaha bisnis kuliner spesialis ayam penyet. Dia adalah lulusan Politeknik Negeri semarang. Di usianya yang masih tergolong muda ia sudah mampu mendirikan franchise dengan jumlah total ada sekitar 640 gerai yang tersebar tidak hanya di Indonesia namun juga di beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Taiwan dan Hongkong.

Selanjutnya yaitu Taufik Hidayat. Pemuda berkacamata ini adalah pengusaha jamur yang sukses di Usia yang tergolong masih muda. Dia lulusan D3 Politeknik Negeri Bandung dan memutuskan untuk merintis bisnis jamur setelah sebelumya bekerja di perusahaan otomotif terkenal di Jakarta. Selain itu kang taufik ini juga mendirikan sekolah alam untuk para petani dan pemuda putus sekolah di desanya. Sekolah alam ini berisi penyuluhan mengenai budidaya jamur dan sayur-sayuran lain. Pembinaan ini dilakukan secara sukarela dan gratis. Dengan usahanya ini dia mampu mengangkat derajat orang tua dan keluarganya.

Inspirator ke-tiga adalah Agur Yake Mulia (22 tahun). Dia adalah pendiri Sekolah Robot Rotobot dan juga pengajar ekskul di sekolah-sekolah di Klaten, Solo dan Jogja. Sejak masih sekolah SMK Agur sudah menekuni bakatnya dan sempat menjuarai berbagai perlombaan bikin robot. Dengan prestasinya itu dia akhirnya bisa kuliah dengan mendapat beasiswa bidik misi. Luar biasanya, sejak enam bulan sekolah robotnya didirikan siswanya sudah mampu memenangkan kompetisi robotic internasional.

Terakhir ada mas Tiyo Avianto yang merupakan seorang technopreneur di bidang IT dan IoT (Internet Of Things). Dia adalah salah satu pemuda penggagas dan pengembang teknologi Ibeacon di Indonesia untuk kebutuhan Industri. FYI iBeacon adalah salah satu protokol komunikasi untuk internet of things yang dikeluarkan oleh Apple, Inc (Wikipedia). Karyanya tersebut berupa alat untuk mengefektifkan presensi di sebuah perusahaan dengan karyawan yang banyak. Alat ini sudah didistribusikan secara masal tidak hanya didalam negeri tetapi juga di beberapa negara seperti Jepang dan lain-lain.

Belajar dari mereka, kita jadi tahu bahwa SUKSES itu tak harus jadi PNS. Nurul, Taufik, Agur dan Tiyo adalah bukti bahwa sebuah perjuangan dan proses tak akan menghianati sebuah hasil. Untuk menuju tangga kesuksesan diperlukan perjuangan yang teramat panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan saja. Karena mie instan pun sebelum kita makan, kita butuh proses berupa memasaknya terlebih dahulu lalu setelah itu bisa kita sajikan dalam sebuah mangkok. Bener nggak? Jadi semua itu tak benar-benar secara instan.

Tentunya semua itu harus dibuktikan dalam aksi nyata berkarya. Banyak orang yang mendabakan sebuah kesuksesan namun masih terhalang oleh ketidak mampuan untuk berbuat aksi nyata. Para inspirator di program Kick Andy di atas dapat kita jadikan inspirasi untuk terus berproses dan berkembang. Namun, walaupun begitu saya pribadi tidak ingin jadi mereka. Suatu saat saya pasti punya cara sendiri untuk sukses yang bahkan lebih dari mereka. Bukan karena sombong, tetapi untuk memotivasi diri ini agar punya standart tinggi dan tak puas hanya menjadi orang rata-rata saja. Semoga saja kita bukan termasuk pemuda-pemuda yang akan “digunduli” oleh Bung Karno dalam pidatonya diatas hehe.

25 Februari 2018 || Budi Setiawan