Tampilkan postingan dengan label literasi lawan pandemi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi lawan pandemi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2020

MENABUNG RINDU UNTUK INDONESIAKU


[ JJB Ke #35, Series: #LiterasiLawanPandemi ]

Jangan dulu mudik lebaran
Tunggu sampai semua aman
Walau rindu kampung halaman
Bulan Ramadhan di rumah aja...
(Lirik lagu “Jangan Mudik”-Radja)

Sumber Gambar: Ayobandung.com


Adalah sebuah musik, salah satu dari sekian hal yang bisa menjadi obat penenang untuk memperbaiki suasana hati. Setidaknya itulah yang diungkapkan oleh para ilmuwan dari University of Missouri, Kolombia. Sejalan dengan itu, beberapa musisi Indonesiapun menciptakan lagu yang berisi himbauan untuk tidak mudik di saat musim pandemi covid-19 ini. Sebut saja, Radja band dengan lagu “jangan mudik” nya, Harry Yamba dengan lagu “Ra Mudik Rapopo”-nya, Didi Kempot dengan lagu “Ora Bisa Mulih” dan “Ojo Mudik”-nya dan lain-lain. Tidak tanggung-tanggung, beberapa lagu tersebut bahkan sampai dicover atau dinyanyikan oleh para menteri dan pejabat negara.

Lagu tersebut tercipta bukan hanya sebagai kampanye himbauan agar masyarakat tidak mudik, tetapi juga termasuk mewakili suasana batin masyarakat Indonesia yang tidak bisa mudik lebaran sebab adanya pandemi ini. Lagu ‘Ora Biso Mulih’ misalnya, lagu ini secara lirik bisa dibilang sederhana namun sangat menyentuh sanubari setiap insan manusia yang patah hati akibat rindu keluarga di kampung halaman tapi tidak bisa pulang akibat satu dan lain hal. Musabab peraturan pemerintah yang melarang untuk mudik demi memutus mata-rantai penularan virus korona ini misalnya.

“Tapi akukan sudah rindu sama kampung halaman, rindu bunda, rindu ayah, rindu adik, rindu istri, rindu kakek, rindu nenek. Aku sudah sangat rindu dengan semua yang ada di sana, aku sudah tidak sabar ingin bertemu mereka,” begitulah ego diri dalam mencari sebuah pembenaran. Dalam hal ini, mungkin kita sepakat bahwa sebagai warga perantauan kita punya perasaan yang sama soal rindu kampung halaman. Terlebih bagi perantau yang biasanya hanya bisa mudik setahun sekali ketika libur hari raya,  saat ini harus ditunda sebab adanya pandemi. Ya, mau tidak mau kita harus rela “menabung rindu” dulu untuk sementara waktu.

Menabung rindu sampai semua aman. Sebab, rasa cinta kita terhadap keluarga tidak mesti dimanifestasikan dengan kita bertemu saat lebaran saja. Bila bertemu justru akan memicu penyebaran penyakit ke orang tercinta, apakah itu masih layak disebut cinta? Saya rasa jawabannya adalah tidak. Toh, jika nanti semua sudah aman kita masih bisa untuk pulang ke kampung halaman kan? Tidak mudik bukan berarti kita tidak sayang dengan keluarga, dengan tidak mudik kita tunjukkan rasa sayang dengan cara yang berbeda.

Gambar: Foto keluarga di kampung halaman.


Beberapa hari yang lalu sempat terjadi viral di media sosial sebuah postingan yang menunjukkan  keramain di tengah pandemi. Hal tersebut menuai kecaman dan kontroversi di jagad maya. Sebab jelas-jelas dengan adanya keramaian itu beberapa masyarakat dinilai tak mengindahkan anjuran untuk physical distancing atau menjaga jarak saat pemberlakuan PSBB ini. Sebut saja contohnya padatnya antrian penumpang maskapai di Bandara Soekarno Hatta (13/05/2020), padatnya antrian penumpang kapal di Gilimanuk (17/05/2020) dan masih ada beberapa lagi. Hal ini sudah pasti menimbulkan kekecewaan masyarakat yang sampai saat ini masih konsisten untuk tetap mengindahkan anjuran physical distancing. Masyarakat yang masih optimis bahwa pandemi ini dapat segera berlalu jika kita mau bersatu untuk bersama-sama melawannya.

Hastag #IndonesiaTerserah dan #TerserahIndonesia pun menyusul viral di dunia maya. Hal ini ditengarai dengan kekecewaan para tenaga medis yang kita tahu mereka adalah barisan garda terdepan dalam penanganan korban covid-19 ini. Menurut saya wajar mereka kecewa dan menunjukkan kekesalannya di dunia maya akibat ulah warga yang tak patuh terhadap peraturan PSBB. Pun dengan imbas kebijakan pemerintah yang membuka kembali mode transportasi umum di saat pandemi. Kendati, kebijakan itu diambil untuk menyelamatkan perekonomian dan hanya orang-orang berkebutuhan khusus saja yang diperbolehkan naik transportasi tersebut, tetap saja itu dinilai akan membuat bingung petugas di lapangan dan pemerintah daerah dalam melaksanakan aturan PSBB.

Tak hanya itu, Najwa Shihab dalam program Catatan Najwa-nya lewat unggahan di Youtube dan akun Instagram-nya juga membuat konten berjudul “Kita Tidak Sia-Sia #dirumahaja” sebagai respon terhadap keresahan masyarakat tersebut. Di dalam narasinya Najwa Shihab juga membacakan beberapa pesan dari tenaga medis yang dikirim kepadanya. Berikut adalah salah satu pesan dari seorang perawat atas nama @syafakirthe :

“Percuma kayaknya kita di sini, pakai APD selama 8 jam, menahan semuanya selama 8 jam termasuk BAK dan BAB, buka puasa terkadang jam 8 malam, sahur jam 2 pagi. Pemerintah menganjurkan jaga jarak, pakai masker dan tidak mudik tapi kalian malah mengabaikan anjuran tersebut. Jangan puji kami di dunia sosial media, tapi di dunia nyata kalian berkeliaran serta pulang kampung seolah-olah baik saja,” keluhnya.

Sebagai manusia biasa, sebenarnya sah-sah saja jika kita merasa kecewa dengan hal tersebut. Tapi itu semua itu jangan sampai melunturkan niat nan tekad kita dalam memerangi dan memutus rantai persebaran virus covid-19 ini. Seperti pesan mbak Nana dalam videonya, ”pandemi ini adalah problem yang hanya bisa ditangani secara kolektif, perlu kontribusi semua orang. Makanya perlu menyadari bahwa ini bukan hanya untuk demi sendiri saja namun juga demi orang lain. Kita melakukan ini untuk para tenaga medis yang sudah bertaruh nyawa. Untuk para karyawan yang sudah dirumahkan berminggu-minggu. Untuk para pengusaha yang terpaksa menutup usahanya dan untuk bangsa-negara yang sudah merugi sangat banyak.”

Tak ada yang sia-sia memang jika kita melakukan ini semua demi orang-orang yang kita sayangi. Tetaplah konsisten dengan jalanmu kawan. Bulatkan tekadmu, tunda mudik, tetap jalankan physical distancing, kenakan protokol kesehatan saat keluar rumah dan yang paling penting sebisa mungkin usahakan untuk #diRumahAja. Together We Can Do It! Dan bagi kaum muslim mari kita ingat sabda beliau Nabi di bawah ini:

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu”-(HR.Bukhori).

Sidoarjo, 21 Mei 2020 || Budi Setiawan



Senin, 18 Mei 2020

Bijak Bermedia, Kritis di Era Krisis


[ JJB ke #34, Series: #LiterasiLawanPandemi ]





Belakangan, sebenarnya saya sudah agak malas membicarakan soal media. Bukan sebab saya sudah nggak aktif lagi di pers mahasiswa, akan tetapi saya sudah menginjak pada tangga kecewa sebab kenapa kok justru konten-konten yang bermuatan negatif yang banyak menjadi trending belakangan ini. Sementara konten-konten yang bermuatan positif, inspiratif dan mengedukasi justru sebaliknya. Kebayang nggak sih, sebetulnya bagaimana algoritma media itu bekerja sehingga hal di itu bisa terjadi?

Tidak munafik! Saya sendiri mungkin menjadi salah satu bagian dari jutaan pemirsa pengkonsumsi konten negatif tersebut. Walaupun disatu sisi hati saya berontak menolaknya. Instagram misalnya, dari sekian banyak postingan yang bernilai positif, postingan negatif masih merajainya. Mulai dari tersebarnya berita hoax soal telur rebus obat korona, hebohnya aksi kelulusan anak SMA di Riau, pembulyan bocah penjual jalangkote, hingga goyangan sexy “mama muda” ala tik tok. Sealim-alimnya cowok kalau liat goyangan mama muda, ya pada akhirnya akan ikut goyang juga keles..!!!

Sejujurnya tulisan ini bermula ketika seorang teman mantan sesama pengurus persma dulu Wa saya dan meminta untuk share info gimana cara mendapatkan jodoh menyaring info yang sifatnya hoax. Dia merasa resah ketika di lingkungan rumahnya barusan terdengar desas-desus ada yang positif korona, akhirnya semua pada heboh bikin status a, b, c. Dan ternyata setelah diketahui beritanya itu nggak benar alias hoax. “Ngilu rasanya gigiku dengar dan bacanya mas,” sambatnya.

Oke, kita mulai pembahasannya. Dahulu kala ketika saya masih memimpin rezim UKM Jurnalistik Mahardhika pernah membuat workshop jurnalistik dengan “Bijak Bermedia, Kritis di Era Krisis”. Saat itu saudara Vais Lubis dari Redaktur Online yang mengusulkan temanya. Tema yang menurut saya waktu itu lumayan keren. Namun tempo hari saya berpikir, “sepertinya tema ini justru sangat relevan untuk kondisi krisis seperti ini ya.” Disaat terjadinya krisis akibat pandemi ini semestinya memang kita harus bisa bersikap dan berpikir kritis. Tidak hanya kritis terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat,  bagaimana menyelamatkan masalah ekonomi agar tetap bisa bertahan hidup pun dengan pemberitaan masalah korona di media.

Semua itu tak luput dari bagaimana kita untuk menyikapinya dengan cara berpikir kritis. Sehingga pada akhirnya, perilaku “bijak bermedia” lah yang akan menjadi implikasinya. Berbicara masalah kabar palsu atau hoax seputar korona, sudah ada sekitar 556 berita hoax yang beredar menurut data dari Kementerian dan Informatika. Melangsir info dari Detiknews (18 April 2020). Angka yang sungguh fantastis, itu belum termasuk ditambah data hoax yang terjadi pada bulan Mei ini. Lalu bagaimana cara kita menangkalnya?

Terdapat dua langkah yang bisa dilakukan menurut presidium Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) Harry Sufehmi. Karena  mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, upaya menangkal berita hoax itu sebenarnya sudah terdapat dalam ilmu hadis. Jadi sejak pada zaman dahulu sudah ada namanya hoax berupa hadis dhoif (bohong) sehingga akhirnya para ‘ulama membuat ilmu hadist. Dua langkah untuk mendeteksi hoax itu dasarnya simpel yaitu dengan melihat  Sanad dan Matan. Sanad adalah sumber berita dan matan adalah kontennya.

a. Perhatikan Sanad atau Sumber Beritanya
Hal pertama yang perlu kita lakukan untuk menepis info hoax seputar virus korona adalah dengan melihat sumber dari berita yang beredar tersebut. Apabila info yang kita terima itu tidak jelas sumbernya dari mana, sebaiknya kita abaikan saja informasi tersebut. Skipp ajalah, tidak perlu pusing-pusing dengan berita yang tidak jelas sumbernya.

b. Perhatikan Matan atau Kontennya

Lalu menganai Matan atau kontennya, isi dari beritanya ini kira-kira ada yang aneh nggak. Aneh di sini maksudnya adalah ketika berita itu dibaca kita spontan langsung merasa emosi, langsung marah atau gusar, merasa takut dan berlawanan dengan info yang kita dapatkan di media massa yang kredible  seperti media Tempo, Liputan6.com, Jawapos, Detik.com dan media lain yang terverifikasi oleh Dewan Pers. Maka jika begitu beritanya bisa kita anggap hoax hingga terbukti kebenarannya.

Memerangi berita hoax dan konten negatif adalah tugas semua masyarakat. Kendati berselancar di media sosial (instagram, facebook, twitter), whatshapp dan youtube menjadi suatu rutinitas kaum milenial di saat senggang tapi kita harus juga bijak dalam menyikapinya. Media sosial layaknya mimbar bebas, begitu banyaknya yang sekedar menunjukkan eksistensi diri, beropini dan bahkan sebagai tempat meluapkan emosi, kekecewaan ataupun kegembiraan. Hingga tak ada aturan baku mengenai cara berperilaku bijak di media sosial tersebut.

Syahdan, kita sendiri yang harus bisa mengontrolnnya dan membuat batasan atas perilaku bijak tersebut. Dan jangan lupa belakangan pemerintah juga membuat UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang bisa mempidanakan pelanggarnya. Terlepas dari pro dan kontra terhadap kebijakan UU ITE itu, demi kebaikan bersama ada baiknya kita juga harus memperhatikan norma-norma yang berlaku ketika sedang mengakses dan berselancar di media sosial. Sebab, masing-masing dari kita adalah “konten kreator” yang akan mempertanggungjawabkan dari postingan-postingan kita.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu informasi, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujaraat:6)

Sidoarjo, 18 Mei 2020 || Budi Setiawan





Senin, 27 April 2020

LAHIRNYA VENTILATOR KARYA ANAK BANGSA


[JJB ke #33, Series:#LiterasiLawanPandemi]

“Nilai akhir dari proses pendidikan, sejatinya terekapitulasi dari keberhasilannya menciptakan perubahan pada dirinya dan lingkungannya. Itulah fungsi daripada pendidikan yang sesungguhnya.”

-Lenang Manggala (Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia)

Benar adanya, apabila disebutkan bahwa fungsi dari pendidikan yang sesungguhnya adalah menciptakan perubahan pada diri dan lingkungannya seperti yang diungkapkan oleh mas Lenang Manggala di atas. “Agent of change” begitu kawan-kawan mahasiswa menyebutnya. Sejalan dengan hal tersebut, YPM Salman bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (UNPAD) berusaha mewujudkannya dengan aksi nyata berkarya. Terbukti pada tanggal 21 April 2020 kemaren, Ventilator portabel CPAP, Vent-I yang merupakan hasil produk kerjasama telah lolos uji produk oleh Balai Pengamanan Fasillitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Sumber Foto: Grid.id

Seperti yang telah dilangsir dilaman resminya ITB, Ventilator ini dinisiasi pengembangannya oleh Dr.Syarif Hidayat, Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) dari Kelompok Keahlian Ketenagalistrikan ITB, didukung oleh beberapa Dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantra (FTMD) dan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). Vent-I adalah alat bantu pernapasan bagi pasien yang masih dapat bernafas sendiri (jika pasien COVID-19 pada gejala klinis tahap 2), bukan diperuntukkan bagi pasien ICU. Katanya ventilator tersebut diklaim  dapat digunakan dengan mudah oleh tenaga medis.

Dengan kian banyaknya kebutuhan Ventilator untuk pasien COVID-19 di Indonesia, Vent-I ini diharapkan mampu untuk membantu mencukupi kebutuhan tersebut. Vent-I ini akan diproduksi untuk kebutuhan sosial, artinya Vent-I akan dibagikan secara gratis kepada rumah sakit yang membutuhkan. Menurut Ir.Hari Thahjono, MBA., Selaku tim Komunikasi Publik dari pengembangan Vent-I dalam rilisnya mengatakan, “Vent-I ini akan diproduksi sekitar 300-500 sesuai dengan jumlah donasi yang masuk ke Rumah Amal Salman. Produksi tahap pertama dimulai begitu lolos uji pada tanggal 21 kemaren, dan akan diproduksi melalui kerjasama dengan PT DI,” ujarnya.

Kendati di satu sisi, menurut kabar yang beredar di media, Indonesia akan mendapatkan bantuan ventilator dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tapi di sisi lain kita tidak bisa sepenuhnya menggantungkan harapan kepada negara lain. Dengan aksi nyata yang dilakukan oleh tim pengembang Vent-I di atas setidaknya akan bisa memicu dan menginspiasi para pemuda Indonesia lain agar lebih semangat dalam berkarya. Mereka dengan karyanya seakan ingin meneriakkan kepada bangsa ini dan dunia, bahwa Indonesia itu “mampu”.

Dalam wawancaranya bersama VOA (Voice Of America), Dr.Syarif Hidayat dengan semangatnya berkata, “saya memilih mati dalam keadaan berdiri, daripada mati dalam keadaan memeluk lutut”.  Artinya kurang lebih yang ingin beliau sampaikan adalah jangan sampai kita hanya pasrah dengan keadaan dan sebatas berpangku tangan menunggu keajaiban. Tapi ciptakanlah keajabaiban itu. Dengan cara apa? Dengan cara berusaha menjadi yang terbaik bagi sesama. Sebab, seperti pesan Rasulullah “Sebaik-baik manusia adalah paling yang bermanfaat bagi sesama”.

Menjadi pribadi yang bermanfaat bisa diibaratkan seperti menanam kebaikan untuk diri sendiri. Selayaknya orang yang menanam, suatu saat kita juga akan memanennya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Isra ayat 7:

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.”

Seperti yang telah kita ketahui bersama, tim medis sudah menjadi garda terdepan dalam menangani pasien covid-19. Pak Syarif dengan tim kerjasamanya sudah menciptakan ventilator karya anak bangsa. Lalu, bagaimana dengan kita? Siapkah kita menjadi barisan pahlawan covid-19 selanjutnya? Semoga saja cita-cita luhur itu tidak hanya sebatas bertengger di angan.

Sidoarjo, 27 April 2020 || Budi Setiawan

Jumat, 17 April 2020

PADASAN, RIWAYATMU KINI



[ JJB ke #31 Series; #LiterasiLawanPandemi ]

Peradaban ummat manusia abad 21 ini adalah peradaban ilmiah dan teknologi yang canggih. Dalam sejarah panjangnya, menurut Yuval Noah Harari, manusia menjadi mahkluk berperadapan melalui tiga revolusi: Kognitif, Pertanian, dan Sains. Namun, tak serta merta, kearifan lokal yang telah diajarkan para leluhur, kita lupakan atau bahkan kita musnahkan begitu saja. Jika memang demikian, sungguh kita tak meng-indah-kan kata-kata Bung Karno yakni JASMERAH (Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah).

Gambar: Padasan dari bahan plastik bekas cat tembok (foto pribadi)

“Wong jowo ora njawani” (orang jawa tapi tidak menjiwai). Pepatah jawa ini nampaknya cocok disematkan kepada orang-orang seperti saya khususnya atau siapa saja yang merasa umumnya. Yang memang secara perlahan mulai meninggalkan kearifan lokal dan budaya sendiri. Betapa tidak, hal-hal yang selama ini kita anggap kuno dan ndak ilmiah itu ternyata mulai dibutuhkan kembali disaat-saat pandemi seperti ini. Membuat “padasan” salah satunya.

Tulisan ini bermula dari kisah saya rabu pagi (15/04) kemaren saat selesai menyapu rumah lalu kemudian mengisi padasan di depan rumah dengan air. Padasan itu baru dibuat oleh kakak saya beberapa hari yang lalu dengan bahan bekas wadah cat dengan diberi kran di bawahnya. Dalam benak saya lantas timbul pertanyaan, “kenapa baru sekarang orang-orang mulai rajin mencuci tangan, kenapa baru sekarang orang buat padasan, setelah semua tersadarkan bahwa menjaga kebersihan itu sangat penting digiatkan saat musim pandemi ini?”

F.Y.I (bagi yang belum tahu), Padasan adalah tempat air dalam wadah berupa gentong atau tempayan yang umumnya terbuat dari tanah liat. Biasanya padasan ditempatkan di depan rumah. Sementara menurut KBBI, padasan adalah tempayan yang diberi lubang pancuran (tempat air wudlu).

Jauh sebelum WHO (World Health Organization) dan Menkes (Menteri Kesehatan) memberi himbauan untuk rajin mencuci tangan. Masyarakat jawa sudah terbiasa untuk mencuci tangan dan kaki sehabis kerja (yang mayoritas zaman dulu bertani, beternak, berkebun dan berdagang) dengan padasan. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah SAWAN (Sejenis Virus atau penyakit) terbawa ke rumah dan menularkan ke keluarga yang ada di rumah.

Gambar: Padasan zaman dahulu dari gentong (sumber gambar: ayojalanterus.com)

Jadi, salah besar apabila kita anggap orangtua kita terdahulu adalah orang kuno dan ndak ilmiah itu. Sebab, orang Jawa terdahulu selalu menggunakan ilmu atau ngilmu “titen” disetiap laku kehidupannya. “Titen” artinya cermat dalam menandai dan membaca makna dibalik peristiwa alam. Ngelmu titen adalah keahlian dalam melihat hubungan suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya dengan berbasis tradisi.

Menurut Dewi Sundari, seorang Praktisi Kejawen mengatakan bahwa dalam ngilmu titen, segala sesuatu yang terjadi dapat diamati. Karena tidak ada yang namanya kebetulan dalam hidup ini. “Kebiasaan mengamati, yang kita sebut sebagai othak-athik gathuk ini, sebenarnya juga diterapkan oleh ilmuwan dunia. Padahal yang diajarkan leluhur kita, sesungguhnya adalah metode pembelajaran yang dapat diterima secara ilmiah juga”. Kalau dalam konteks kekinian ngilmu titen itu kurang lebih sama halnya dengan penelitian lah. Hanya saja ngilmu titen berbasis tradisi dalam dalam tataran praktisnya.

Dulu waktu masih tinggal di desa, ketika pulang dari melayat atau dari kuburan saya sama Almarhumah ibu selalu diminta mandi dulu sebelum masuk rumah. Karena kata beliau jika tidak, nanti bisa membawa SAWAN dan menularkan ke orang rumah. Akibatnya orang yang di rumah bisa saja sakit jika kita ngeyel. Karena hal itu memang sudah di-titeni oleh orang tua kita sejak zaman dahulu. Dan ternyata menurut dokterpun sama, bahwa orang yang meninggal bisa menularkan penyakitnya. Makanya kenapa seperti yang kita ketahui bersama, pasien COVID-19 yang sudah meninggal dilakukan penanganan khusus dari petugas Rumah sakit. Mulai dari memandikan sampai menguburkannya harus dari pihak rumah sakit.

Berkaca pada narasi yang telah saya jabarkan di atas. Maka sudah sepatutnya kita lebih menghargai akan warisan leluhur kita. Sepertinya misalnya padasan, tidak mungkin itu dibuat tanpa ada guna dan manfaatnya. Tak mungkin ada bangunan yang kokoh andai pondasinya tidak dipasang dengan tepat dan benar.

Nilai-Nilai Luhur di balik Padasan

Masyarakat Jawa di pedesaan pada zaman dahulu hampir semuanya menyediakan padasan di depan rumahnya. Biasanya di dekat jalan. Padasan pada waktu itu lebih banyak menggunakan gentong atau tempayan. Selain itu terkadang pemilik rumah melengkapinya dengan gayung dari batok kelapa atau dalam bahasa jawa biasa disebut siwur. Sekarang orang-orang bisa membuat padasan dengan barang-barang yang mudah ditemukan seperti jerigen dan bekas cat rumah saja.

Pada umumnya, padasan diletakkan di depan jalan supaya siapapun yang lewat dan membutuhkan air bisa mengambilnya sesuai dengan keperluan. Banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi menyediakan padasan. Diantaranya sebagai berikut:

Pertama, keikhlasan dan kerelaan berbagi. Dengan berbekal ke-ikhlasan pemilik padasan  rutin mengisi airnya jika sudah habis, supaya siapapun yang membutuhkan bisa memanfaatkannya. Dan tanpa peduli bahwa orang yang mengambil itu sudah dikenal pemilik atau belum.

Kedua, berlatih untuk mawas diri. Orang yang memanfaatkan padasan, baik kenal ataupun tidak dengan pemiliknya. Juga diharapkan cukup tahu diri untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan air tersebut. Mereka harus sadar bahwa masih banyak orang lain yang membutuhkannya. Walaupun memang tidak ada aturan tegas yang melarang atau membatasi penggunaan air.

Ketiga, agar tidak menjadi air musta’mal saat digunakan berwudlu. Air musta’amal adalah air yang telah digunakan bersuci (wudlu/mandi) ataupun menghilangkan najis. Air musta’mal tidak bisa digunakan bersuci manakala kurang dari dua qullah (bak air ukuran: 60 cm3 = 216.000 cm atau 216 liter). Jadi sederhananya, apabila air yang kurang dari dua qullah tersebut digunakan untuk mandi misalnya terus setelah itu sisanya juga digunakan untuk wudlu maka wudlunya tidak sah. Sebab, dikhawatirkan air yang telah kita gunakan tercipratkan ke wadahnya lagi walaupun tidak sengaja. Maka, untuk mengantisipasinya orang zaman dulu menggunakan padasan sebagai sarana berwudlu supaya airnya tetap sah digunakan dalam bersuci.

Narasi tentang padasan ini adalah manifestasi dari sekian banyaknya kearifan lokal yang ada di negeri kita. Sebagai generasi penerus bangsa, seharusnya kita lebih memperhatikan lagi akan budaya dan kearifan lokal para leluhur kita. Kendati kita sudah memasuki periode peradaban ilmiah dan teknologis, namun jangan sampai budaya kita luntur dan tergerus oleh ombak budaya dari luar. Kita punya jati diri bangsa yang patut kita banggakan. Jangan sampai terdengar ada kata “klaim budaya” oleh negara lain lagi di media.

Sidoarjo, 17 April 2020 || Budi Setiawan

Jumat, 10 April 2020

Upaya Radikal Brili Agung Bantu Tim Medis

[ JJB ke #30 Series; #LiterasiLawanPandemi ]

HAMPIR satu bulan kebijakan “Physical distancing” dijalankan untuk memutus rantai persebaran Covid-19. Bak Thanos dalam film Avengers: Infinity War, Si monster raksasa yang akan menyapu setengah alam, pandemi Covid-19 pun keras menghantam banyak lini. Tak hanya menyerang sisi kesehatan, namun juga menyerang sisi ekonomi. Banyak pelaku usaha yang mulai mengambil kebijakan untuk merumahkan karyawannya, tak sedikit pula yang sampai di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Kondisi yang memaksakan demikian, tak bisa disalahkan memang.

Bagi sebagian pengusaha cara menyikapinya berbeda. Ada yang memilih bertahan dengan cara berinovasi dan bertranformasi di bidang usahanya. Adapula yang memanfaatkan momentum ini untuk beramal sosial sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responbility (CSR). Salah satu diantaranya adalah Brilli Agung, seorang pemilik hotel Aksara Homestay Purwokerto dan Penulis Buku ini menghibahkan 24 kamar hotelnya untuk tenaga medis Covid-19 di Kabupaten Banyumas.

Upaya radikal yang dilakukan mas Brilli ini ditengarai karena merasa prihatin dengan perlakuan miris masyarakat terhadap tenaga medis.  Terutama pemilik kos yang tidak menerima tenaga medis yang bekerja di rumah sakit rujukan Corona Covid-19. Perlakuan yang tak semestinya didapatkan kepada pahlawan kesehatan dewasa ini. Sehingga beliau tergerak hatinya untuk turut serta membantu tim medis sebagai garda terdepan dalam penanganan korban pandemi ini. Aksinya ini pun sempat viral di Twitter @BriliAgung, jumat (27/3/2020) yang sampai saat ini unggahannya telah mendapat 25,4 rb retweet dan 51,4 rb suka. Berikut unggahan dalam akun twitternya:

Gambar: Akun twitter Brilli Agung

Saya mengetahui kisah ini berawal dari update story-nya di Whatshapps. Kebetulan mas Brilli ini adalah salah satu mentor saya menulis 2017 silam. Lewat ikut pelatihan dan mentoring beliaulah Buku perdana saya yang berjudul, “Tuhan, Inilah Proyek Cintaku” alhamdullillah lahir. Setelah mendapat kabar tersebut saya langsung memutuskan untuk mencari tahu detailnya kisah lengkapnya lewat media massa online dan akun twiterrnya. Jiwa skeptis saya ketika menjadi aktivis pers mahasiswa dulu di kampus, membuat saya langsung gercep (gerak cepat) untuk searching cek fakta lebih lanjut ketika mendapat kabar yang menurut saya bagus.

Menurut kabar yang dilansir di liputan6.com, mas Brilli tak hanya menghibahkan 24 kamar hotelnya. Namun juga menanggung biaya operasional, baik sarapan dan kebutuhan seperti hand sanitizer. Di samping itu dia juga tetap akan memenuhi tanggung jawabnya kepada karyawannya yang bekerja yakni berupa gaji dan THR akan tetap diberikan. Senada dengan yang diucapkan saat wawancaranya dengan CNN TV, “Saya sudah berkomitmen untuk menanggung biaya operasional, kebetulan kami juga dibantu oleh beberapa relawan. Dan saya juga berkomitmen untuk menunaikan hak karyawan berupa full gaji dan juga THR yang akan datang sebentar lagi”.

Sekarang saatnya masyarakat di sejumlah negara saling menguatkan, saling membantu dan saling memberi harapan satu sama lain agar virus yang melanda bumi ini segera bisa dilewati. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh mas Brilli Agung di atas. Harapannya hal-hal kebaikan semacam itu bisa menjadi inspirasi bagi para pengusaha lain untuk berbuat sama bahkan bisa jadi lebih kalau memang mampu. Seperti pesan Allah dalam Al-Quran, Wa ta’awwanu ‘alalbirri wattaqwa, “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa”.

Sidoarjo, 10 April 2020 || Budi Setiawan



Senin, 06 April 2020

IKUTI WEBINAR: Upaya Produktif di Masa Pandemik


[ JJB ke #29 Series: #LiterasiLawanPandemi ]

Sumber: Foto pribadi
Work From Home (WFH) adalah salah satu himbauan pemerintah dalam rangka memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Tak hanya para pekerja saja yang dihimbau untuk bekerja dari rumah, pelajar dan mahasiswapun juga dianjurkan untuk belajar dari rumah. Begitu pula dengan umat bergama juga dihimbau untuk beribadah di rumah. Upaya ini dilakukan guna untuk mendukung kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Hastag #diRumahAja pun menjadi viral di dunia maya.

Kondisi ini bisa jadi menyenangkan untuk sebagian orang, tapi bisa juga menjadi momok bagi orang lain. Ini adalah sebuah pola kerja yang relatif baru dan akan menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang. Di tengah ketidakpastian kondisi di luar rumah, saat kita stay #diRumahAja diharapkan agar kita tetap produktif. Banyak cara dan banyak jalan untuk menjadi lebih produktif, salah satunya adalah mengikuti Webinar. Apa itu Webinar? F.Y.I Webinar berasal dari dua kata, yaitu Web dan Seminar. Jadi Webinar adalah suatu seminar, presentasi, pengajaran dan workshop yang dilakukan secara online.

Weekend day kemaren, Minggu (5/4), Mata Garuda LPDP bekerjasama dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Dunia menggelar seminar online di aplikasi Zoom. Acara tersebut bertajuk, “Solusi Ekonomi yang Efektif untuk Penanganan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat.” Mata Garuda merupakan wadah bagi keluarga besar alumni dan wardee beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) RI.

Gambar: Poster acara

Seminar online ini diikuti oleh kurang lebih 500 peserta (mahasiswa dan umum) yang tersebar dari berbagai penjuru negeri. Webinar tersebut menghadirkan narasumber dari beberapa tokoh nasional seperti: Sandiaga Uno (Pengusaha Indonesia), Prof.dr.Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH (Ketua Perkumpulan Ahli Ekonomi Kesehatan Indonesia), Prof.Dr.Didik J.Rachbinni (Ekonom dan Pendiri INDEF), Hidayat Amir,Phd (Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI dan Putri Viona Sari,Sgz.,MSc (Awardee LPDP, Global Health Policy, Researcher, University of Edinburgh, Inggris). Serta di moderatori oleh Arip Muttaqien, PhD (Alumni LPDP, PhD in Economics Maastricht University, Belanda).

Dalam pembukaannya, moderator, mas Arip Muttaqien memaparkan kondisi pemerintah yang telah menetapkan stastus Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID 19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, realokasi anggaran harus dilakukan untuk menghadapi dampaknegatif COVID-19 terhadap perekonomian. “Bagaimana dampak dari kebijakan tersebut terhadap penanganan COVID 19 di Indonesia? Dan apa saja respon masyarakat terhadap situasi ini?,” Begitu pengantar pertanyaannya yang kemudian mempersilahkan satu persatu narasumber untuk memaparkan materinya.

Berikut Pemaparan dari Beberapa Pemateri Webinar:

Beberapa poin yang saya tangkap adalah pertama dari Prof.Didik. Beliau menyampaikan bahwa solusi ekonomi yang mendasar dalam hal ini adalah solusi kesehatan. Ekonomi tidak bisa apa-apa selain adanya kesehatan. Begitupun dengan mbak Viona, beliau mengatakan, “dalam mengambil solusi ekonomi, pemerintah harus memastika solusi tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai in the best interest of the people.” Artinya, harus berdasar demi kepentingan terbaik rakyat.

Lain halnya dengan bang Sandiga Uno yang lebih banyak berbicara tentang UMKM selaku sektor yang paling terdampak dan terhamtam oleh Covid 19 ini beserta kebijakan yang telah dilakukan pemerintah yang direalisaikan khususnya dari segi bantuan tunainya melalui Program Keluarga Harapan dan Kartu Pra Kerja. Menurutnya, dengan adanya COVID-19 ini seakan lebih mempercepat adanya era Industri 4.0, seperti meningkatnya perilaku belanja masyarakat di E-commerce.

Gambar: Sandiga Uno sedang memberikan materi di Webinar Mata Garuda LPDP


Sedangkan Prof.Thabrany dalam kesimpulannya menyampaikan bahwa eksternalitas covid 19 terhadap ekonomi sangat besar, terlalu dini untuk menghitung untuk menghitung dampak final saat ini. “Hikmah di balik pandemi ini adalah kini kita sadar: sistem kesehatan lemah, dana tabungan (jaminan sosial) terlalu kecil, dan sistem ekonomi kita lemah. Saatnya melihat peluang seperti inovasi merancang dan mengembangkan bisnis bidang kesehatan, e-commerce, daring, digital, riset obat, vaksin, dan penguatan sistem kesehatan dan sistem ekonomi.

Terakhir dari pak Hidayat Amir, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal Kemeterian Keuangan tersebut lebi banyak menerangkan tentang kebijakan ekonomi dalam rangka penanganan covid-19 yang dilakukan pemerintah. Seperti misalnya menerangkan tentang PERPPU No.1/Tahun 2020 yang di dalamnya termasuk untuk mengakomodasi tambahan belanja dan pembiayaan pemerintah sebasar Rp 405,1 triliun. Diantaranya mencangkup:

1). Intervensi penanggulangan covid-19 (Rp 75 T)
2). Perluasan Social Safety Net (Rp 110 T)
3). Dukungan dunia usaha (Rp 70,1 T)
4). Pembiayaan dalam rangka mendukung Program Pemulihan Ekonomi Nasional (Rp 150 T)

Belajar dari Webinar ini, saya jadi sadar bahwa ternyata masih banyak hal yang belum saya ketahui yang pada akhirnya menjadi sedikit terang. Saya sendiri sangat mengapresiasi panitia penyelenggara (Mata Garuda LPDP dan PPI Sedunia) yang telah menyelenggarakan webinar sekeren ini. Pada dasarnya, kesadaran karena ketidaktahuan lah yang mendorong kita untuk terus belajar dan berkembang. Hadirnya Covid-19 bukanlah suatu alasan untuk kita menghabiskan waktu #diRumahAja dengan bermalas-malasan apalagi hanya sekedar stalking ig mantan dan gebetan. Hikks!! Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meng-up grade diri agar lebih produktif, ikut Webinar salah satunya.

“Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (QS.Al-Insyirah ayat 7)

Sidoarjo, 6 April 2020 || Budi Setiawan