Tampilkan postingan dengan label cerita santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita santri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2019

Memaknai Kata-kata

[ JJB ke #25 ]

Sumber: Foto Pribadi
”Kata-kata”, sepertinya memang terdengar sepele.Tapi ternyata kata-kata yang mengandung inspirasi kebaikan mampu mengubah cara pandang dan perilaku seseorang, bahkan orang-orang disekitar kita. Kata-kata seakan punya kekuatan sendiri yang mampu membakar semangat, memunculkan emosi positif serta memberi kedamaian dalam diri.

Terkadang kata-kata tersebut sedikit banyak ada yang mampu menyentuh hati. Makjleb katanya, jika suatu kata-kata mampu menggetarkan hatinya. Maka setelah itu tak jarang kita termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lewat sentuhan kata-kata bijak tersebut. Dan selanjutnya orang-orang yang termotivasi dengan kata-kata tersebut punya dorongan kuat untuk menerapkan dalam sebuah aksi nyata.

Sebut saja kata-kata dari Hos.Cokroaminoto, Bung Karno, Bung Tomo dan sejumlah tokoh-tokoh besar kemerdekaan lainnya. Mereka telah mampu memotivasi dan mempengaruhi Rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan ditangan penjajah dengan kata-katanya.
Kalau kita lihat belakangan ini, kata-kata menjadi semacam kewajiban bagi sebagaian warganet dalam bermedia sosial. Mereka menyebutnya dengan nama “caption”. Biasanya orang memberi caption dari status Ig, Facebook, Instastory dan lain-lain dengan kata-kata bijak dari tokoh-tokoh terkenal, ayat suci, hadist, ataupun dari pemikirannya sendiri.

Bahkan, dalam dunia percintaanpun tak luput dari namanya kata-kata. Padahal kata si “Doi” cinta itu tak perlu dijelaskan namun cukup dirasakan. Memang benar sih, namun tanpa adanya pengungkapan akan cinta kita pada seseorang, apakah kita yakin dia akan mengerti maksud kita hanya lewat kode-kode saja? Saya rasa cinta pun memang juga harus butuh kata-kata yang bertindak sebagai penerjemah dari bahasa hati kita.

Akan tetapi, acapkali kita tidak betul-betul memahami apa yang sebenarnya sudah kita tulis dan posting di sosmed akan kata-kata bijak itu. Bisa jadi itu disebabkan kita menuliskannya hanya karena ego semata. Atau lebih parahnya agar kita terlihat lebih berin(telek)tual daripa yang lain. Ah, saya rasa itu terlalu rendahan. Meskipun saya pribadi terkadang juga sering khilaf. Ya, semoga saja setelah ini kita bisa menata niat menjadi lebih baik Amin.

Memaknai kata-kata tidak hanya sebatas memahami apa maksud dari kata-kata bijak tersebut. Akan tetapi lebih dari itu, kita harus menerimanya dengan cara mau mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari sesuai kebaikan apa yang diajarkan dan terkandung dalam kata-kata bijak itu.

Makna sendiri adalah arti atau maksud yang tersimpan dari suatu kata. Artinya, makna dengan kata-katanya sangat bertautan dan saling menyatu. Tjiptadi (1984:19) menyebutkan bahwa jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kata tidak akan memperoleh makna dari kata itu.

Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, kita dulu pernah diajarkan beberapa makna kata seperti makna denotatif, makna konotatif, makna leksikal dan lain-lain. Masih ingatkah? Kalau masih ingat Alhamdulillah, kalau sudah lupa bisa jadi terlalu banyak mikirin kenangan dimasa lalu kali ya. Hehe. Yuk, kita coba buka lagi bukunya atau cari tahu lewat google juga boleh biar ingat kembali ilmunya.

Nah, dengan itu kita sedikit punya senjata yang bisa digunakan untuk menafsirkan sebuah kata-kata. Dalam memaknai kata-kata yang terpenting menurut hemat sayaada dua; Pertama, kita harus cari tahu arti dan makna sebenarnya dari kata-kata tersebut. Kedua, kita harus mau menerima kebenaran dari kata-kata bijak tersebut yang sudah jelas kebenarannya dengan cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sidoarjo, 03 Februari 2019 || Budi Setiawan



Sabtu, 10 November 2018

“Merasa Jatuh Cinta, Bolehkah?”


JJB ke #22

Sumber: Foto Pribadi

“Cinta itu berlebihan dalam kecenderungannya tanpa berharap mendapatkan sesuatu. Cinta itu kegelisahan dalam hati karena rasa jatuh cinta pada kekasih,” Begitu kata Junaid Albaghdadi, seorang ulama sufi yang dulu pernah hidup di Baghdad, Irak. Ketika kita dihadapkan pada suatu kegelisahan dalam hati, tiba-tiba mulut kita susah ngomong lalu tangan dan kaki kita gemeteran ketika tepat berada di depan cinta. Kemudian, senyum-senyum sendiri saat melihatnya dari jauh maka kamu bisa menyebutnya dengan nama “jatuh cinta.” Soo Don’t panic, it’s not some kind of sickness, therefore no need to call a doctor. Jangan panik, karena ia bukan sebuah dosa. Setidaknya ia belum tentu jadi sebuah dosa. 

Semua orang pernah merasakan cinta, cinta adalah fitrah dan indikasi kedewasaan. Bila kamu sudah merasakan jatuh cinta, saya ucapkan selamat! Karena itu tanda kamu normal dan baik-baik saja. Sebagai lelaki dan wanita normal, sudah menjadi kewajaran rasa cinta muncul diantara keduanya. Apalagi mereka berinteraksi dalam waktu yang lama. Terjadinya interaksi itu mungkin mereka satu kampus, satu kantor, satu pengajian, satu organisasi, atau segala “satu” yang lain.

Namun, bukan berarti ketika Allah menganugrahkan rasa cinta sebagai fitrah kepada manusia, lantas kita bebas mengeskpresikannya sesuai kehendak kita, sesuai apa pun yang kita inginkan. Ada masanya, ada tata caranya, dan ada aturannya. Karena itulah agama Islam diturunkan oleh Allah. Supaya kita tetap menjadi manusia yang mengekspresikan cinta sesuai dengan aturan-Nya.
Nah, kembali ke topik. Apakah jatuh cinta itu boleh. Dari berbagai analisa dan sudut pandang tentang cinta yang saya dapatkan ternyata jatuh cinta itu adalah anugrah bukan musibah.

“Tapi kenapa sebagian orang bersedih, merasa kehilangan, dan galau berkepanjangan karena jatuh cinta?”

Orang bersedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan, merasa kehilangan karena si doi lebih memilih menikah dengan cowok lain, dan galau berkepanjangan karena si cowok meminta putus. Itu semua terjadi karena harapan. Semakin tinggi harapan kita pada seseorang pun semakin sakit ketika kita tiba-tiba terjatuh. Kita boleh merasa optimis ketika jatung tiba-tiba berdetak lebih kencang saat melihat wanita cantik nan anggun di depan kita lalu otak tiba-tiba berkomentar “Aku harus bisa mendapatkannya” tapi jangan lupa izin dulu sama yang memilikinya. Izin sama Allah lewat Doa yang di sana kita selipkan namanya dan lewat  walinya jika kita sudah benar-benar yakin untuk menghitbahnya. Nggak mungkin kan, saat kita suka dan menginginkan hp  iPhone XS Plus series di counter hp menjadi milik kita misalnya, lantas kita langsung mengambilnya begitu saja tanpa membelinya terlebih dahulu? Yang ada malah kita babak belur karena dianggap maling dan menjadi sasaran amukan masa.

Begitulah cinta. Saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang maka saat itu pula kita harus berucap “Bismillah aku mencintaimu”. Karena segala cinta hanyalah milik Allah maka saat kita ingin memilikinya kita juga harus izin kepada pemilik-Nya. Dan hanyalah Allah yang berhak memutuskan apakah kita berhak untuk mendapatkan hatinya kemudian menghalalkannya untuk menyempurnakan agamanya atukah kita hanya akan menjadi tamu undangan saat dipesta pernikahannya. Semua atas kehendak Allah, kita hanya perlu berikhtiar dan berdoa untuk mendapatkan yang terbaik. Selebihnya serahkan kepada Allah sang pemilik cinta dari segala cinta dimuka bumi ini.

Sumber: Foto Pribadi

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan meras tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS.Ar-Rum:21)

Sidoarjo, 10 November 2018 || Budi Setiawan

Jumat, 07 Juli 2017

Hajat Penggantian Nama Jurnal

Hajat Penggantian Nama Jurnal

[ JJB: Jurnal Jomblo Berprinsip ke#13]

     Sumber foto:http://goowes.co/2016/10/27/


Sebulan lebih blog ini tak tersentuh tangan saya. Saya merasa menjadi kesatria yang kalah di medan pertempuran sengit dengan komitmen saya yang saya tulis dijurnal sebelumnya. Saya berjanji pada diri sendiri akan rutin menulis jurnal diblog ini paling tidak seminggu sekali. Namun pada kenyataannnya lebih dari sebulan blok ini nyaris tak saya sentuh. Nggak kebayangkan andaikan blog ini diibaratkan cewek dan sudah satu bulan lebih saya cuekin, pastilah sudah berpaling ke lain hati he.

Dijurnal ke#13 ini alhamdulillah saya seperti mendapatkan sebuah wangsit (baca:ilham) untuk mengubah judul jurnal saya diblog ini. Yang seperti diketahui bahwa postingan-postingan sebelumnya saya memberi judul jurnal dengan nama JJM (Jurnal Jomblo Mulia) yang nanti akan saya rubah menjadi JJB (Jurnal Jomblo Berprinsip). Penggantian nama ini bukan tanpa alasan. Salah satu alasan yang mendasarinya adalah saya rasa terlalu naif jika saya menyebut diri sebagai jomblo mulia. Karena memang pada kenyataannya terlalu jauh dari apa yag dikatakan mulia. Pastinya terlepas dari makna dari jomblo yang pada hakikatnya memang mulia seperti yang telah saya ulas di jurnal sebelumnya yang berjudul Jomblo Itu Bukan AIB . Ini mungkin sebagai muhasabah diri saya selama ini. Akhir-akhir ini saya akui banyak melakukan kekhilafan dan dosa yang membuat hati saya menjadi gundah gulana. Kosa kata "gundah gulana" ternyata tak hanya bersandingan dengan masalah cinta saja. Tapi dosa-dosa yang kita lakukan juga akan menggelapkan hati kita sekaligus mebuat hati ini menjadi gelisah.

Saya sepertinya telah terjebak dalam lingkaran setan yang berkepanjangan. Hingga berkali-kali mengulangi dosa yang serupa. Tidak perlu saya publikasikan dosa seperti apa yang telah saya lakukan hingga saya menyesalinya seperti ini. Biarlah ini menjadi rasahasia antara aku dengan Allah SWT saja, mungkin dengan beberapa teman dekatku saja. JJB (Jurnal Jomblo Berprinsip) ini mungkin lebih tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini. Yang memang pada awalnya saya memutuskan berstatus single (baca: jomblo) itu karena sebuah prinsip bukan nasib. Ya mudah-mudahan saya tidak gampang khilaf untuk merubah status saya ini terkecuali saya memang sudah benar-benar siap untuk mengakhiri ke-jomblo-an saya. Dan yang paling penting Allah telah mempertemukan dengan bidadari pilihanNya untuk saya. hehe. Sudahlah.. muhasabah kok malah jadi ngomongin jodoh haduh Ya Allah maafkan hamba khilaf.. Didalam jurnal ini saya berkeinginan untuk hanya menulis dengan berdasarkan apa yang telah saya alami dengan cara 3M (Membaca, merasa dan melakukan) untuk kemudian menulisnya based on true story.

Pagi tadi ketika saya membaca beberapa ayat Alqur'an saya menemukan salah satu ayat dalam surat Ar-Ra'd: 11 yang kurang lebih artinya seperti ini "Sesungguhnya Allah tidak merubah apa-apa/ keadaan yang ada pada suatu kaum (ma biqoumin), hingga mereka mengubah apa-apa/ keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka (ma bi anfusihim)". Hati saya terketuk untuk menyadari bahwa rutinitas dosa-dosa yang telah saya lakukan selama ini hingga yang semakin menjauhkan dari kata "mulia" itu karena sikap saya yang cenderung enggan merubah diri (jiwa) saya sendiri. merubah kebiasaan buruk yang selama ini saya lakukan. Saya sungguh takut kalau mendapatkan lebel sebagai orang yang munafik. Saya ingin jujur terutama kepada diri saya sendiri bahwa saya ini naif dan banyak dosa. Hingga saya berharap saya bisa menemukan teman-teman yang busa mengingatkan atas kesalahan yang saya perbuat, bukan hanya memuji kebaikan saya. Teman-teman yang saling menguatkan untuk merubah diri ini keluar dari apa yang disebut "lingkaran setan". Tapi saya begitu yakin bahwa hidup saya dimasa depan adalah yang saya pikirkan dan lakukan saat ini, bukan berdasar apa yang saya pikir dan lakukan dimasa lalu. Saya ingin hari ini lebih baik dari hari kemaren. Karena saya sama sekali tidak ingin menjadi orang yang merugi dikemudian hari.

8 Juli 2017 | Budi Setiawan

Jumat, 26 Mei 2017

Cerita Dari Negeri Santri



Cerita Dari Negeri Santri

[JJM : Ke #11]

Suasana di kota Santri
Asyik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda-mudi berbusana rapi
Menyandang Kitab Suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang-pergi mengaji .
(lirik “Kota santri”- Nasidaria Qosidah)

Ini pondok putra tampak depan


Pesantren itu laksana Penjara Suci, memang benar. Pesantren seakan-akan menjadi penjara sekaligus surga bagi para pencari ilmu khusunya ilmu agama. Di sana terdapat gerbang laksana benteng kokoh, di mana gembok besinya seperti belenggu kebebasan bagi para penghuninya. “Pesantren” pun menyimpan berjuta kisah yang indah , pun di sana ada ukiran kenangan pahit, manis dan unik yang menurut saya sangat menarik untuk digubah dalam bingkai karya pena.

Asrama dan ruang kelas pondok putra

Di JJM (Jurnal Jomblo Mulia) yang ke 11 ini saya ingin berbagi cerita dan pengalaman tentang apa yang pernah kurasa, kualami dan kujalani. Betapa pernak-pernik perjalanan dipesantren tersebut terlalu sayang untuk hanya dikenang, namun harapannya semoga bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi saya pribadi khususnya dengan mengingat ingat perjalanan masa lampau sebagai acuan untuk melangkah kedepan. Karena seperti yang kita kita ketahui bersama ada ungkapan Experience Is The Best Teacher bahwa “Pengalaman adalah guru terbaik”. Adapun jika teman-teman pembaca mendapatkan kemanfaatan dari tulisan saya, ya alhamdulillah. Paling tidak akan sedikit memberikan jawaban dari pertanyaan: “Bagaimana sih, sebenarnya kehidupan dipondok pesantren itu?”.

Pembacaan Rutinan Maulid Simtudurror


Bagi saya pribadi, menghabiskan sebagian waktu dipondok menjadi sangat penting. Ada banyak sekali hal-hal yang tidak didapat ketika tak pernah mondok. Maka dari itu jika ingin merasakan bagaimana serunya kehidupan dipondok, silahkan mondok dulu. Itu merupakan satu-satunya cara. Kalau hanya dengan membaca buku-buku novel seperti negeri 5 menara karya Ahmad Fuadi atau film mengenai kehidupan dipondok itu saya rasa belum cukup. Tak akan bisa membuat kita total dalam memaknai sensasi saat-saat dipesantren. Ada satu alternatif seadainya teman-teman pembaca ingin merasakan bagaimana nuansa ngaji dipesantren yaitu dengan mengikuti kegiatan ngaji posonan. Mungkin kegiatan ini agak terdengar asing ditelinga kita. Karena memang kegiatan yang sering dilakukan di masyarakat umum adalah seperti tadarrus Al-qur’an, Kultum, ataupun kajian-kajian di bulan Ramadhan. Lalu apa itu ngaji posonan ? Ngaji posonan atau sering disebut ngaji kilatan adalah istilah jawa dalam menyebut tradisi pengajian di sebagian pesantren-pesantren di Indonesia yang dilaksanakan di bulan Ramadhan. Biasanya dilaksanakan kurang lebih 15-20 hari dibulan Ramadhan. Seperti apa keseruannya ngaji posoan di bulan Ramadhan? Jawabannya mungkin bisa dicoba sendiri-sendiri dulu ya, dan silahkan ditafsirkan sendiri-sendiri. Hehe. (Terkait pembahasan ngaji posonan Insya’Allah bisa saya tuliskan dijurnal berikutnya geh).

Suasana ngaji kitab kuning

Oke, kita lanjut (kembali ke laptop) he. Saya sendiri pernah mengenyam pendidikan dipondok pesantren tapi tidak lama hanya tiga tahunan di Kota ponorogo. Jika kita berbicara ponpes di Ponorogo yang maka yang paling terkenal adalah Pondok Modern Gontor yang pernah salah satu santrinya mengabadikan kisah dipondok Gontor itu kedalam sebuah novel yang menjadi Best Seller. Yaitu novel Negeri 5 menara karya A.fuadi. Tapi pondokku bukanlah di Gontor tersebut, pondok saya adalah pondok salaf dimana sistem pengajarannya menganut sistem tradisional. Pondok pesantren yang mengkaji “Kitab-kitab kuning” (kitab kuno). Banyak hal yang mengesankan ketika mondok dipesantren salaf salah satunya adalah hubungan antara kyai dengan santri cukup dekat secara emosional. Kyai terjun langsung  dalam menangani para santrinya. Yang menjadi ciri khas pesantren salaf yaitu sistem pengajarannya menggunakan arab pegon, dimana arab pegon tersebut sebagai metode dalam memaknai kitab yang diajarkan dengan tulisan arab tapi menggunakan bahasa jawa. Kebetulan pondok saya dulu adalah pondok yang memadukan sistem pengajaran tradisional dengan sistem modern dengan adanya sekolah umum di lingkup pesantrennya seperti adanya sekolah MTs (setara dengan SMP) dan MA (setara dengan SMA). Sehingga saat saya mondok dipesantren tersebut tidak hanya ilmu agama yang diajarkan tapi ilmu umum juga tidak ketinggalan.

Asyiknya makan bersama santri

Yang menyenangkan dari Santri di pondok adalah sikap kekeluargaannya. Teman se-pondok bagiku adalah sebuah keluarga besar. Karena orang tua dari para santri bertempat tinggal jauh dari pondok bahkan ada beberapa santri yang berasal dari luar pulau, maka teman-teman santri yang dirasa lebih dekat menjadi keluarga baru dipondok. Jika ada yang sakit maka teman sekamar yang mengurusnya. Saat kehabisan bekal pinjam teman yang punya, saat ada makanan dimakan bersama-sama (Senampan bersama) dan saat ada masalah kita saling curhat untuk saling memberi solusi. Indah nian jika mengingat masa-masa itu yang sulit sekali saya dapatkan saat sudah mengenyam pendidikan di bangku kuliah saat ini. Untuk meringankan beban orang tua dulu ketika mondok saya nderek ndalem (bekerja jadi abdi ndalem dirumahnya Kyai) dan alhamdulillah selama mondok saya dibebaskan dari tanggungan SPP baik yang sekolah umum maupun SPP pondok. Bahkan biaya makan dan asrama pun saya ditanggung ndalem (keluarga kyai). Saya hanya mengeluarkan biaya untuk keperluan pribadi saja seperti, kitab-kitab, buku, peralatan mandi dll. Dari situ saya bisa sedikit meringankan beban Orang Tua. Di ndalem bu Nyei keseharianku  adalah jadi petugas kebersihan baik membersihkan ndalem bu Nyei dan juga mengambil sampah-sampah di halaman pondok putri. F.Y.I hanya santri putra yang ikut ndalem seperti aku sajalah yang boleh masuk dipondok putri. Sebenernya awal-awalnya malu untuk mengambil sampah itu tapi lama-lama jadi biasa saja. Terkadang ada rasa senang juga saat papasan dengan dengan santriwati yang jadi pujaan hati hehehe. Walaupun hanya sebatas saling tebar senyum dan curi pandang dikit tapi senengnya bukan main. Eiiits.. ini pun juga saya lakukan dengan ekstra hati-hati. Kalau sampai Ibu Nyai atau Abah tahu bisa terjadi musibah besar hehe. (Jangan ditiru ya).




Mungkin terkesan sering saya mempromosikan pondok dan kegiatan-kegiatan santrinya di media sosial. Ya, saya memang menuliskannya dalam rangka ikut mengkampanyekan gerakan “ayo mondok” yang dicanangkan PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Seperti yang diutarakan Katib Syuriyah PCNU Jember, Ustadz MN.Harisudin, gerakan Ayo Mondok merupakan langkah positif dalam rangka mencetak generasi bangsa yang cerdas sekaligus berakhlak mulia. Dan pastinya kita berharap agar orang-orang mau menengok pesantren sebagai lembaga pendidikan alternatif ditengah zaman “kekinian” yang begitu tak karuan saat ini. Saya pun begitu tertampar ketika membaca wejangan dari KH.Abdullah Kafabihi Mahrus (Pengasuh pondok Lirboyo kediri) yang menyebutkan “alumni pesantren yang tidak peduli dengan pesantren tidak lebih baik dari yang tidak alumni tapi peduli dengan pesantren”. Lewat membagikan kesan-kesan dari nilai kebaikan-kebaikan yang pernah saya jumpai dipondok ini semoga menjadi sedikit usaha untuk peduli terhadap pusat kaderisasi da’i-da’i itu sendiri. Amiin.

Ziarah Wali di Madura dengan teman seperjuangan

Banyak hal kenapa Orang Tua penting memondokkan anaknya di pesantren. Menurut pengalaman penulis sendiri ada beberapa hal yang dirasa menjadi alasan kenapa mondok itu penting. Pertama dipondok pesantren terutama pondok salaf (Pondok Tradisional NU) memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari dipesantren salaf bisa dipertanggung jawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua diperkenalkannya konsep barokah. Dalam kehidupan di pesantren barokah ini menjadi hal yang sangat penting bagi semua santri. Seringkali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapat barokah kyainya maka akan sia-sia ilmunya. Barokah sendiri mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah SWT (ziyadatul khoir). Artinya setiap waktu semakin bertambah baik. Ketiga dipesantren juga diajarkan bagaimana bersosial. Seperti yang telah saya ceritakan diawal bahwa kebersamaan di pesantren itu sangat erat diibaratkan penghuni pesantren adalah The Big Family (keluarga besar). Semisal bagaimana santri makan bersama dalam sebuah nampan. Dan saling saling bahu membahu jika teman yang lain terkena masalah atau musibah semisal sakit. Dari situ bisa kita lihat bahwa kebersamaan menjadi hal penting kaitannya dengan pendidikan sosial. Kelima adalah Akhlak. Seseorang santri yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan.
Para pengasuh pondok (No.2 dari kiri adalah Kyai Zami' Khudz Dza wali Syam No.3 adalah Kyai Ayyub Ahdiyan Syam

Ini hanyalah sedikit pengalaman yang pernah penulis alami. Masih banyak pengalaman dan hal-hal lain yang menjadi jawaban bahwa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. InsyaAllah jika saya nanti dikaruniai anak maka saya berniat untuk memondokkannya. Tentunya setelah saya dipertemukan jodoh saya dulu,he.

Sekian.

26 Mei 2017 | Budi Setiawan

 Foto-foto lain:




Habis ngaji ya ngrumpi bahas Agama, negara kemudian santri putri hehe
Sepak bola ala santri

Ziarah wali dengan Romo Kyai Ayyub
Pelantikan pengurus OSIPP (Organisasi Santri Intra Pondok Pesantren)