Tampilkan postingan dengan label jjb. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jjb. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2021

DARI MENULIS BUKU TERBITLAH BUKU NIKAH

[ JJB ke #37 ] 


Sumber: Foto pribadi


Surabaya, 3 Februari 2021

20.30

“Mas, besuk kalau mau kasih mahar, buku aja ya mas. Jadi Mas nulis buku lagi,” ucap wanita yang malam itu di depanku. Wajahnya bercampur sinar lampu terang cafe hingga memantulkan cahaya indah di dua kornea matanya. Wulan, begitu orang-orang memanggilnya. Sesuai namanya, wajahnya kuning bersinar bak rembulan.

“Hah... Buku?” Sahutku kaget.

“Iya, mas. Tapi nggak maksa lho. Kan mahar katanya nggak boleh memberatkan.” Jawabnya pelan.

Kemudian senyum penuh teduh padanya kuantarkan. Wanita ini tau saja kalau kekasihnya sudah lama tidak menulis buku. Memang rencanaku dulu sebelum menerbitkan buku nikah, setidaknya satu atau dua buku bisa aku tulis lagi.

“Iya dek. Mas jawab sehabis lamaran ya permintaan adek.” Ujarku menjanjikan jawaban.

Perasaanku kala itu campur aduk. Dari permintaan maharnya aku membayangkan bahwa dia bukan hanya wanita cantik yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi pendamping hidupku. Namun juga insyaAllah wanita shalihah yang ditakdirkan untuk mendukung proses berkaryaku sebagai penulis. Menjadi laksana obor penyemangat di kala malam hitam kelam menyulitkanku menyusuri jalan sunyi kepenulisan.

Memang menulis belum menjadi profesiku seutuhnya. Lebih tepatnya hanya sekedar hobi yang aku tekuni saja. Namun, aku teringat kata-kata yang pernah dilontarkan oleh Kang Ridwan Emil, “pekerjaan yang paling menyenangkan itu adalah hobi yang dibayar.” Begitu katanya. Aku sepakat dengan Kang Ridwan. Tapi sejak awal uang bukanlah motif utama kenapa aku mesti menulis. Itu hanya bonus. Selebihnya aku menyetujui kata Pramodeya, bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Pun aku teringat dengan kata mentor menulisku dulu, Mas Brili. Menulis juga bisa menjadi ladang amal kita berupa ilmu yang bermanfaat. Yang pahalanya tidak akan terputus meskipun kita sudah meninggal kelak. Syahdan, lewat dialog singkat dengan calon makmumku malam itu, seakan alampun mendukungku untuk tetap semangat dalam berkarya lewat tulisan.


Minggu, 7 Februari 2021

Aku memandang keluar jendela mobil. Matahari diantara akhir musim penghujan itu masih menumpahkan sisa sinarnya diantara kabut awan-awan hitam. Kulihat jam di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 09.10. Mobil toyota rust warna putih itu menghantarkanku dan keluargaku ke suatu desa di kota Jombang. Meminang seorang gadis yang baru tiga bulanan dekat dengannya. Di tengah hari istimewa itu ada tiga hal yang menjadi beban pikiranku.

Pertama, aku dan keluargaku sedang berbahagia di hari istimewa itu, namun tanpa kehadiran Almarhum Ibuku. Kedua, ini adalah kali pertama aku berani melamar anak orang. Aku hanya menerka-nerka bagaimana jalannya acara nanti. Lalu yang terakhir, Apa yang akan kuhadapi setelah selesai acara tunangan ini, bagaimana jawaban dari permintaan akan maharnya kemaren? Sepanjang perjalanan, aku hanya memperlihatkan muka yang senang dan gembira, tanpa memberi tahu sedikitpun apa yang menjadi pertanyaan yang menjadi kegelisahan dalam hatiku.

Dua hari seusai acara pertanyaan itu muncul kembali di benakku. Cepat atau lambat aku harus segera mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu untuk kemudian aku forward jawaban itu ke tunanganku. Apakah aku harus mengiyakan atau justru menolak permintaan itu dengan beberapa alasan. Ya, begitulah kehidupan. Terkadang kita disuguhkan dengan teka-teki yang wajib kita selesaikan.

Mahar (mas kawin) adalah salah satu syarat sahnya pernikahan. Dalam Islam sendiri, mahar adalah untuk sempurnanya nikah. Di Al-Qur’an, Allah telah menjelaskannya dalam surat An-Nisa ayat 4 berbunyi:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”

Demikian Firman-Nya. Begitupun dengan sebuah hadist beliau Nabi juga menyebutkan:

“Wanita yang paling besar berkahnya ialah wanita yang paling mudah (murah) maharnya.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Hadis ini sangat sejalan dengan kata tunanganku beberapa waktu lalu. Setelah menimbang dan menimbang lalu memutuskan, InsyaAllah akupun siap untuk menjawab permintaan tunanganku. Akan ku usahakan, lalu menyerahkan segala usaha itu pada Allah. Sebab, tiada daya dan upaya melainkan daya dan upaya dari Allah semata.

“Bismillah tawwakaltu ‘alallah. La haula wala quwwata illa billah,” ucapku kemudian. Dari menulis buku, terbitlah buku nikah. Semoga saja.


Surabaya, 11 Februari 2021 || Budi Setiawan

Senin, 18 Mei 2020

Bijak Bermedia, Kritis di Era Krisis


[ JJB ke #34, Series: #LiterasiLawanPandemi ]





Belakangan, sebenarnya saya sudah agak malas membicarakan soal media. Bukan sebab saya sudah nggak aktif lagi di pers mahasiswa, akan tetapi saya sudah menginjak pada tangga kecewa sebab kenapa kok justru konten-konten yang bermuatan negatif yang banyak menjadi trending belakangan ini. Sementara konten-konten yang bermuatan positif, inspiratif dan mengedukasi justru sebaliknya. Kebayang nggak sih, sebetulnya bagaimana algoritma media itu bekerja sehingga hal di itu bisa terjadi?

Tidak munafik! Saya sendiri mungkin menjadi salah satu bagian dari jutaan pemirsa pengkonsumsi konten negatif tersebut. Walaupun disatu sisi hati saya berontak menolaknya. Instagram misalnya, dari sekian banyak postingan yang bernilai positif, postingan negatif masih merajainya. Mulai dari tersebarnya berita hoax soal telur rebus obat korona, hebohnya aksi kelulusan anak SMA di Riau, pembulyan bocah penjual jalangkote, hingga goyangan sexy “mama muda” ala tik tok. Sealim-alimnya cowok kalau liat goyangan mama muda, ya pada akhirnya akan ikut goyang juga keles..!!!

Sejujurnya tulisan ini bermula ketika seorang teman mantan sesama pengurus persma dulu Wa saya dan meminta untuk share info gimana cara mendapatkan jodoh menyaring info yang sifatnya hoax. Dia merasa resah ketika di lingkungan rumahnya barusan terdengar desas-desus ada yang positif korona, akhirnya semua pada heboh bikin status a, b, c. Dan ternyata setelah diketahui beritanya itu nggak benar alias hoax. “Ngilu rasanya gigiku dengar dan bacanya mas,” sambatnya.

Oke, kita mulai pembahasannya. Dahulu kala ketika saya masih memimpin rezim UKM Jurnalistik Mahardhika pernah membuat workshop jurnalistik dengan “Bijak Bermedia, Kritis di Era Krisis”. Saat itu saudara Vais Lubis dari Redaktur Online yang mengusulkan temanya. Tema yang menurut saya waktu itu lumayan keren. Namun tempo hari saya berpikir, “sepertinya tema ini justru sangat relevan untuk kondisi krisis seperti ini ya.” Disaat terjadinya krisis akibat pandemi ini semestinya memang kita harus bisa bersikap dan berpikir kritis. Tidak hanya kritis terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat,  bagaimana menyelamatkan masalah ekonomi agar tetap bisa bertahan hidup pun dengan pemberitaan masalah korona di media.

Semua itu tak luput dari bagaimana kita untuk menyikapinya dengan cara berpikir kritis. Sehingga pada akhirnya, perilaku “bijak bermedia” lah yang akan menjadi implikasinya. Berbicara masalah kabar palsu atau hoax seputar korona, sudah ada sekitar 556 berita hoax yang beredar menurut data dari Kementerian dan Informatika. Melangsir info dari Detiknews (18 April 2020). Angka yang sungguh fantastis, itu belum termasuk ditambah data hoax yang terjadi pada bulan Mei ini. Lalu bagaimana cara kita menangkalnya?

Terdapat dua langkah yang bisa dilakukan menurut presidium Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) Harry Sufehmi. Karena  mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, upaya menangkal berita hoax itu sebenarnya sudah terdapat dalam ilmu hadis. Jadi sejak pada zaman dahulu sudah ada namanya hoax berupa hadis dhoif (bohong) sehingga akhirnya para ‘ulama membuat ilmu hadist. Dua langkah untuk mendeteksi hoax itu dasarnya simpel yaitu dengan melihat  Sanad dan Matan. Sanad adalah sumber berita dan matan adalah kontennya.

a. Perhatikan Sanad atau Sumber Beritanya
Hal pertama yang perlu kita lakukan untuk menepis info hoax seputar virus korona adalah dengan melihat sumber dari berita yang beredar tersebut. Apabila info yang kita terima itu tidak jelas sumbernya dari mana, sebaiknya kita abaikan saja informasi tersebut. Skipp ajalah, tidak perlu pusing-pusing dengan berita yang tidak jelas sumbernya.

b. Perhatikan Matan atau Kontennya

Lalu menganai Matan atau kontennya, isi dari beritanya ini kira-kira ada yang aneh nggak. Aneh di sini maksudnya adalah ketika berita itu dibaca kita spontan langsung merasa emosi, langsung marah atau gusar, merasa takut dan berlawanan dengan info yang kita dapatkan di media massa yang kredible  seperti media Tempo, Liputan6.com, Jawapos, Detik.com dan media lain yang terverifikasi oleh Dewan Pers. Maka jika begitu beritanya bisa kita anggap hoax hingga terbukti kebenarannya.

Memerangi berita hoax dan konten negatif adalah tugas semua masyarakat. Kendati berselancar di media sosial (instagram, facebook, twitter), whatshapp dan youtube menjadi suatu rutinitas kaum milenial di saat senggang tapi kita harus juga bijak dalam menyikapinya. Media sosial layaknya mimbar bebas, begitu banyaknya yang sekedar menunjukkan eksistensi diri, beropini dan bahkan sebagai tempat meluapkan emosi, kekecewaan ataupun kegembiraan. Hingga tak ada aturan baku mengenai cara berperilaku bijak di media sosial tersebut.

Syahdan, kita sendiri yang harus bisa mengontrolnnya dan membuat batasan atas perilaku bijak tersebut. Dan jangan lupa belakangan pemerintah juga membuat UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang bisa mempidanakan pelanggarnya. Terlepas dari pro dan kontra terhadap kebijakan UU ITE itu, demi kebaikan bersama ada baiknya kita juga harus memperhatikan norma-norma yang berlaku ketika sedang mengakses dan berselancar di media sosial. Sebab, masing-masing dari kita adalah “konten kreator” yang akan mempertanggungjawabkan dari postingan-postingan kita.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu informasi, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujaraat:6)

Sidoarjo, 18 Mei 2020 || Budi Setiawan





Kamis, 23 April 2020

ANTALOGI WFH (Writer From Home)

[ JJB ke #32 Series: #LiterasiLawanPandemi ]

Ditengah kemelut pandemi Covid-19, bukan sesuatu yang tabu jika kita mempertanyakan kapan berakhirnya pandemi korona ini. Phisycal Distancing memaksa kita untuk tidak melakukan aktvitas kita sewajarnya sebagai makhluk sosial. Pelarangan berkumpul dengan orang banyak, berjabat tangan bahkan sampai aktivitas ibadah di Masjid dan Gerejapun dihentikan di daerah zona merah yang terkena virus. WFH (Work From Home) menjadi salah satu himbauan pemerintah kepada kita untuk melakukan kerja dan belajar mengajar dari rumah.

Gambar: Poster Antalogi Cerita Inspiratif #diRumahAja

Menjadi hal yang wajar jika kebijakan ini juga berdampak pada psikologi sebagaian orang, merasa bosan salah satunya. Berawal dari melihat realitas yang ada tersebut, serta kurang adanya kegiatan produktif yang dilakukan mahasiswa dalam menghadapi pandemi ini. Dea dan Jahe, dua mahasiswa yang menjadi Aktivis Peneleh ini punya inisiatif untuk membuat project menulis buku antalogi bersama. Projek ini bertajuk, “Cerita Inspiratif #diRumahAja”.

Mereka bekerja sama dengan Penerbit Peneleh sebagai media untuk menerbitkan antalogi itu. Mereka mengambil tema “Cerita Inspiratif #diRumahAja” lantaran ingin membagikan cerita-serita inspiratif saat berada dirumah dari masing-masing kontibutor kepada pembaca. “Dari tema tersebut sudah jelas akan berisi cerita tentang apa saja yang penulis alami ketika menghadapi pandemi ini. Yang juga akan menjadi rekam sejarah di tahun yang akan datang”, terangnya saat saya mintai keterangan tentang projek tersebut. Hal itu tampaknya juga memantik antusias saya untuk terlibat di dalamnya. Saya pikir ini adalah kesempatan bagus, mumpung ada teman-teman yang bisa saling menyemangati dalam berkarya. Hehe.  

WFH memang bukan hanya bicara soal bagaimana semestinya kita bekerja dari rumah. Tapi juga bagaimana kita mengisi hari-hari kita untuk lebih bermanfaat. Menekuni hobi seperti misalnya menulis juga bisa menjadi jawabannya. Sebab, menulis selain untuk mengungkapkan keresahan hati kita juga bisa sebagai obat untuk meredam kepanikan diri (Self Healing). Menulis juga bisa memberikan sumbangsih ilmu dan wawasan kita kepada dunia terkait hal-hal yang mestinya diketahui. Apalagi jika tulisan itu dinilai bisa memberikan sesuatu yang bisa menginspirasi pembaca, maka itu akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi penulisnya.

Maka disaat kondisi memaksakan kita untuk bekerja dan belajar dari rumah, WFH bukan lagi diartikan sebagai Work From Home tapi bisa bisa jadi diartikan Writer From Home bagi penulis buku antalogi seperti di atas misalnya. Antalogi adalah kumpulan karya tulis pilihan seseorang atau beberapa pengarang. Antalogi dalam hal ini bisa berupa puisi, cerpen, essay, ataupun artikel dalam bentuk lain. Dan lebih enaknya, menulis buku antalogi bisa lebih menghemat energi kita untuk menulis sebuah buku. Ya, bagaimana tidak hemat. Wong menulis satu buku saja penulisnya bisa mencapai puluhan orang. He.

Inisiasi projek antalogi ini menurutku sangat baik. Menulis bersama sembari diberi deadline pengumpulan seperti ini cukup membantu orang-orang yang punya masalah dalam hal semangat menulisnya yang dirasa kurang namun punya keinginan untuk tetap produktif menghasilkan sebuah karya. Jika tidak demikian kapan kita akan produktif sementara itu semua hanya bertengger diangan, musabab ndak pernah ada yang memberi deadline misalnya. Karena bagi pemula seperti kita, menulis harus ada punya komunitas untuk memberikan suntikan semangat jika semangat kita mulai down. Lebih-lebih sangat disarankan untuk memiliki seorang mentor. Karena seorang mentorlah nantinya yang akan membimbing, mengarahkan dan memberikan umpan balik dari setiap karya yang kita buat.

Sebetulnya, selain itu menulis antalogi juga bisa dijakan portofolio dan self branding bagi diri kita agar lebih dikenal orang lain. Tapi benefit ini bagi saya hanyalah sebuah bonus. Sebab, tujuan pertam kita menulis adalah agar sebuah gagasan yang kita tuliskan bisa memberikan kebermanfaatan bagi sesama lebih-lebih bisa berdampak positif bagi pembaca, syukur Alhamdulillah. Konon, apa yang ditulis dari hati insyaAllah juga akan sampai di hati pembaca. #SalamLiterasi

“Menulis bukan hanya menerangkai kata-kata indah namun menyampaikan gagasan. Bila kamu melakukannya dengan sepenuh hati maka yang tersentuh bukan Cuma pikiran pembaca tetapi juga hati mereka.”

-Rusdi Mathari


Sidoarjo, 23 April 2020 || Budi Setiawan

Jumat, 17 April 2020

PADASAN, RIWAYATMU KINI



[ JJB ke #31 Series; #LiterasiLawanPandemi ]

Peradaban ummat manusia abad 21 ini adalah peradaban ilmiah dan teknologi yang canggih. Dalam sejarah panjangnya, menurut Yuval Noah Harari, manusia menjadi mahkluk berperadapan melalui tiga revolusi: Kognitif, Pertanian, dan Sains. Namun, tak serta merta, kearifan lokal yang telah diajarkan para leluhur, kita lupakan atau bahkan kita musnahkan begitu saja. Jika memang demikian, sungguh kita tak meng-indah-kan kata-kata Bung Karno yakni JASMERAH (Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah).

Gambar: Padasan dari bahan plastik bekas cat tembok (foto pribadi)

“Wong jowo ora njawani” (orang jawa tapi tidak menjiwai). Pepatah jawa ini nampaknya cocok disematkan kepada orang-orang seperti saya khususnya atau siapa saja yang merasa umumnya. Yang memang secara perlahan mulai meninggalkan kearifan lokal dan budaya sendiri. Betapa tidak, hal-hal yang selama ini kita anggap kuno dan ndak ilmiah itu ternyata mulai dibutuhkan kembali disaat-saat pandemi seperti ini. Membuat “padasan” salah satunya.

Tulisan ini bermula dari kisah saya rabu pagi (15/04) kemaren saat selesai menyapu rumah lalu kemudian mengisi padasan di depan rumah dengan air. Padasan itu baru dibuat oleh kakak saya beberapa hari yang lalu dengan bahan bekas wadah cat dengan diberi kran di bawahnya. Dalam benak saya lantas timbul pertanyaan, “kenapa baru sekarang orang-orang mulai rajin mencuci tangan, kenapa baru sekarang orang buat padasan, setelah semua tersadarkan bahwa menjaga kebersihan itu sangat penting digiatkan saat musim pandemi ini?”

F.Y.I (bagi yang belum tahu), Padasan adalah tempat air dalam wadah berupa gentong atau tempayan yang umumnya terbuat dari tanah liat. Biasanya padasan ditempatkan di depan rumah. Sementara menurut KBBI, padasan adalah tempayan yang diberi lubang pancuran (tempat air wudlu).

Jauh sebelum WHO (World Health Organization) dan Menkes (Menteri Kesehatan) memberi himbauan untuk rajin mencuci tangan. Masyarakat jawa sudah terbiasa untuk mencuci tangan dan kaki sehabis kerja (yang mayoritas zaman dulu bertani, beternak, berkebun dan berdagang) dengan padasan. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah SAWAN (Sejenis Virus atau penyakit) terbawa ke rumah dan menularkan ke keluarga yang ada di rumah.

Gambar: Padasan zaman dahulu dari gentong (sumber gambar: ayojalanterus.com)

Jadi, salah besar apabila kita anggap orangtua kita terdahulu adalah orang kuno dan ndak ilmiah itu. Sebab, orang Jawa terdahulu selalu menggunakan ilmu atau ngilmu “titen” disetiap laku kehidupannya. “Titen” artinya cermat dalam menandai dan membaca makna dibalik peristiwa alam. Ngelmu titen adalah keahlian dalam melihat hubungan suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya dengan berbasis tradisi.

Menurut Dewi Sundari, seorang Praktisi Kejawen mengatakan bahwa dalam ngilmu titen, segala sesuatu yang terjadi dapat diamati. Karena tidak ada yang namanya kebetulan dalam hidup ini. “Kebiasaan mengamati, yang kita sebut sebagai othak-athik gathuk ini, sebenarnya juga diterapkan oleh ilmuwan dunia. Padahal yang diajarkan leluhur kita, sesungguhnya adalah metode pembelajaran yang dapat diterima secara ilmiah juga”. Kalau dalam konteks kekinian ngilmu titen itu kurang lebih sama halnya dengan penelitian lah. Hanya saja ngilmu titen berbasis tradisi dalam dalam tataran praktisnya.

Dulu waktu masih tinggal di desa, ketika pulang dari melayat atau dari kuburan saya sama Almarhumah ibu selalu diminta mandi dulu sebelum masuk rumah. Karena kata beliau jika tidak, nanti bisa membawa SAWAN dan menularkan ke orang rumah. Akibatnya orang yang di rumah bisa saja sakit jika kita ngeyel. Karena hal itu memang sudah di-titeni oleh orang tua kita sejak zaman dahulu. Dan ternyata menurut dokterpun sama, bahwa orang yang meninggal bisa menularkan penyakitnya. Makanya kenapa seperti yang kita ketahui bersama, pasien COVID-19 yang sudah meninggal dilakukan penanganan khusus dari petugas Rumah sakit. Mulai dari memandikan sampai menguburkannya harus dari pihak rumah sakit.

Berkaca pada narasi yang telah saya jabarkan di atas. Maka sudah sepatutnya kita lebih menghargai akan warisan leluhur kita. Sepertinya misalnya padasan, tidak mungkin itu dibuat tanpa ada guna dan manfaatnya. Tak mungkin ada bangunan yang kokoh andai pondasinya tidak dipasang dengan tepat dan benar.

Nilai-Nilai Luhur di balik Padasan

Masyarakat Jawa di pedesaan pada zaman dahulu hampir semuanya menyediakan padasan di depan rumahnya. Biasanya di dekat jalan. Padasan pada waktu itu lebih banyak menggunakan gentong atau tempayan. Selain itu terkadang pemilik rumah melengkapinya dengan gayung dari batok kelapa atau dalam bahasa jawa biasa disebut siwur. Sekarang orang-orang bisa membuat padasan dengan barang-barang yang mudah ditemukan seperti jerigen dan bekas cat rumah saja.

Pada umumnya, padasan diletakkan di depan jalan supaya siapapun yang lewat dan membutuhkan air bisa mengambilnya sesuai dengan keperluan. Banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi menyediakan padasan. Diantaranya sebagai berikut:

Pertama, keikhlasan dan kerelaan berbagi. Dengan berbekal ke-ikhlasan pemilik padasan  rutin mengisi airnya jika sudah habis, supaya siapapun yang membutuhkan bisa memanfaatkannya. Dan tanpa peduli bahwa orang yang mengambil itu sudah dikenal pemilik atau belum.

Kedua, berlatih untuk mawas diri. Orang yang memanfaatkan padasan, baik kenal ataupun tidak dengan pemiliknya. Juga diharapkan cukup tahu diri untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan air tersebut. Mereka harus sadar bahwa masih banyak orang lain yang membutuhkannya. Walaupun memang tidak ada aturan tegas yang melarang atau membatasi penggunaan air.

Ketiga, agar tidak menjadi air musta’mal saat digunakan berwudlu. Air musta’amal adalah air yang telah digunakan bersuci (wudlu/mandi) ataupun menghilangkan najis. Air musta’mal tidak bisa digunakan bersuci manakala kurang dari dua qullah (bak air ukuran: 60 cm3 = 216.000 cm atau 216 liter). Jadi sederhananya, apabila air yang kurang dari dua qullah tersebut digunakan untuk mandi misalnya terus setelah itu sisanya juga digunakan untuk wudlu maka wudlunya tidak sah. Sebab, dikhawatirkan air yang telah kita gunakan tercipratkan ke wadahnya lagi walaupun tidak sengaja. Maka, untuk mengantisipasinya orang zaman dulu menggunakan padasan sebagai sarana berwudlu supaya airnya tetap sah digunakan dalam bersuci.

Narasi tentang padasan ini adalah manifestasi dari sekian banyaknya kearifan lokal yang ada di negeri kita. Sebagai generasi penerus bangsa, seharusnya kita lebih memperhatikan lagi akan budaya dan kearifan lokal para leluhur kita. Kendati kita sudah memasuki periode peradaban ilmiah dan teknologis, namun jangan sampai budaya kita luntur dan tergerus oleh ombak budaya dari luar. Kita punya jati diri bangsa yang patut kita banggakan. Jangan sampai terdengar ada kata “klaim budaya” oleh negara lain lagi di media.

Sidoarjo, 17 April 2020 || Budi Setiawan

Jumat, 10 April 2020

Upaya Radikal Brili Agung Bantu Tim Medis

[ JJB ke #30 Series; #LiterasiLawanPandemi ]

HAMPIR satu bulan kebijakan “Physical distancing” dijalankan untuk memutus rantai persebaran Covid-19. Bak Thanos dalam film Avengers: Infinity War, Si monster raksasa yang akan menyapu setengah alam, pandemi Covid-19 pun keras menghantam banyak lini. Tak hanya menyerang sisi kesehatan, namun juga menyerang sisi ekonomi. Banyak pelaku usaha yang mulai mengambil kebijakan untuk merumahkan karyawannya, tak sedikit pula yang sampai di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Kondisi yang memaksakan demikian, tak bisa disalahkan memang.

Bagi sebagian pengusaha cara menyikapinya berbeda. Ada yang memilih bertahan dengan cara berinovasi dan bertranformasi di bidang usahanya. Adapula yang memanfaatkan momentum ini untuk beramal sosial sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responbility (CSR). Salah satu diantaranya adalah Brilli Agung, seorang pemilik hotel Aksara Homestay Purwokerto dan Penulis Buku ini menghibahkan 24 kamar hotelnya untuk tenaga medis Covid-19 di Kabupaten Banyumas.

Upaya radikal yang dilakukan mas Brilli ini ditengarai karena merasa prihatin dengan perlakuan miris masyarakat terhadap tenaga medis.  Terutama pemilik kos yang tidak menerima tenaga medis yang bekerja di rumah sakit rujukan Corona Covid-19. Perlakuan yang tak semestinya didapatkan kepada pahlawan kesehatan dewasa ini. Sehingga beliau tergerak hatinya untuk turut serta membantu tim medis sebagai garda terdepan dalam penanganan korban pandemi ini. Aksinya ini pun sempat viral di Twitter @BriliAgung, jumat (27/3/2020) yang sampai saat ini unggahannya telah mendapat 25,4 rb retweet dan 51,4 rb suka. Berikut unggahan dalam akun twitternya:

Gambar: Akun twitter Brilli Agung

Saya mengetahui kisah ini berawal dari update story-nya di Whatshapps. Kebetulan mas Brilli ini adalah salah satu mentor saya menulis 2017 silam. Lewat ikut pelatihan dan mentoring beliaulah Buku perdana saya yang berjudul, “Tuhan, Inilah Proyek Cintaku” alhamdullillah lahir. Setelah mendapat kabar tersebut saya langsung memutuskan untuk mencari tahu detailnya kisah lengkapnya lewat media massa online dan akun twiterrnya. Jiwa skeptis saya ketika menjadi aktivis pers mahasiswa dulu di kampus, membuat saya langsung gercep (gerak cepat) untuk searching cek fakta lebih lanjut ketika mendapat kabar yang menurut saya bagus.

Menurut kabar yang dilansir di liputan6.com, mas Brilli tak hanya menghibahkan 24 kamar hotelnya. Namun juga menanggung biaya operasional, baik sarapan dan kebutuhan seperti hand sanitizer. Di samping itu dia juga tetap akan memenuhi tanggung jawabnya kepada karyawannya yang bekerja yakni berupa gaji dan THR akan tetap diberikan. Senada dengan yang diucapkan saat wawancaranya dengan CNN TV, “Saya sudah berkomitmen untuk menanggung biaya operasional, kebetulan kami juga dibantu oleh beberapa relawan. Dan saya juga berkomitmen untuk menunaikan hak karyawan berupa full gaji dan juga THR yang akan datang sebentar lagi”.

Sekarang saatnya masyarakat di sejumlah negara saling menguatkan, saling membantu dan saling memberi harapan satu sama lain agar virus yang melanda bumi ini segera bisa dilewati. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh mas Brilli Agung di atas. Harapannya hal-hal kebaikan semacam itu bisa menjadi inspirasi bagi para pengusaha lain untuk berbuat sama bahkan bisa jadi lebih kalau memang mampu. Seperti pesan Allah dalam Al-Quran, Wa ta’awwanu ‘alalbirri wattaqwa, “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa”.

Sidoarjo, 10 April 2020 || Budi Setiawan



Selasa, 18 Februari 2020

Berbagi Bukan Hanya Soal Materi

[ JJB Ke #27 ]


Sumber gambar: marketeers.com


Banyak yang bilang dengan kita berbagi maka kita akan jauh lebih bahagia. Saya rasa itu benar adanya. Pasalnya ketika kita berbagi maka secara otomatis kita telah mengeluarkan energi-energi positif dalam diri kita untuk kemudian menularkannya ke orang lain lewat aktivitas berbagi tersebut. Sejalan dengan teori Hukum Kekekalan Energi (HKE), saat kita mengeluarkan energi positif, maka dipastikan yang kembali pada diri kita adalah energi positif. Dalam kasus ini energi positif yang dikeluarkan saat berbagi akan mendatangkan energi positif juga berupa kebahagiaan tersebut.

“Sharing is caring” berbagi itu peduli, begitu kata orang-orang. Berbagi adalah suatu aktivitas wujud kepedulian kita terhadap sesama, sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial. “Zoon Politicon” begitu Aristoteles mengistilahkan manusia sebagai hewan yang bermasyarakat. Maka tak ayal, semenjak kecil kita telah diajari untuk berbagi dengan teman-teman sebaya kita baik itu berupa makanan, mainan dan bersikap adil ketika sedang bermain. Kala itu berbagi menjadi hal yang sangat menyenangkan, dalam benak kita kalau hari ini memberi besuknya akan menerima. Atau setidaknya kita punya hak untuk menerima kembali buah dari apa yang kita beri.

Tentang keihklasan saat memberi mungkin lambat laun baru kita pelajari prakteknya saat kita menginjak usia dewasa. Ketika tahu bahwa membagi adalah bentuk dari shodaqoh yang harus disertai dengan keikhlasan, ketika tahu dan sadar bahwa membagi itu bukan hanya soal “hutang-saur”. Dan ketika memahami bahwa aktivitas membagi itu bukan hanya soal materi namun bisa berbentuk pemikiran, saran, pendapat, kritik, motivasi, informasi dan lain sebagainya.

Terlebih dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, kita lebih dimudahkan untuk berinteraksi dengan berbagai orang diberbagai belahan dunia dan pelosok negeri hanya dengan menggunakan media smartphone yang kita miliki. Dengan fitur share kita bisa berbagi informasi dan pemikiran lewat bergai kanal seperti Whatshapp, facebook, twitter, instagram dan blog hanya dengan sentuhan jari jemari kita di gadget.

Sharing/share adalah istilah ketika pengguna internet membagikan sebuah informasi/file di internet untuk bisa diketahui secara luas oleh pengguna internet lainnya. Dengan internet kita bisa membagikan berbagi macam informasi dan file dengan cepat dan mudah. Tak hanya itu, aktivitas ini juga bisa mempengaruhi teman atau orang yang menjadi target berbagi kita untuk membagikan pula ke orang lain hingga bisa berdampak lebih luas dengan begitu cepat. Andai yang kita bagikan bisa memberi manfaat dan berdampak sosial yang lebih baik, maka kita bisa disebut influencer positif.

Namun, seringkali karena terlalu mudahnya berbagi, kita tidak melakukan penyaringan terlebih dahulu terhadap informasi yang kita dapat. Sehingga banyak sekali informasi bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech), konten-konten sampah yang tidak mencerdaskan terbagikan di media sosial dan internet. Maka dari itu perlu adanya verifikasi terhadap info atau tulisan yang dibagikan  agar tidak termakan berita hoaks. Niat mulia untuk berbagi jangan sampai berujung dibui, seperti kasus yang banyak terjadi belakang ini.

Pada dasarnya saya menyenangi aktivitas berbagi, terutama yang lebih sering berbagi apa yang saya tahu lewat media sosial, wa, blog, diskusi dan termasuk yang belakangan saya tekuni yaitu menulis buku. Berbagi yang lain kadang masih terasa berat, seperti uang misalnya. Apalagi sumber pemasukan saya dari kerja dan jualan buku , terbilang belum begitu banyak. Akan tetapi saya harus tetap mensyukurinya supaya nikmatnya ditambah. Amin.

Aktifitas berbagi  tersebut memang saya tujukan agar apa yang saya tahu tidak berakhir di diri sendiri hingga pada akhirnya dicap sebagai orang yang “pelit ilmu” naudzubillah. Saya ingin informasi itu bisa dikonsumsi oleh orang-orang yang membutuhkannya baik saat ini atau suatu saat nanti. Hingga sang penerima bisa memperoleh manfaat dari apa yang tengah saya bagikan. Sudah pasti senang rasanya ketika kita bisa menjadi jalan untuk mewujudkan kebahagiaan orang lain. Sebab, dengan demikian semoga kehidupan saya di dunia ini bisa lebih sedikit berarti dan tak terkesan hanya sebatas “mampir ngombe” saja.

Sidoarjo, 18 Februari 2020 || Budi Setiawan

Selasa, 30 April 2019

Mahasiswa: Representasi Kaum Borjuis dan Proletar (Buruh) Masa Depan

[[ JJB Ke #26 ]]

Foto Pribadi: May Day 2018 yang lalu


Sebelum membaca tulisan saya terlalu jauh, saya ingin mengajak teman-teman untuk bernyanyi bersama dalam sebuah alunan lagu di bawah ini: 

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota bersatu padu rebut demokrasi gegap gempita dalam satu suara demi tugas suci yang mulia

hari hari esok adalah milik kita terciptanya masyarakat sejahtera terbentuknya tatanan masyarakat Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita kabarkan di tangan kita tergenggam arah bangsa marilah kawan mari kita nyanyikan sebuah lagu tentang pembebasan (Buruh Tani)

Begitulah kira-kira lagu yang sering didengungkan oleh para demonstran dari serikat buruh dan mahasiswa yang tengah menyuarakan aspirasinya di telinga para penguasa. Saya yakin teman-teman yang mengaku sebagai aktivis kampus baik dari Pers Mahasiswa maupun Ormek-ormek (Organisasi Ekstra) seperti HMI, PMII, GMNI dan lain-lain tidak asing dengan lagu tersebut. Namun bagi sebagian mahasiswa yang "IPK Oriented" mungkin masih asing, ada baiknya jika memang iya coba cek di YouTube dulu judul lagunya "Buruh Tani" hehe.

Kita bukan hanya sebatas membahas popularnya lagu tersebut di kalangan aktivis, tapi lebih dari itu. Jika kita analisa lebih lanjut, ada semacam konvergensi yang saling berkaitan antara mahasiswa dengan buruh sebagai subjek instrumen demokrasi. Dan itu terpapar jelas di bait pertama lagu. Artinya, masalah yang berkaitan dengan buruh juga seharusnya menjadi masalah yang patut diperbincangkan di kalangan akademisi seperti mahasiswa.

Berkaca pada sejarah, Hari Buruh "May Day" diresmikan pada 1 Mei oleh pemerintah lewat UU Kerja No.12/1948. Dalam pasal 15 ayat 2 UU No.12 Tahun 1948 dikatakan, "Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja". Namun situasi berubah ketika Orde Baru berkuasa. Sejak 1 Mei 1967, hari buruh sedunia "May Day" dilarang. Serikat buruh dibatasi ruang geraknya dan Orde Baru melemahkan gerakan buruh dengan berbagai cara. Tidak hanya itu, Bahkan pergerakan mahasiswa pada waktu itu juga dibungkam dengan diberlakukannya kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinas Kemahasiswaan). Buruh dan Mahasiswa pada saat itu haknya dibelenggu dengan meng-haram-kan kritik terhadap rezim.

Tahun 1998 ketika Mahasiswa terlibat aksi demonstrasi besar-besaran akhirnya ORBA tumbang dan pasca itu peringatan hari buruh sedunia tak lagi dilarang. Begitulah hiruk pikuknya sekilas perjuangan mahasiswa dan buruh melawan penindasan kapitalisme pada masa itu. Yang sebenarnya antara keduanya saling bertautan seperti yang sudah saya jabarkan di awal.

Mahasiswa: Buruh Masa Depan

Apa artinya hal tersebut bagi mahasiswa? Kita bisa menyimpulkan bahwa mahasiswa adalah para buruh di masa depan. Dengan posisinya sebagai ‘buruh masa-depan’, maka mahasiswa sebetulnya harus sadar bahwa kepentingan buruh saat ini adalah kepentingannya di masa yang akan datang. Ketika mahasiswa lulus, dalam profesi apapun ia bekerja, ia harus sadar bahwa ia adalah ‘buruh’. Kesadaran atas subjektivitasnya inilah yang, menurut Zizek (2009) akan menjadi salah satu fondasi dari resistensi yang ia bangun pada konstruksi bangunan yang bernama kapitalisme.

Mahasiswa: Borjuis Masa Depan.

Seperti yang kita ketahui, makna dari Borjuis menurut KBBI adalah kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas (biasanya dipertentangkan dengan rakyat jelata). Artinya, mahasiswa selain menjadi bagian buruh di masa depan seperti yang saya uraikan di awal juga ada kemungkinan untuk menjadi seorang Borjuis dari kalangan menengah ke atas. Bisa jadi lewat jalur menjadi pejabat pemerintah ataupun menjadi seorang pengusaha. Dan sadarlah, bahwa di kelas inilah benih-benih Kapitalisme tumbuh. Sederhananya Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Tak hanya itu mereka juga rela menindas kaum buruh demi keuntungan pribadinya. Di era Revolusi Industri 4.0, ternyata akumulasi kapital tak hanya dilakukan di pabrik, tetapi  juga di berbagai tempat. Sebut saja misalnya kampus, sekolah, bank, rumah sakit ataupun di perusahan jasa berbasis online yang sekarang mulai tumbuh subur.

Nah, dengan kita mengetahui paham dan konstruksi yang diikuti para kaum kapitalis tersebut setidaknya kita di masa depan bisa menghindari untuk tidak terlibat dan terjatuh dalam kubangan lingkaran setan tersebut.

Begitu sebaliknya, jika mahasiswa adalah representasi dari 'buruh masa depan,' maka sudah selayaknya gerakan mahasiswa saat ini mengambil posisi yang inheren dengan gerakan buruh. Bahwa masalah buruh secara tersirat juga menjadi masalah mahasiswa begitu sebaliknya. Oleh karenanya seperti masalah kesejahteraan buruh yang selalu menjadi tuntutan tiap tahun baiknya menjadi PR juga bagi gerakan mahasiswa untuk ikut serta menyuarakan aksinya tak hanya sebatas di jalan namun juga lewat senjata intelektual-nya melalui penulisan berita Pers Mahasiswa misalnya atau lewat jalur lain. Tujuannya sama, yaitu untuk bersama-sama melawan dan menumbangkan Kapitalisme di Negeri ini. Lalu memberi sinyal "Hijau" bagi pengusaha yang ikut serta mensejahterakan karyawannya (Social Entrepreneur).

SELAMAT HARI BURUH SEDUNIA Bagi para buruh masa kini dan masa depan. Semoga kita tetap diberi kekuatan untuk tetap melawan Kapitalisme.

Sidoarjo, 30 April 2019 || Budi Setiawan

#SalamMahasiswa 💪
#SalamPersMahasiswa 📸📝
#SalamPergerakan.
#PanjangUmurPerjungan.

Rabu, 06 Februari 2019

MEMAHAMI TRANSFORMASI MARKETING 4.0

[ Resensi Buku #1 ]

Sumber: Foto Pribadi



Judul Buku      : Marketing 4.0, Bergerak dari Tradisional ke Digital
Pengarang       : Philip Kotler, Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan
Penerbit           : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2019
Tebal Halaman: 171 Halaman
Resentator       : Budi Setiawan

Sinopsis Buku:

            Revolusi industri 4.0 telah membawa pergeseran manusia dari tradisional ke digital dengan begitu cepat. Dilain pihak taktik pemasaranpun terjadi transformasi dan perkembangan dari waktu ke waktu.

            Enam tahun terakhir, marketing 3.0 menginspirasi dunia untuk merangkul dan menjelajahi pemasaran yang berorientasi pada manusia (Human Centris). Dengan adanya konvergensi teknologi ini akhirnya akan berunjung pada konvergensi antara pemasaran digital dan pemasaran tradisional. Untuk itu bapak pemasaran Phillip Kotler beserta Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan memperkenalkan marketing 4.0 sebagai perkembangan wajar dari marketing 3.0.

            Dasar pemikiran utama dari buku ini adalah bahwa pemasaran harus disesuaikan dengan perubahan alami dari jalur pelanggan dalam ekonomi digital. Para pemasar harus menerima pergeseran ke lanskap bisnis yang lebih horizontal, inklusif dan sosial. Media sosial telah menghapus rintangan geografis & demografis yang memungkinkan masyarakat berkomunikasi dan perusahaan berinovasi melalui kolaborasi.

            Paradoks dari pemasaran ke pelanggan terhubung, menuntut pemasar untuk memadukan antara interaksi online versus offline. Dan konektivitas telah memberdayakan pelanggan dengan informasi yang berlimpah. Selain itu Subkultur digital besar dari kaum muda, perempuan dan warganet yang akan menjadi pondasi bagi jenis pelanggan baru sepenuhnya disaat ini.

            Di era digital ini jalur pelanggan didefinisikan ulang dari 4A (Aware, Appeal, Ask dan Act) menjadi 5A (Aware, Appeal, Ask, Act dan Advocate) karena ternyata pendapat dan rekomendasi dari keluarga dan teman-teman kita memiliki dampak besar terhadap keputusan pembelian. Anjuran itu bisa dari online contohnya  TripAdvisor, posting produk perusahaan dll  maupun dari offline.

            Sejalan dengan 5A, buku ini memperkenalkan seperangkat metrik baru yaitu purchase action ratio (PAR) dan brand action ratio (BAR). Keduanya dapat mengevalusai dengan lebih baik seberapa efektif pemasar dalam menggerakkan pelanggan dari sadar ke bertindak dan akhirnya menganjurkan. Pada intinya PAR dan BAR memungkinkan pemasar untuk mengukur seberapa produktivitas usaha pemasaran dalam sebuah perusahaan. Juga ditelusuri secara mendalam beberapa industri kunci & belajar cara  melaksanakan gagasan marketing 4.0 pada industri 4.0 dengan mengidentifikasi empat pola besar untuk berbagai industri: “gagang pintu”, “ikan mas”, “terompet”, dan “corong”.

            Setelah itu dibagian ketiga diuraikan secara terperinci dari marketing 4.0 yang dimulai dengan pemasaran yang berorientasi pada manusia, yang ditujukan untuk memanusiakan mereka dengan atribut yang mirip manusia. Selain itu pemasaran konten dan pemasaran omnichannel juga diharapkan lebih diperhatikan dan ditingkatkan untuk meraih penjualan yang lebih tinggi dengan mengkombinasikan teknologi dengan tradisional.

            Pada akhirnya, marketing 4.0 adalah pendekatan pemasaran yang menggunakan interaksi online dan offline antara perusahaan dan pelanggan, memadukan gaya dan substansi dalam membangun merek dan akhirnya melengkapi onektivitas mesin ke mesin dengan sentuhan manusia ke manusia untuk memperkuat keterlibatan pelanggan. Pemasaran digital & pemasaran tradisinonal dimaksudkan untuk dipadukan dan dikombinasikan dengan tujuan mendapat pembelaan ataupun loyalitas pelanggan.

Kelebihan Buku:

-       Buku ini sangat cocok dibaca oleh para dosen, mahasiswa, praktisi dan pekerja pemasaran, pengusaha serta semua orang yang ingin mengetahui perkembangan terbaru dari dunia pemasaran.

-       Isi dari buku lumayan berbobot karena penulis memaparkan fakta berdasarkan data dan sumber-sumber yang relevan.

-       Memampukan pembaca untuk memeriksa contoh langsung peningkatan produktiviatas dari perkembangan marketing 4.0 dengan melibatkan pelanggan disepanjang jalur dunia nyata melalui pasar digital masa kini.

Kekurangan Buku:

-       Banyak istilah dalam buku ini yang mungkin akan susah dimengerti oleh orang awam.

-       Tidak ada indeks bukunya

-       Cover buku kurang maching dengan judulnya.

Minggu, 03 Februari 2019

Memaknai Kata-kata

[ JJB ke #25 ]

Sumber: Foto Pribadi
”Kata-kata”, sepertinya memang terdengar sepele.Tapi ternyata kata-kata yang mengandung inspirasi kebaikan mampu mengubah cara pandang dan perilaku seseorang, bahkan orang-orang disekitar kita. Kata-kata seakan punya kekuatan sendiri yang mampu membakar semangat, memunculkan emosi positif serta memberi kedamaian dalam diri.

Terkadang kata-kata tersebut sedikit banyak ada yang mampu menyentuh hati. Makjleb katanya, jika suatu kata-kata mampu menggetarkan hatinya. Maka setelah itu tak jarang kita termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lewat sentuhan kata-kata bijak tersebut. Dan selanjutnya orang-orang yang termotivasi dengan kata-kata tersebut punya dorongan kuat untuk menerapkan dalam sebuah aksi nyata.

Sebut saja kata-kata dari Hos.Cokroaminoto, Bung Karno, Bung Tomo dan sejumlah tokoh-tokoh besar kemerdekaan lainnya. Mereka telah mampu memotivasi dan mempengaruhi Rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan ditangan penjajah dengan kata-katanya.
Kalau kita lihat belakangan ini, kata-kata menjadi semacam kewajiban bagi sebagaian warganet dalam bermedia sosial. Mereka menyebutnya dengan nama “caption”. Biasanya orang memberi caption dari status Ig, Facebook, Instastory dan lain-lain dengan kata-kata bijak dari tokoh-tokoh terkenal, ayat suci, hadist, ataupun dari pemikirannya sendiri.

Bahkan, dalam dunia percintaanpun tak luput dari namanya kata-kata. Padahal kata si “Doi” cinta itu tak perlu dijelaskan namun cukup dirasakan. Memang benar sih, namun tanpa adanya pengungkapan akan cinta kita pada seseorang, apakah kita yakin dia akan mengerti maksud kita hanya lewat kode-kode saja? Saya rasa cinta pun memang juga harus butuh kata-kata yang bertindak sebagai penerjemah dari bahasa hati kita.

Akan tetapi, acapkali kita tidak betul-betul memahami apa yang sebenarnya sudah kita tulis dan posting di sosmed akan kata-kata bijak itu. Bisa jadi itu disebabkan kita menuliskannya hanya karena ego semata. Atau lebih parahnya agar kita terlihat lebih berin(telek)tual daripa yang lain. Ah, saya rasa itu terlalu rendahan. Meskipun saya pribadi terkadang juga sering khilaf. Ya, semoga saja setelah ini kita bisa menata niat menjadi lebih baik Amin.

Memaknai kata-kata tidak hanya sebatas memahami apa maksud dari kata-kata bijak tersebut. Akan tetapi lebih dari itu, kita harus menerimanya dengan cara mau mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari sesuai kebaikan apa yang diajarkan dan terkandung dalam kata-kata bijak itu.

Makna sendiri adalah arti atau maksud yang tersimpan dari suatu kata. Artinya, makna dengan kata-katanya sangat bertautan dan saling menyatu. Tjiptadi (1984:19) menyebutkan bahwa jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kata tidak akan memperoleh makna dari kata itu.

Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, kita dulu pernah diajarkan beberapa makna kata seperti makna denotatif, makna konotatif, makna leksikal dan lain-lain. Masih ingatkah? Kalau masih ingat Alhamdulillah, kalau sudah lupa bisa jadi terlalu banyak mikirin kenangan dimasa lalu kali ya. Hehe. Yuk, kita coba buka lagi bukunya atau cari tahu lewat google juga boleh biar ingat kembali ilmunya.

Nah, dengan itu kita sedikit punya senjata yang bisa digunakan untuk menafsirkan sebuah kata-kata. Dalam memaknai kata-kata yang terpenting menurut hemat sayaada dua; Pertama, kita harus cari tahu arti dan makna sebenarnya dari kata-kata tersebut. Kedua, kita harus mau menerima kebenaran dari kata-kata bijak tersebut yang sudah jelas kebenarannya dengan cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sidoarjo, 03 Februari 2019 || Budi Setiawan



Minggu, 18 November 2018

Kenapa Berhenti Produktif?


JJB ke #23


"Dan para insinyur di Jepang sering diingatkan akan sebuah moto, ‘Tidak pernah akan ada kemajuan jika Anda mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama dari waktu ke waktu"  

        -Masaaki Imai-         

Sumber Foto: news.lewatmana.com



Terus beraktifitas, bekerja dan berkreatifitas adalah sebagai pertanda daya hidup seseorang. Maka kelangsungan hidup seseorang tergantung pada tingkat produktifitasnya sebagai manusia. Namun, sayangnya tidak semua orang menyadari akan hal itu. Sehingga seperti yang sering kita lihat bersama banyak pengangguran, berandalan, anak jalanan, maling, pencopet dan lain-lain. Mereka bertebaran di sekitar kita akibat kurang produktifnya pribadi tersebut. Hal itu sudah pasti akan menjadikan masalah masyarakat (Problem Society) yang perlu untuk dituntaskan.

Seiring berjalannya waktu, seorang yang berakal pasti punya cita-cita dan harapan untuk meraih kesuksesan hidup. Artinya adalah kesuksesan ini bisa berupa pencapaian atau prestasi yang berhasil ia raih setelah dirinya bekerja keras dalam mengerjakan sesuatu.
Produktif dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang menguntungkan atau bermanfaat bagi dirinya atau kegiatan yang dipenuhi  hal-hal yang bermanfaat. Tidak hanya itu dalam islampun seorang yang produktif seperti misalnya bekerja karena mengaharap ridha Allah pun dianggap ibadah. Beliau Ibnu Umar R.A dari Rasulullah, berkata,”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang beriman yang berkarya.”(HR.Thabrani dalam Al-Kabir)

Untuk mengetahui produktif atau tidaknya seseorang, menurut saya cukup dengan kita mengajukan pertanyaan, “apa karyamu?” itu mungkin sudah cukup dan mewakili dari sekian pertanyaan untuk menguji seseorang produktif atau tidak. Karena syarat seseorang dikatakan produktif yang paling utama adalah dengan karya dan pencapaian apa yang ia ukir selama ini. Menurut saya sebuah karya atau pencapain tersebut tidaklah harus sesuatu yang besar, hal kecilpun bisa dikatakan produktif asal ia punya nilai lebih (Value added) yang bisa membuat dirinya berdaya.

Beberapa bulan terakhir saya merasa ada penurunan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih produktif. Walaupun di satu sisi angan-angan untuk berencana memperbaiki kualitas diri hari demi hari itu selalu ada, namun pada kenyataannya saya tetap saja terkalahkan oleh rasa malas yang berkepanjangan ini. Sialnya terkadang kesadaran-kesadaran seperti ini hanya mampir sebentar, setalah itu edan lagi.

Penurunan semangat dalam hidup ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja atau bahkan diternak untuk kemudian beranak pinak. Ya, kalau misal yang diternak sapi mah bisa menghasilkan. Lha kalau misal sikap malas yang diternak maka jelas rugilah yang akan didapat. Oleh karnanya, kata ‘semangat’ menjadi semacam amunisi yang perlu ada agar kita bisa mencapai target-target kehidupan yang sudah direncanakan.

Dahulu kala ada sebuah legenda yang menyebutkan bahwa manusia serigala (werewolf) memiliki kekuatan yang akan meningkat berkali lipat jika bulan purnama tiba. Begitu juga dengan tukang sihir. Segala kemampuannya akan meningkat disaat bulan purnama menjelang. Kekuatan sihirnya akan mencapai puncak saat momen sakral itu tiba. Hal tersebut berlaku juga bagi kita, kita sendiri bisa membuat purnama yang menggairahkan semangat. Purnama tersebut dapat kita ibaratkan dengan sesuatu yang menjadikan kita lebih bersemngat dan bergelora dalam menjalani kehidupan maupun untuk meraih pencapaian-pencapaian dalam hidup.

Purnama tersebut misalnya adalah seorang Ibu, dengan kita menjadikan ‘ibu’ sebagai purnama saat kuliah misalnya, maka kita akan lebih bersemangat untuk belajar dan menyelesaikan study. Purnama lain yang bisa jadi contoh mungkin bisa jadi calon pasangan kita. Ya, walaupun mungkin masih tampak samar-samar layaknya idghom syamsiyyah tapi setidaknya kita sadar bahwa kita harus betul-betul mempersiapkan diri untuk kebahagiaan keluarga kita di masa depan.(#Eaaakk) Prinsip “Perbaiki dirimu sama denganperbaiki jodohmu” memang sudah seharusnya kita terapkan karena katanya jodoh adalah cerminan diri kita.

Ada yang bilang, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Lah, ngimpi opo..!! emang situ punya kenalan orang dalam? Enggak kan hehe. Hal mustahil tersebut terkadang menjadi icon beberapa pemuda yang tidak punya kesadaran untuk tumbuh dan berkembang. Ia seakan-akan menjadi bunga tidur bagi pemuda yang senang menginap di zona nyaman. Dengan kata “Nyaman” inilah sebuah realitas seakan terlihat tidak jelas, dan akirnya terjebak dikenyamanan yang hanya sebatas kamuflase.

Menjadi seseorang produktif bisa kita latih dengan hal-hal sederhana, misalnya kalau biasanya kita mandi sekali dalam sehari menjadi tiga kali dalam sehari. Kalau misal kita biasaya datang telat ke kampus, kita rubah menjadi datang tiga puluh menit lebih dulu sebelum jam perkuliahan dimulai. Selanjutnya mungkin bisa dibuat planing yang lebih serius dan membuat skala prioritas sehari-hari agar hidup kita jadi lebih terarah. Dan yang terpenting adalah kita harus punya visi dalam hidup. Visi tersebut bisa kita artikan dengan sebuah pertanyaan, “kira-kira sepuluh tahun yang akan datang kita ingin menjadi apa?” artinya bahwa visi itu harus mencangkup tujuan dan cita-cita jangka panjang kita.

Kalau misalnya ada yang bertanya apakah saya punya visi, jawabannya sudah pasti punya. Saya punya visi dalam sepuluh tahun ke depan ingin menjadi seorang penulis best seller yang bisa menginspirasi pembaca lewat tulisan dan menjadi seorang pengusaha yang bisa ikut serta menciptakan lapangan pekerjaan baru. Saya tidak perlu malu memplubikasikan visi dan cita-cita saya ke depan, karena dengan cara seperti ini mungkin bisa membuat kita lebih bertanggung jawab atas apa yang sudah direncanakan dan syukur-syukur dari teman-teman pembaca ada yang mau membantu meng-amini kan alhamdulillah banget. Hehe.

Semoga dengan kita mengkaji ulang  dan menganalisa kembali kaitannya dengan produktifitas kita sebagai manusia ini akan menambah gairah dan semangat ke depan agar lebih baik hari demi hari. Dan jangan sampai kita menjadi orang yang tidak ada kemajuan karena dari waktu ke waktu selalu melakukan hal yang sama seperti pesan para insinyur di Jepang kata Masaaki Imai di atas. Amiinn.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS.94:&)

Sidoarjo, 19 September 2018 || Budi Setiawan