Tampilkan postingan dengan label Pengembara Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembara Ilmu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2020

Berbagi Bukan Hanya Soal Materi

[ JJB Ke #27 ]


Sumber gambar: marketeers.com


Banyak yang bilang dengan kita berbagi maka kita akan jauh lebih bahagia. Saya rasa itu benar adanya. Pasalnya ketika kita berbagi maka secara otomatis kita telah mengeluarkan energi-energi positif dalam diri kita untuk kemudian menularkannya ke orang lain lewat aktivitas berbagi tersebut. Sejalan dengan teori Hukum Kekekalan Energi (HKE), saat kita mengeluarkan energi positif, maka dipastikan yang kembali pada diri kita adalah energi positif. Dalam kasus ini energi positif yang dikeluarkan saat berbagi akan mendatangkan energi positif juga berupa kebahagiaan tersebut.

“Sharing is caring” berbagi itu peduli, begitu kata orang-orang. Berbagi adalah suatu aktivitas wujud kepedulian kita terhadap sesama, sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial. “Zoon Politicon” begitu Aristoteles mengistilahkan manusia sebagai hewan yang bermasyarakat. Maka tak ayal, semenjak kecil kita telah diajari untuk berbagi dengan teman-teman sebaya kita baik itu berupa makanan, mainan dan bersikap adil ketika sedang bermain. Kala itu berbagi menjadi hal yang sangat menyenangkan, dalam benak kita kalau hari ini memberi besuknya akan menerima. Atau setidaknya kita punya hak untuk menerima kembali buah dari apa yang kita beri.

Tentang keihklasan saat memberi mungkin lambat laun baru kita pelajari prakteknya saat kita menginjak usia dewasa. Ketika tahu bahwa membagi adalah bentuk dari shodaqoh yang harus disertai dengan keikhlasan, ketika tahu dan sadar bahwa membagi itu bukan hanya soal “hutang-saur”. Dan ketika memahami bahwa aktivitas membagi itu bukan hanya soal materi namun bisa berbentuk pemikiran, saran, pendapat, kritik, motivasi, informasi dan lain sebagainya.

Terlebih dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, kita lebih dimudahkan untuk berinteraksi dengan berbagai orang diberbagai belahan dunia dan pelosok negeri hanya dengan menggunakan media smartphone yang kita miliki. Dengan fitur share kita bisa berbagi informasi dan pemikiran lewat bergai kanal seperti Whatshapp, facebook, twitter, instagram dan blog hanya dengan sentuhan jari jemari kita di gadget.

Sharing/share adalah istilah ketika pengguna internet membagikan sebuah informasi/file di internet untuk bisa diketahui secara luas oleh pengguna internet lainnya. Dengan internet kita bisa membagikan berbagi macam informasi dan file dengan cepat dan mudah. Tak hanya itu, aktivitas ini juga bisa mempengaruhi teman atau orang yang menjadi target berbagi kita untuk membagikan pula ke orang lain hingga bisa berdampak lebih luas dengan begitu cepat. Andai yang kita bagikan bisa memberi manfaat dan berdampak sosial yang lebih baik, maka kita bisa disebut influencer positif.

Namun, seringkali karena terlalu mudahnya berbagi, kita tidak melakukan penyaringan terlebih dahulu terhadap informasi yang kita dapat. Sehingga banyak sekali informasi bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech), konten-konten sampah yang tidak mencerdaskan terbagikan di media sosial dan internet. Maka dari itu perlu adanya verifikasi terhadap info atau tulisan yang dibagikan  agar tidak termakan berita hoaks. Niat mulia untuk berbagi jangan sampai berujung dibui, seperti kasus yang banyak terjadi belakang ini.

Pada dasarnya saya menyenangi aktivitas berbagi, terutama yang lebih sering berbagi apa yang saya tahu lewat media sosial, wa, blog, diskusi dan termasuk yang belakangan saya tekuni yaitu menulis buku. Berbagi yang lain kadang masih terasa berat, seperti uang misalnya. Apalagi sumber pemasukan saya dari kerja dan jualan buku , terbilang belum begitu banyak. Akan tetapi saya harus tetap mensyukurinya supaya nikmatnya ditambah. Amin.

Aktifitas berbagi  tersebut memang saya tujukan agar apa yang saya tahu tidak berakhir di diri sendiri hingga pada akhirnya dicap sebagai orang yang “pelit ilmu” naudzubillah. Saya ingin informasi itu bisa dikonsumsi oleh orang-orang yang membutuhkannya baik saat ini atau suatu saat nanti. Hingga sang penerima bisa memperoleh manfaat dari apa yang tengah saya bagikan. Sudah pasti senang rasanya ketika kita bisa menjadi jalan untuk mewujudkan kebahagiaan orang lain. Sebab, dengan demikian semoga kehidupan saya di dunia ini bisa lebih sedikit berarti dan tak terkesan hanya sebatas “mampir ngombe” saja.

Sidoarjo, 18 Februari 2020 || Budi Setiawan

Senin, 25 Maret 2019

"Konsep Minimalisme: Kebahagiaan hidup dalam kesederhanaan"

 
[ Resensi Buku #2 ]
Sumber foto: Pribadi


-Judul Buku   :Seni Hidup Minimalis
-Penulis         : Francine Jay
-Penerbit       : PT.Gramedia Pustaka Utama
-Tahun Terbit: 2018
-Tebal            : 260 Halaman
-Resentator   : Budi Setiawan

Hidup dengan menerapkan konsep Minimalisme bisa diartikan kitalah yang mengendalikan barang yang kita miliki. Kita yang menentukan ruang, fungsi, dan potensi rumah kita. Kita mengubah rumah menjadi tempat terbuka, penuh udara segar, dan mampu menampung hal-hal bermakna dalam hidup ini. Itu artinya kita menyatakan kebebasan dari kondisi yang serba-berantakan. Bebas berarti merdeka. Merdeka dari apa? Dari keterikatan dan belenggu barang-barang yang kita punya.

Coba kita pikirkan berapa banyak waktu dan energi yang kita korbankan untuk memiliki suatu barang: merencanakan untuk membeli, mencari diskon, mengumpulkan bahkan mungkin meminjam uang untuk membeli, pergi ke toko, membawa pulang, mencari tempat penyimpanan, belajar menggunakannya, merawat, membeli asuransi dan seabrek kegiatan yang mendorong kita untuk menyikapi barang tersebut. Coba misal kita lakukan setiap tahapan ini dengan jumlah barang yang kita punya. Hasilnya, sungguh melelahkan sekali kawan. Kita merasa tidak pernah punya cukup banyak waktu; bisa jadi barang kitalah penyebabnya. Itulah kenapa di atas disebutkan bahwa barang kita tanpa disadari bisa membelenggu kebebasan dan kemerdekaan kita.

Dengan menumbuhkan pola pikir minimalis penulis mengajak kita melihat dan mengkaji ulang kegunaan barang kita, mempertimbangkan manfaat dan nilai positif darinya serta menemukan kebebasan hidup dengan jumlah barang yang "cukup" untuk memenuhi kebutuhan kita bukan malah memenuhi semua keinginan kita.

Nah, setelah diterapkannya pola pikir minimalis. Langkah berikutnya yaitu mengaktualisasikan sikap tersebut dalam tindakan. Metode yang ditawarkan disini adalah dengan menerapkan metode STREMLINE, yang terdiri dari sepuluh teknik ampuh untuk membersihkan dan menjaga rumah tetap rapi. Teknik ini sangat mudah dilakukan dan diingat. Setiap hurufnya melambangkan satu langkah dalam proses merapikan tempat tinggal Anda. Huruf-huruf metode STREAMILINE tersebut yakni sebagi berikut:

S- Start over: Mulai dari awal
T- Trash, treasure, or transfer: Buang, simpan, atau berikan
R- Reason for each item: Alasan setiap barang
E- Everything in its place: Semua barang pada tempatnya
A- All surfaces clear: Semua permukaan bersih
M- Modules: Ruang
L- Limits: Batas
I- If one comes in, one goes out: Satu masuk, satu keluar
N- Narrow down: Kurangi
E- Everyday maintenance: Perawatan setiap hari.

Setalah kita memahami metode STREAMILINE diatas kemudian kita akan menerapkan metode itu pada ruangan-ruangan tertentu yang ada di rumah kita. Baik itu ruang keluarga, ruang tidur, ruang pakaian, ruang kerja, ruang dapur, ruang makan, kamar mandi, ruang penyimpanan (Gudang, garasi, loteng) serta juga bagaimana menyikapi barang-barang hadiah, peninggalan dan barang kenangan dari orang-orang tersayang.

Setalah semua tahapan diatas sudah kita praktekkan dan terapkan kemudian selanjutnya adalah memperkenalkan cara hidup yang sama kepada anggota keluarga. Anggota keluarga merupakan kesatuan komponen yang harus saling bekerjasama demi tercapainya konsep hidup minimalis beserta kebahagiaan yang diharapkannya. Kita perlihatkan betapa asyiknya hidup hanya dengan sedikit barang dan rumah yang rapi.

Gaya hidup yang sederhana juga bisa berdampak positif pada bumi, penghuninya dan generasi mendatang. Dampak penting yang akan semakin mendorong kita untuk mengurangi konsumsi dan hidup tanpa beban di muka bumi. Kata Mahatma Gandi, "Hiduplah dengan sederhana agar orang lain dapat hidup." Tak disangka inilah hadiah terbesar yang bisa didapatkan dari hidup minimalis. Kita harus berpikir global bahwa didunia ini kita hidup bersama lebih dari tujuh miliar orang lainnya. Ruang dan sumberdaya kita terbatas, lalu bagaimana kita bisa menjamin ada cukup makanan, air, lahan, dan energi untuk masa yang akan datang jika tanpa sedikitpun menerapkan konsep hidup minimalis?

Kelebihan Buku:

-       Buku ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin meraih kebahagiaan dengan menerapkan cara hidup minimalis

-       Isi dari buku ini bisa membuka wawasan baru untuk kita semua  terkait manfaat yang luar biasa dari konsep hidup minimalis.

     -   Bahasa yang digunakan mudah dipahami maksudnya.

     -   Metode STREAMLINE yang ditawarkanpun mudah diingat dan dipahami.

Kekurangan Buku:

-       Tidak menyertakan form timeline dan cek list daftar pekerjaan yang mestinya bisa lebih menuntun pembaca untuk mempraktekkan tiap metode yang ditawarkan secara bertahap.

-       Tidak ada contoh cerita kasus khusus yang bisa jadi inspirasi buat pembaca untuk lebih memberikan stimulus dalam menerapkannya dikehidupan nyata.

Kamis, 13 Desember 2018

Belajar Public Speaking itu Penting


[ JJB ke #24 ]

"All the great speakers were bad speakers at first (setiap pembicara hebat pada mulanya adalah pembicara yang buruk)”. – Ralph Waldo Emerson

Dok.UKM JM


Sepertinya banyak benarnya apa yang dikatakan Ralph Waldo Emerson di atas. Pertama harus kita sepakati dulu, bahwa kesuksesan itu berawal dari sebuah proses yang penuh dengan perjuangan. Begitupun dengan kesuksesan manjadi public speaker, merekapun pasti punya jam terbang tinggi yang dibarengi dengan latihan, latihan dan latihan. Hingga ia menapaki tangga kesuksesannya menjadi public speaker yang bisa dibilang sudah “WOW”.

Menjadi pembicara hebat memang banyak keuntungan yang akan kita dapatkan. Bahkan communication skill saat ini seakan sudah menjadi sebuah anak tangga yang wajib dijajaki untuk menuju level tangga-tangga kesuksesan berikutnya. Jika mungkin ditanyakan, apa yang bisa merubah dunia selain teknologi, maka jawabannya adalah “kata-kata”, baik kata-kata yang ada dalam tulisan maupun pidato. Tapi sayangnya tidak banyak orang yang menguasai keahlian tersebut.

Seperti yang kita ketahui bersama pemimpin-pemimpin besar dunia adalah juga seorang pembicara yang hebat. Sebut saja misalnya Adolt Hitler (Nazi, Jerman) di dalam bukunya yang berjudul “Mein Kampt” dia dengan jujur mengatakan, “Ich konnte reden,” artinya, “saya menguasai dunia karena kemampuan berpidato.” Katanya. Begitupun dengan pemimpin revolusi Indonesia, bapak proklamator kemerdekaan republik Indonesia Ir.Soekarno juga merupakan pembicara yang hebat pada zamannya. Beliau disebut-sebut sebagai singa podium karena kepiawiannya membawakan pidato di depan rakyat Indonesia dengan berapi-api.

Ada beberapa dampak yang akan kita rasakan jika memiliki kemampuan public speaking seperti yang dikatakan Amirulloh Syarbini dalam bukunya “Jago Public Speaking & Pintar Writing”. Dampak-dampak positif tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pengaruh Dasyat. Pembicara hebat pasti akan memiliki pengaruh yang luar biasa bagi para pendengarnya. Ide-idenya selalu dinanti. Petuah-petuahnya selalu dirindukan. Dan buku-buku yang ditulisnya selalu dibaca jutaan orang. Bahkan sampai meninggal dunia pun, nama-nama mereka tetap diabadikan dalam buku-buku sejarah. Artinya, jika hal tersebut bermanfaat bagi sesama sudah barang tentu juga akan menjadi sebuah “ilmu yang bermanfaat” yang mana pahalanya akan terus mengalir walaupun kita sudah meninggal kelak.

2. Karir Melesat. Dengan kemampuan berbicara dasyat, tak hanya pengaruhnya saja yang luar biasa namun karirnya pun akan meningkat. Seseorang yang mampu memberikan ‘kesan’ dengan  lawan bicaranya, akan menambah nilai (Value added) di depan orang lain dibandingkan dengan orang yang sebenarnya memiliki pengetahuan atau pendidikan baik tetapi tidak mampu mengungkapkan pendapatnya di depan publik. Nama-nama seperti Andrie Wongso (Motivator) atau Tukul Arwana (Presenter) adalah salah satu bukti nyata bahwa kehebatan berbicara yang mereka miliki mampu menghapus keterbatasan pengetahuan dan pendidikan.

3. Popularitas Meningkat. Siapa sih yang tidak mengenal Abdullah Gymnastiar (AA Gym), Yusuf Mansur, Tung Desem Waringin, Choky Sitohang, Andrie Wongso, Tukul Arwana, Mario Teguh, dan lainnya. Apa yang menyebakna mereka terkenal? Kita pasti sepakat, penyebabnya adalah karena mereka pembicara publik yang dasyat. Ya, mereka populer karena kemampuan bicara. Dengan kehebatan berbicaranya, entah itu cara penyajiannya, materi yang disampaikannya, gaya personalnya, mereka akan semakinn diingat dalam benak semua orang.

4. Pendapatan Berlipat. Sebagaian besar orang sukses dari bidang apapun selalu memiliki daya jual yang membuatnya mahal, yaitu “kemampuan berbicara”. Nama-nama besar yag dikenal memiliki kehebatan berbicara di negeri ini adalah mereka yang mempunyai penghasilan luar biasa. Sebut saja misalnya Tung Desem Waringin, ada yang tahu berapa bayaran yang diperoleh TDW untuk mengisi seminar dalam sehari? Menurut informasi yang beredar, sekali mengisi seminar, TDW dibayar tidak kurang dari 80 juta. Bisa kita bayangkan bukan? Berapa pundi-pundi rupiah yang akan didapatkan misalnya setiap hari TDW mengisi seminar atau training. Belum lagi kita bicara penghasilan pembicara-pembica lain seperti Mario Teguh, Tukul Arwana, AA Gym dan lain-lain.

Saya terkadang memang merasa 'iri' pada mereka yang mampu berbicara lancar di depan publik. Terlebih dia memang tak hanya pandai bicara tapi juga konten yang disampaikan punya bobot tersendiri. Terlebih jika dia masih muda, seperti misalnya Makmun Rasyid (Penulis Buku HTI Gagal Paham Khilafah, Rasulullah Way Of Life, dan Hafidz Qur’an), dia menurut saya adalah satu pembicara muda yang idealis. Pemuda yang dengan kecerdasannya berbicara di mukan umum dan dia berbicara secara ringkas, rapi, berbobot sekaligus dapat membius audience dengan retorikanya bagiku sungguh luar biasa. Dan sialnya bakat tersebut belum ada pada diri saya pribadi.

Tapi walaupun begitu, saya sedikit benci pada mereka yang suka bicara namun tidak pernah meng-upgrade pengetahuannya lewat membaca buku atau sumber bacaan lainnya. Pokok pembahasan yang dibicarakan pasti tak jauh dari yang 'itu-itu' saja. Kiranya mungkin akan lebih indah jika seseorang yang gemar mengisi memori otaknya dengan berbagai pengetahuan  dan disamping itu dia juga mahir berbicara. Saya teringat akan pesan dari H.O.S Cokro Aminoto, “Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”. Saya pikir-pikir pantas saja Bung Karno menjadi pemimpin besar karena beliau punya keahlian dua-duanya.

Bersama Mas Pramono (Coach Public Speaking Wow Speaker)

Saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan  orang-orang yang punya kemampuan public speaking yang dasyat seperti Andrie Wongso (Motivator), M.Pramono ( Public Speaking Coach & People Skill Trainer), Rizki Erdiantoro (Grafolog & Public Speaker), teman-teman senior Forum Kopi Wow (Wow Speaker Indonesia) dan lain-lain. Terutama kepada mas Pram (panggilan akrab M.Pramono) yang telah menjadi coach saya dalam belajar mengenai public speaking di Surabaya. Saya ucapkan terima kasih banyak telah mengajarkan sejak dini mengenai teknik-teknik public speaking meskipun masih banyak yang belum saya terapkan dan belum saya kuasai saat berbicara dihadapan orang banyak.

Latihan, latihan dan latihan


Sedikit meminjam perkataan coach saya M.Pramono, “Semua orang bisa menjadi Wow Speaker, karena yang dibutuhkan bukan besarnya talenta melainkan besarnya komitmen untuk berlatih, berlatih dan berlatih. Wow Speaker itu bukan bakat, melainkan komitmen”. “Suaiapp coach, saya akan berkomitmen untuk berlatih terus seperti apa yang mas Pram pesankan,” jawab saya dalam hati.

Sidoarjo, 14 Desember 2018 || Budi Setiawan


Minggu, 18 November 2018

Kenapa Berhenti Produktif?


JJB ke #23


"Dan para insinyur di Jepang sering diingatkan akan sebuah moto, ‘Tidak pernah akan ada kemajuan jika Anda mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama dari waktu ke waktu"  

        -Masaaki Imai-         

Sumber Foto: news.lewatmana.com



Terus beraktifitas, bekerja dan berkreatifitas adalah sebagai pertanda daya hidup seseorang. Maka kelangsungan hidup seseorang tergantung pada tingkat produktifitasnya sebagai manusia. Namun, sayangnya tidak semua orang menyadari akan hal itu. Sehingga seperti yang sering kita lihat bersama banyak pengangguran, berandalan, anak jalanan, maling, pencopet dan lain-lain. Mereka bertebaran di sekitar kita akibat kurang produktifnya pribadi tersebut. Hal itu sudah pasti akan menjadikan masalah masyarakat (Problem Society) yang perlu untuk dituntaskan.

Seiring berjalannya waktu, seorang yang berakal pasti punya cita-cita dan harapan untuk meraih kesuksesan hidup. Artinya adalah kesuksesan ini bisa berupa pencapaian atau prestasi yang berhasil ia raih setelah dirinya bekerja keras dalam mengerjakan sesuatu.
Produktif dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang menguntungkan atau bermanfaat bagi dirinya atau kegiatan yang dipenuhi  hal-hal yang bermanfaat. Tidak hanya itu dalam islampun seorang yang produktif seperti misalnya bekerja karena mengaharap ridha Allah pun dianggap ibadah. Beliau Ibnu Umar R.A dari Rasulullah, berkata,”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang beriman yang berkarya.”(HR.Thabrani dalam Al-Kabir)

Untuk mengetahui produktif atau tidaknya seseorang, menurut saya cukup dengan kita mengajukan pertanyaan, “apa karyamu?” itu mungkin sudah cukup dan mewakili dari sekian pertanyaan untuk menguji seseorang produktif atau tidak. Karena syarat seseorang dikatakan produktif yang paling utama adalah dengan karya dan pencapaian apa yang ia ukir selama ini. Menurut saya sebuah karya atau pencapain tersebut tidaklah harus sesuatu yang besar, hal kecilpun bisa dikatakan produktif asal ia punya nilai lebih (Value added) yang bisa membuat dirinya berdaya.

Beberapa bulan terakhir saya merasa ada penurunan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih produktif. Walaupun di satu sisi angan-angan untuk berencana memperbaiki kualitas diri hari demi hari itu selalu ada, namun pada kenyataannya saya tetap saja terkalahkan oleh rasa malas yang berkepanjangan ini. Sialnya terkadang kesadaran-kesadaran seperti ini hanya mampir sebentar, setalah itu edan lagi.

Penurunan semangat dalam hidup ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja atau bahkan diternak untuk kemudian beranak pinak. Ya, kalau misal yang diternak sapi mah bisa menghasilkan. Lha kalau misal sikap malas yang diternak maka jelas rugilah yang akan didapat. Oleh karnanya, kata ‘semangat’ menjadi semacam amunisi yang perlu ada agar kita bisa mencapai target-target kehidupan yang sudah direncanakan.

Dahulu kala ada sebuah legenda yang menyebutkan bahwa manusia serigala (werewolf) memiliki kekuatan yang akan meningkat berkali lipat jika bulan purnama tiba. Begitu juga dengan tukang sihir. Segala kemampuannya akan meningkat disaat bulan purnama menjelang. Kekuatan sihirnya akan mencapai puncak saat momen sakral itu tiba. Hal tersebut berlaku juga bagi kita, kita sendiri bisa membuat purnama yang menggairahkan semangat. Purnama tersebut dapat kita ibaratkan dengan sesuatu yang menjadikan kita lebih bersemngat dan bergelora dalam menjalani kehidupan maupun untuk meraih pencapaian-pencapaian dalam hidup.

Purnama tersebut misalnya adalah seorang Ibu, dengan kita menjadikan ‘ibu’ sebagai purnama saat kuliah misalnya, maka kita akan lebih bersemangat untuk belajar dan menyelesaikan study. Purnama lain yang bisa jadi contoh mungkin bisa jadi calon pasangan kita. Ya, walaupun mungkin masih tampak samar-samar layaknya idghom syamsiyyah tapi setidaknya kita sadar bahwa kita harus betul-betul mempersiapkan diri untuk kebahagiaan keluarga kita di masa depan.(#Eaaakk) Prinsip “Perbaiki dirimu sama denganperbaiki jodohmu” memang sudah seharusnya kita terapkan karena katanya jodoh adalah cerminan diri kita.

Ada yang bilang, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Lah, ngimpi opo..!! emang situ punya kenalan orang dalam? Enggak kan hehe. Hal mustahil tersebut terkadang menjadi icon beberapa pemuda yang tidak punya kesadaran untuk tumbuh dan berkembang. Ia seakan-akan menjadi bunga tidur bagi pemuda yang senang menginap di zona nyaman. Dengan kata “Nyaman” inilah sebuah realitas seakan terlihat tidak jelas, dan akirnya terjebak dikenyamanan yang hanya sebatas kamuflase.

Menjadi seseorang produktif bisa kita latih dengan hal-hal sederhana, misalnya kalau biasanya kita mandi sekali dalam sehari menjadi tiga kali dalam sehari. Kalau misal kita biasaya datang telat ke kampus, kita rubah menjadi datang tiga puluh menit lebih dulu sebelum jam perkuliahan dimulai. Selanjutnya mungkin bisa dibuat planing yang lebih serius dan membuat skala prioritas sehari-hari agar hidup kita jadi lebih terarah. Dan yang terpenting adalah kita harus punya visi dalam hidup. Visi tersebut bisa kita artikan dengan sebuah pertanyaan, “kira-kira sepuluh tahun yang akan datang kita ingin menjadi apa?” artinya bahwa visi itu harus mencangkup tujuan dan cita-cita jangka panjang kita.

Kalau misalnya ada yang bertanya apakah saya punya visi, jawabannya sudah pasti punya. Saya punya visi dalam sepuluh tahun ke depan ingin menjadi seorang penulis best seller yang bisa menginspirasi pembaca lewat tulisan dan menjadi seorang pengusaha yang bisa ikut serta menciptakan lapangan pekerjaan baru. Saya tidak perlu malu memplubikasikan visi dan cita-cita saya ke depan, karena dengan cara seperti ini mungkin bisa membuat kita lebih bertanggung jawab atas apa yang sudah direncanakan dan syukur-syukur dari teman-teman pembaca ada yang mau membantu meng-amini kan alhamdulillah banget. Hehe.

Semoga dengan kita mengkaji ulang  dan menganalisa kembali kaitannya dengan produktifitas kita sebagai manusia ini akan menambah gairah dan semangat ke depan agar lebih baik hari demi hari. Dan jangan sampai kita menjadi orang yang tidak ada kemajuan karena dari waktu ke waktu selalu melakukan hal yang sama seperti pesan para insinyur di Jepang kata Masaaki Imai di atas. Amiinn.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS.94:&)

Sidoarjo, 19 September 2018 || Budi Setiawan          

Sabtu, 10 November 2018

“Merasa Jatuh Cinta, Bolehkah?”


JJB ke #22

Sumber: Foto Pribadi

“Cinta itu berlebihan dalam kecenderungannya tanpa berharap mendapatkan sesuatu. Cinta itu kegelisahan dalam hati karena rasa jatuh cinta pada kekasih,” Begitu kata Junaid Albaghdadi, seorang ulama sufi yang dulu pernah hidup di Baghdad, Irak. Ketika kita dihadapkan pada suatu kegelisahan dalam hati, tiba-tiba mulut kita susah ngomong lalu tangan dan kaki kita gemeteran ketika tepat berada di depan cinta. Kemudian, senyum-senyum sendiri saat melihatnya dari jauh maka kamu bisa menyebutnya dengan nama “jatuh cinta.” Soo Don’t panic, it’s not some kind of sickness, therefore no need to call a doctor. Jangan panik, karena ia bukan sebuah dosa. Setidaknya ia belum tentu jadi sebuah dosa. 

Semua orang pernah merasakan cinta, cinta adalah fitrah dan indikasi kedewasaan. Bila kamu sudah merasakan jatuh cinta, saya ucapkan selamat! Karena itu tanda kamu normal dan baik-baik saja. Sebagai lelaki dan wanita normal, sudah menjadi kewajaran rasa cinta muncul diantara keduanya. Apalagi mereka berinteraksi dalam waktu yang lama. Terjadinya interaksi itu mungkin mereka satu kampus, satu kantor, satu pengajian, satu organisasi, atau segala “satu” yang lain.

Namun, bukan berarti ketika Allah menganugrahkan rasa cinta sebagai fitrah kepada manusia, lantas kita bebas mengeskpresikannya sesuai kehendak kita, sesuai apa pun yang kita inginkan. Ada masanya, ada tata caranya, dan ada aturannya. Karena itulah agama Islam diturunkan oleh Allah. Supaya kita tetap menjadi manusia yang mengekspresikan cinta sesuai dengan aturan-Nya.
Nah, kembali ke topik. Apakah jatuh cinta itu boleh. Dari berbagai analisa dan sudut pandang tentang cinta yang saya dapatkan ternyata jatuh cinta itu adalah anugrah bukan musibah.

“Tapi kenapa sebagian orang bersedih, merasa kehilangan, dan galau berkepanjangan karena jatuh cinta?”

Orang bersedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan, merasa kehilangan karena si doi lebih memilih menikah dengan cowok lain, dan galau berkepanjangan karena si cowok meminta putus. Itu semua terjadi karena harapan. Semakin tinggi harapan kita pada seseorang pun semakin sakit ketika kita tiba-tiba terjatuh. Kita boleh merasa optimis ketika jatung tiba-tiba berdetak lebih kencang saat melihat wanita cantik nan anggun di depan kita lalu otak tiba-tiba berkomentar “Aku harus bisa mendapatkannya” tapi jangan lupa izin dulu sama yang memilikinya. Izin sama Allah lewat Doa yang di sana kita selipkan namanya dan lewat  walinya jika kita sudah benar-benar yakin untuk menghitbahnya. Nggak mungkin kan, saat kita suka dan menginginkan hp  iPhone XS Plus series di counter hp menjadi milik kita misalnya, lantas kita langsung mengambilnya begitu saja tanpa membelinya terlebih dahulu? Yang ada malah kita babak belur karena dianggap maling dan menjadi sasaran amukan masa.

Begitulah cinta. Saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang maka saat itu pula kita harus berucap “Bismillah aku mencintaimu”. Karena segala cinta hanyalah milik Allah maka saat kita ingin memilikinya kita juga harus izin kepada pemilik-Nya. Dan hanyalah Allah yang berhak memutuskan apakah kita berhak untuk mendapatkan hatinya kemudian menghalalkannya untuk menyempurnakan agamanya atukah kita hanya akan menjadi tamu undangan saat dipesta pernikahannya. Semua atas kehendak Allah, kita hanya perlu berikhtiar dan berdoa untuk mendapatkan yang terbaik. Selebihnya serahkan kepada Allah sang pemilik cinta dari segala cinta dimuka bumi ini.

Sumber: Foto Pribadi

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan meras tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS.Ar-Rum:21)

Sidoarjo, 10 November 2018 || Budi Setiawan

Senin, 16 Oktober 2017

Bukan (Sebenar-benarnya) Orang Sibuk

[JJB Ke #16]
Bukan (Sebenar-benarnya) Orang Sibuk

“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS.Al-Insyirah:7)

Foto pribadi

Salah satu fakta tentang kehidupan modern yang tak terbantahkan adalah betapa banyaknya orang yang merasa dirinya sibuk. Dan seperti yang kita ketahui bersama sibuk karena pekerjaan menjadi salah satu alasan yang seringkali dilontarkan. Orang sibuk dianggap sebagian orang punya nilai lebih (value-added). Orang sibuk juga dianggap menjadi manusia yang lebih penting daripada orang yang tidak punya kesibukan. Ya, menurutku pengakuan seperti itu sah-sah saja selama orang tersebut lebih produktif daripada yang lain. Dalam arti dia bisa menghasilkan hasil karya yang lebih diatas rata-rata orang.

Berdasarkan kabar yang dimuat diportal berita online bbc.com disebutkan bahwa, kita merasa jauh lebih sibuk belakangan ini karena pekerjaan kita lebih banyak. Namun kita salah. Jumlah jam kerja – yang dibayar maupun tidak – tidak bertambah dalam beberapa dasawarsa terakhir. Setidaknya di Eropa atau Amerika utara. Lain halnya menurut pandangan Asisten Profesor Pemasaran di Columbia Bussiness School, Silvia Bellezza mengutarakan bahwa, “Di negara Italia, pada bulan juni, kalau anda mengatakan akan bekerja sepanjang musim panas, orang akan menganggap anda pecundang yang tidak berduit (untuk berlibur) dan tidak menarik,”bebernya.

Saat kita mendapat jawaban “sibuk” seringkali kita menjadi tidak tertarik untuk tau mereka sedang sibuk apa? Karena bisa jadi tidak ingin dianggap kepo. Namun kepada orang yang kita anggap cukup dekat, tentu saja ada keberanian untuk menanyakan atau hanya sekedar basa-basi. Alasan “sibuk” seakan sudah menjadi jurus andalan dalam medan perang di dunia modern ini.

Jika kita berbicara tentang siapa yang layak disebut sebagai orang tersibuk di Indonesia, maka kita sulit untuk menolak bahwa orang tersebut adalah presiden RI. Sebagai kepala negara dan orang nomer satu di Indonesia sudah barang tentu bisa kita anggap sebagai sesibuk-sibuknya orang. Tapi apakah benar begitu? Ternyata tidak. Ditengah anggapan bahwa presiden adalah orang tersibuk di Indonesia ternyata masih ada yang sempat dan bisa menyalurkan hobinya untuk menulis buku, bikin lagu dan menyanyi. Ya, siapa lagi kalau bukan bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) atau lebih dikenal dengan nama pak Beye. Ini menjadi tamparan keras bagi saya bahwa orang yang notabene-nya nomer satu di Indonesia saja masih bisa produktif untuk menyalurkan hobinya. Lalu bagaimana dengan orang-orang kurang penting seperti saya? He.

Ah, sepertinya terlalu naif jika saya dengan pedenya menganggap diri ini sudah terlalu sibuk. Padahal kenyataannya berlawanan. Bahkan bisa jadi alasan klise itu cuma jadi pembenaran untuk tidak mengerjakan tugas-tugas kampus misalnya, atau mungkin bisa jadi alasan untuk tidak menghadiri suatu undangan dan pertemuan. Seringkali kita saat jauh dengan orang tua, mereka menanyakan kepada kita, “Kok jarang ngasih kabar to le?” lalu kita jawab,”nggih buk, soalnya saya sibuk, banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan”. Yakin sesibuk itu? Hingga memberi kabar kepada orang tua pun kita tak ada waktu? Padahal kenyataannya kita setiap hari punya saja waktu untuk update status di sosmed dan chatting gebetan atau pacar. Mungkin lebih tepatnya dibilang saja “sok sibuk” itu mungkin lebih baik.

Membuat alasan “sibuk” berarti membatasi diri saya untuk lebih produktif dalam beramal. Dan pasti akan ber-impact terhadap buah hasil dari usaha saya selama ini. Saya merasa yakin diluar sana orang-orang yang sudah sedikit banyak menemukan singgasana kesuksesannya pasti punya jam terbang yang lebih tinggi daripada kita. Kalau saya mah jangankan terbang tinggi, suruh benerin genteng yang bocorpun masih ogah-ogahan karena takut jatuh. Sepertinya saya rasa perlu belajar menjadi Spiderman, agar bisa memanjat lebih tinggi dan nggak takut jatuh lagi.

Foto pribadi



Yang harus kita sadari adalah dibalik kesuksesan pasti ada keringat, air mata dan bahkan darah yang harus rela dikeluarkan. Kemenangan kaum muslimin melawan kafir quraisy pada saat perang badar dizaman Rasulullah, tidak lepas dari perjuangan yang sangat melelahkan. Banyak air mata dan darah kaum muslimin yang harus di ikhlaskan pada pada saat itu. Bisa kita bayangkan, seandainya sahabat-sahabat nabi tidak punya keberanian mengambil resiko untuk perang jihad pada waktu itu dengan dalih “sibuk” mengurusi pekerjaan, bagaimana nasib umat muslim? Sangat mustahil bukan dari 313 pasukan kaum muslimin yang menghadapi 1000 pasukan suku quraisy memenangkan sebuah peperangan seandainya sebelum berperang nyali kaum muslimin sudah ciut.

Sidoarjo, 17 Oktober 2017 || Budi Setiawan

Jumat, 07 Juli 2017

Hajat Penggantian Nama Jurnal

Hajat Penggantian Nama Jurnal

[ JJB: Jurnal Jomblo Berprinsip ke#13]

     Sumber foto:http://goowes.co/2016/10/27/


Sebulan lebih blog ini tak tersentuh tangan saya. Saya merasa menjadi kesatria yang kalah di medan pertempuran sengit dengan komitmen saya yang saya tulis dijurnal sebelumnya. Saya berjanji pada diri sendiri akan rutin menulis jurnal diblog ini paling tidak seminggu sekali. Namun pada kenyataannnya lebih dari sebulan blok ini nyaris tak saya sentuh. Nggak kebayangkan andaikan blog ini diibaratkan cewek dan sudah satu bulan lebih saya cuekin, pastilah sudah berpaling ke lain hati he.

Dijurnal ke#13 ini alhamdulillah saya seperti mendapatkan sebuah wangsit (baca:ilham) untuk mengubah judul jurnal saya diblog ini. Yang seperti diketahui bahwa postingan-postingan sebelumnya saya memberi judul jurnal dengan nama JJM (Jurnal Jomblo Mulia) yang nanti akan saya rubah menjadi JJB (Jurnal Jomblo Berprinsip). Penggantian nama ini bukan tanpa alasan. Salah satu alasan yang mendasarinya adalah saya rasa terlalu naif jika saya menyebut diri sebagai jomblo mulia. Karena memang pada kenyataannya terlalu jauh dari apa yag dikatakan mulia. Pastinya terlepas dari makna dari jomblo yang pada hakikatnya memang mulia seperti yang telah saya ulas di jurnal sebelumnya yang berjudul Jomblo Itu Bukan AIB . Ini mungkin sebagai muhasabah diri saya selama ini. Akhir-akhir ini saya akui banyak melakukan kekhilafan dan dosa yang membuat hati saya menjadi gundah gulana. Kosa kata "gundah gulana" ternyata tak hanya bersandingan dengan masalah cinta saja. Tapi dosa-dosa yang kita lakukan juga akan menggelapkan hati kita sekaligus mebuat hati ini menjadi gelisah.

Saya sepertinya telah terjebak dalam lingkaran setan yang berkepanjangan. Hingga berkali-kali mengulangi dosa yang serupa. Tidak perlu saya publikasikan dosa seperti apa yang telah saya lakukan hingga saya menyesalinya seperti ini. Biarlah ini menjadi rasahasia antara aku dengan Allah SWT saja, mungkin dengan beberapa teman dekatku saja. JJB (Jurnal Jomblo Berprinsip) ini mungkin lebih tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini. Yang memang pada awalnya saya memutuskan berstatus single (baca: jomblo) itu karena sebuah prinsip bukan nasib. Ya mudah-mudahan saya tidak gampang khilaf untuk merubah status saya ini terkecuali saya memang sudah benar-benar siap untuk mengakhiri ke-jomblo-an saya. Dan yang paling penting Allah telah mempertemukan dengan bidadari pilihanNya untuk saya. hehe. Sudahlah.. muhasabah kok malah jadi ngomongin jodoh haduh Ya Allah maafkan hamba khilaf.. Didalam jurnal ini saya berkeinginan untuk hanya menulis dengan berdasarkan apa yang telah saya alami dengan cara 3M (Membaca, merasa dan melakukan) untuk kemudian menulisnya based on true story.

Pagi tadi ketika saya membaca beberapa ayat Alqur'an saya menemukan salah satu ayat dalam surat Ar-Ra'd: 11 yang kurang lebih artinya seperti ini "Sesungguhnya Allah tidak merubah apa-apa/ keadaan yang ada pada suatu kaum (ma biqoumin), hingga mereka mengubah apa-apa/ keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka (ma bi anfusihim)". Hati saya terketuk untuk menyadari bahwa rutinitas dosa-dosa yang telah saya lakukan selama ini hingga yang semakin menjauhkan dari kata "mulia" itu karena sikap saya yang cenderung enggan merubah diri (jiwa) saya sendiri. merubah kebiasaan buruk yang selama ini saya lakukan. Saya sungguh takut kalau mendapatkan lebel sebagai orang yang munafik. Saya ingin jujur terutama kepada diri saya sendiri bahwa saya ini naif dan banyak dosa. Hingga saya berharap saya bisa menemukan teman-teman yang busa mengingatkan atas kesalahan yang saya perbuat, bukan hanya memuji kebaikan saya. Teman-teman yang saling menguatkan untuk merubah diri ini keluar dari apa yang disebut "lingkaran setan". Tapi saya begitu yakin bahwa hidup saya dimasa depan adalah yang saya pikirkan dan lakukan saat ini, bukan berdasar apa yang saya pikir dan lakukan dimasa lalu. Saya ingin hari ini lebih baik dari hari kemaren. Karena saya sama sekali tidak ingin menjadi orang yang merugi dikemudian hari.

8 Juli 2017 | Budi Setiawan

Senin, 12 Juni 2017

Tamu yang Terabaikan

Tamu yang Terabaikan

[JJM : Ke #12]


Saudaraku tersayang
Aku ingin pulang
Aku bak tamu yang tak diundang
Karena kehadiranku sering kau abaikan


Hampir setengah bulan aku bertamu diistanamu
Tapi kau tak meng-indahkan kedatanganku
Bahkan oleh-olehku yang aku bawa dari jauh, nyaris tak kau sentuh.

Memang dulu saat aku akan datang
Kau mengaku menyambutku dengan senang.
Marhaban yaa.. ramadhan..
Marhaban yaa.. ramadhan..

Tapi begitu aku datang kepadamu
Aku tak lebih hanya kau persilahkan masuk
Tanpa kau memberikan jamuan yang manis kepadaku

Al-qur'an hanya kau baca sekilas
Kalah dengan update status diwaktu dan tempat yang tak terbatas
Kau juga lebih senang tertidur pulas
Daripada beramal baik dan bekerja keras

Malampun kau sibukkan diri dengan berbelanja
Daripada kau minta ampunan atas segala dosa
Terkadang sholat maghrib sering kau tunda tunda,
Kalah asyik bercengkrama saat buka bersama.

Saudaraku,
rasanya aku seperti tamu yang tak diharapkan.
Sepertinya kau tak menyesal jika ku tinggalkan.

Percayalah wahai saudaraku
Belum tentu aku bisa bertemu kau lagi.
Karena bisa jadi jatah hayatmu keburu habis.
Kau pasti bakal menyesal lantaran membiarkanku terlantar.

Wahai Saudaraku,
Kapankah kau akan memperhatikanku
Sebelum aku benar-benar meninggalkanmu.

8 Juni 2017 | Budi Setiawan

Jumat, 26 Mei 2017

Cerita Dari Negeri Santri



Cerita Dari Negeri Santri

[JJM : Ke #11]

Suasana di kota Santri
Asyik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda-mudi berbusana rapi
Menyandang Kitab Suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang-pergi mengaji .
(lirik “Kota santri”- Nasidaria Qosidah)

Ini pondok putra tampak depan


Pesantren itu laksana Penjara Suci, memang benar. Pesantren seakan-akan menjadi penjara sekaligus surga bagi para pencari ilmu khusunya ilmu agama. Di sana terdapat gerbang laksana benteng kokoh, di mana gembok besinya seperti belenggu kebebasan bagi para penghuninya. “Pesantren” pun menyimpan berjuta kisah yang indah , pun di sana ada ukiran kenangan pahit, manis dan unik yang menurut saya sangat menarik untuk digubah dalam bingkai karya pena.

Asrama dan ruang kelas pondok putra

Di JJM (Jurnal Jomblo Mulia) yang ke 11 ini saya ingin berbagi cerita dan pengalaman tentang apa yang pernah kurasa, kualami dan kujalani. Betapa pernak-pernik perjalanan dipesantren tersebut terlalu sayang untuk hanya dikenang, namun harapannya semoga bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi saya pribadi khususnya dengan mengingat ingat perjalanan masa lampau sebagai acuan untuk melangkah kedepan. Karena seperti yang kita kita ketahui bersama ada ungkapan Experience Is The Best Teacher bahwa “Pengalaman adalah guru terbaik”. Adapun jika teman-teman pembaca mendapatkan kemanfaatan dari tulisan saya, ya alhamdulillah. Paling tidak akan sedikit memberikan jawaban dari pertanyaan: “Bagaimana sih, sebenarnya kehidupan dipondok pesantren itu?”.

Pembacaan Rutinan Maulid Simtudurror


Bagi saya pribadi, menghabiskan sebagian waktu dipondok menjadi sangat penting. Ada banyak sekali hal-hal yang tidak didapat ketika tak pernah mondok. Maka dari itu jika ingin merasakan bagaimana serunya kehidupan dipondok, silahkan mondok dulu. Itu merupakan satu-satunya cara. Kalau hanya dengan membaca buku-buku novel seperti negeri 5 menara karya Ahmad Fuadi atau film mengenai kehidupan dipondok itu saya rasa belum cukup. Tak akan bisa membuat kita total dalam memaknai sensasi saat-saat dipesantren. Ada satu alternatif seadainya teman-teman pembaca ingin merasakan bagaimana nuansa ngaji dipesantren yaitu dengan mengikuti kegiatan ngaji posonan. Mungkin kegiatan ini agak terdengar asing ditelinga kita. Karena memang kegiatan yang sering dilakukan di masyarakat umum adalah seperti tadarrus Al-qur’an, Kultum, ataupun kajian-kajian di bulan Ramadhan. Lalu apa itu ngaji posonan ? Ngaji posonan atau sering disebut ngaji kilatan adalah istilah jawa dalam menyebut tradisi pengajian di sebagian pesantren-pesantren di Indonesia yang dilaksanakan di bulan Ramadhan. Biasanya dilaksanakan kurang lebih 15-20 hari dibulan Ramadhan. Seperti apa keseruannya ngaji posoan di bulan Ramadhan? Jawabannya mungkin bisa dicoba sendiri-sendiri dulu ya, dan silahkan ditafsirkan sendiri-sendiri. Hehe. (Terkait pembahasan ngaji posonan Insya’Allah bisa saya tuliskan dijurnal berikutnya geh).

Suasana ngaji kitab kuning

Oke, kita lanjut (kembali ke laptop) he. Saya sendiri pernah mengenyam pendidikan dipondok pesantren tapi tidak lama hanya tiga tahunan di Kota ponorogo. Jika kita berbicara ponpes di Ponorogo yang maka yang paling terkenal adalah Pondok Modern Gontor yang pernah salah satu santrinya mengabadikan kisah dipondok Gontor itu kedalam sebuah novel yang menjadi Best Seller. Yaitu novel Negeri 5 menara karya A.fuadi. Tapi pondokku bukanlah di Gontor tersebut, pondok saya adalah pondok salaf dimana sistem pengajarannya menganut sistem tradisional. Pondok pesantren yang mengkaji “Kitab-kitab kuning” (kitab kuno). Banyak hal yang mengesankan ketika mondok dipesantren salaf salah satunya adalah hubungan antara kyai dengan santri cukup dekat secara emosional. Kyai terjun langsung  dalam menangani para santrinya. Yang menjadi ciri khas pesantren salaf yaitu sistem pengajarannya menggunakan arab pegon, dimana arab pegon tersebut sebagai metode dalam memaknai kitab yang diajarkan dengan tulisan arab tapi menggunakan bahasa jawa. Kebetulan pondok saya dulu adalah pondok yang memadukan sistem pengajaran tradisional dengan sistem modern dengan adanya sekolah umum di lingkup pesantrennya seperti adanya sekolah MTs (setara dengan SMP) dan MA (setara dengan SMA). Sehingga saat saya mondok dipesantren tersebut tidak hanya ilmu agama yang diajarkan tapi ilmu umum juga tidak ketinggalan.

Asyiknya makan bersama santri

Yang menyenangkan dari Santri di pondok adalah sikap kekeluargaannya. Teman se-pondok bagiku adalah sebuah keluarga besar. Karena orang tua dari para santri bertempat tinggal jauh dari pondok bahkan ada beberapa santri yang berasal dari luar pulau, maka teman-teman santri yang dirasa lebih dekat menjadi keluarga baru dipondok. Jika ada yang sakit maka teman sekamar yang mengurusnya. Saat kehabisan bekal pinjam teman yang punya, saat ada makanan dimakan bersama-sama (Senampan bersama) dan saat ada masalah kita saling curhat untuk saling memberi solusi. Indah nian jika mengingat masa-masa itu yang sulit sekali saya dapatkan saat sudah mengenyam pendidikan di bangku kuliah saat ini. Untuk meringankan beban orang tua dulu ketika mondok saya nderek ndalem (bekerja jadi abdi ndalem dirumahnya Kyai) dan alhamdulillah selama mondok saya dibebaskan dari tanggungan SPP baik yang sekolah umum maupun SPP pondok. Bahkan biaya makan dan asrama pun saya ditanggung ndalem (keluarga kyai). Saya hanya mengeluarkan biaya untuk keperluan pribadi saja seperti, kitab-kitab, buku, peralatan mandi dll. Dari situ saya bisa sedikit meringankan beban Orang Tua. Di ndalem bu Nyei keseharianku  adalah jadi petugas kebersihan baik membersihkan ndalem bu Nyei dan juga mengambil sampah-sampah di halaman pondok putri. F.Y.I hanya santri putra yang ikut ndalem seperti aku sajalah yang boleh masuk dipondok putri. Sebenernya awal-awalnya malu untuk mengambil sampah itu tapi lama-lama jadi biasa saja. Terkadang ada rasa senang juga saat papasan dengan dengan santriwati yang jadi pujaan hati hehehe. Walaupun hanya sebatas saling tebar senyum dan curi pandang dikit tapi senengnya bukan main. Eiiits.. ini pun juga saya lakukan dengan ekstra hati-hati. Kalau sampai Ibu Nyai atau Abah tahu bisa terjadi musibah besar hehe. (Jangan ditiru ya).




Mungkin terkesan sering saya mempromosikan pondok dan kegiatan-kegiatan santrinya di media sosial. Ya, saya memang menuliskannya dalam rangka ikut mengkampanyekan gerakan “ayo mondok” yang dicanangkan PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Seperti yang diutarakan Katib Syuriyah PCNU Jember, Ustadz MN.Harisudin, gerakan Ayo Mondok merupakan langkah positif dalam rangka mencetak generasi bangsa yang cerdas sekaligus berakhlak mulia. Dan pastinya kita berharap agar orang-orang mau menengok pesantren sebagai lembaga pendidikan alternatif ditengah zaman “kekinian” yang begitu tak karuan saat ini. Saya pun begitu tertampar ketika membaca wejangan dari KH.Abdullah Kafabihi Mahrus (Pengasuh pondok Lirboyo kediri) yang menyebutkan “alumni pesantren yang tidak peduli dengan pesantren tidak lebih baik dari yang tidak alumni tapi peduli dengan pesantren”. Lewat membagikan kesan-kesan dari nilai kebaikan-kebaikan yang pernah saya jumpai dipondok ini semoga menjadi sedikit usaha untuk peduli terhadap pusat kaderisasi da’i-da’i itu sendiri. Amiin.

Ziarah Wali di Madura dengan teman seperjuangan

Banyak hal kenapa Orang Tua penting memondokkan anaknya di pesantren. Menurut pengalaman penulis sendiri ada beberapa hal yang dirasa menjadi alasan kenapa mondok itu penting. Pertama dipondok pesantren terutama pondok salaf (Pondok Tradisional NU) memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari dipesantren salaf bisa dipertanggung jawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua diperkenalkannya konsep barokah. Dalam kehidupan di pesantren barokah ini menjadi hal yang sangat penting bagi semua santri. Seringkali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapat barokah kyainya maka akan sia-sia ilmunya. Barokah sendiri mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah SWT (ziyadatul khoir). Artinya setiap waktu semakin bertambah baik. Ketiga dipesantren juga diajarkan bagaimana bersosial. Seperti yang telah saya ceritakan diawal bahwa kebersamaan di pesantren itu sangat erat diibaratkan penghuni pesantren adalah The Big Family (keluarga besar). Semisal bagaimana santri makan bersama dalam sebuah nampan. Dan saling saling bahu membahu jika teman yang lain terkena masalah atau musibah semisal sakit. Dari situ bisa kita lihat bahwa kebersamaan menjadi hal penting kaitannya dengan pendidikan sosial. Kelima adalah Akhlak. Seseorang santri yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan.
Para pengasuh pondok (No.2 dari kiri adalah Kyai Zami' Khudz Dza wali Syam No.3 adalah Kyai Ayyub Ahdiyan Syam

Ini hanyalah sedikit pengalaman yang pernah penulis alami. Masih banyak pengalaman dan hal-hal lain yang menjadi jawaban bahwa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. InsyaAllah jika saya nanti dikaruniai anak maka saya berniat untuk memondokkannya. Tentunya setelah saya dipertemukan jodoh saya dulu,he.

Sekian.

26 Mei 2017 | Budi Setiawan

 Foto-foto lain:




Habis ngaji ya ngrumpi bahas Agama, negara kemudian santri putri hehe
Sepak bola ala santri

Ziarah wali dengan Romo Kyai Ayyub
Pelantikan pengurus OSIPP (Organisasi Santri Intra Pondok Pesantren)