Tampilkan postingan dengan label jurnalistik mahardhika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalistik mahardhika. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2019

Mahasiswa: Representasi Kaum Borjuis dan Proletar (Buruh) Masa Depan

[[ JJB Ke #26 ]]

Foto Pribadi: May Day 2018 yang lalu


Sebelum membaca tulisan saya terlalu jauh, saya ingin mengajak teman-teman untuk bernyanyi bersama dalam sebuah alunan lagu di bawah ini: 

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota bersatu padu rebut demokrasi gegap gempita dalam satu suara demi tugas suci yang mulia

hari hari esok adalah milik kita terciptanya masyarakat sejahtera terbentuknya tatanan masyarakat Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita kabarkan di tangan kita tergenggam arah bangsa marilah kawan mari kita nyanyikan sebuah lagu tentang pembebasan (Buruh Tani)

Begitulah kira-kira lagu yang sering didengungkan oleh para demonstran dari serikat buruh dan mahasiswa yang tengah menyuarakan aspirasinya di telinga para penguasa. Saya yakin teman-teman yang mengaku sebagai aktivis kampus baik dari Pers Mahasiswa maupun Ormek-ormek (Organisasi Ekstra) seperti HMI, PMII, GMNI dan lain-lain tidak asing dengan lagu tersebut. Namun bagi sebagian mahasiswa yang "IPK Oriented" mungkin masih asing, ada baiknya jika memang iya coba cek di YouTube dulu judul lagunya "Buruh Tani" hehe.

Kita bukan hanya sebatas membahas popularnya lagu tersebut di kalangan aktivis, tapi lebih dari itu. Jika kita analisa lebih lanjut, ada semacam konvergensi yang saling berkaitan antara mahasiswa dengan buruh sebagai subjek instrumen demokrasi. Dan itu terpapar jelas di bait pertama lagu. Artinya, masalah yang berkaitan dengan buruh juga seharusnya menjadi masalah yang patut diperbincangkan di kalangan akademisi seperti mahasiswa.

Berkaca pada sejarah, Hari Buruh "May Day" diresmikan pada 1 Mei oleh pemerintah lewat UU Kerja No.12/1948. Dalam pasal 15 ayat 2 UU No.12 Tahun 1948 dikatakan, "Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja". Namun situasi berubah ketika Orde Baru berkuasa. Sejak 1 Mei 1967, hari buruh sedunia "May Day" dilarang. Serikat buruh dibatasi ruang geraknya dan Orde Baru melemahkan gerakan buruh dengan berbagai cara. Tidak hanya itu, Bahkan pergerakan mahasiswa pada waktu itu juga dibungkam dengan diberlakukannya kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinas Kemahasiswaan). Buruh dan Mahasiswa pada saat itu haknya dibelenggu dengan meng-haram-kan kritik terhadap rezim.

Tahun 1998 ketika Mahasiswa terlibat aksi demonstrasi besar-besaran akhirnya ORBA tumbang dan pasca itu peringatan hari buruh sedunia tak lagi dilarang. Begitulah hiruk pikuknya sekilas perjuangan mahasiswa dan buruh melawan penindasan kapitalisme pada masa itu. Yang sebenarnya antara keduanya saling bertautan seperti yang sudah saya jabarkan di awal.

Mahasiswa: Buruh Masa Depan

Apa artinya hal tersebut bagi mahasiswa? Kita bisa menyimpulkan bahwa mahasiswa adalah para buruh di masa depan. Dengan posisinya sebagai ‘buruh masa-depan’, maka mahasiswa sebetulnya harus sadar bahwa kepentingan buruh saat ini adalah kepentingannya di masa yang akan datang. Ketika mahasiswa lulus, dalam profesi apapun ia bekerja, ia harus sadar bahwa ia adalah ‘buruh’. Kesadaran atas subjektivitasnya inilah yang, menurut Zizek (2009) akan menjadi salah satu fondasi dari resistensi yang ia bangun pada konstruksi bangunan yang bernama kapitalisme.

Mahasiswa: Borjuis Masa Depan.

Seperti yang kita ketahui, makna dari Borjuis menurut KBBI adalah kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas (biasanya dipertentangkan dengan rakyat jelata). Artinya, mahasiswa selain menjadi bagian buruh di masa depan seperti yang saya uraikan di awal juga ada kemungkinan untuk menjadi seorang Borjuis dari kalangan menengah ke atas. Bisa jadi lewat jalur menjadi pejabat pemerintah ataupun menjadi seorang pengusaha. Dan sadarlah, bahwa di kelas inilah benih-benih Kapitalisme tumbuh. Sederhananya Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Tak hanya itu mereka juga rela menindas kaum buruh demi keuntungan pribadinya. Di era Revolusi Industri 4.0, ternyata akumulasi kapital tak hanya dilakukan di pabrik, tetapi  juga di berbagai tempat. Sebut saja misalnya kampus, sekolah, bank, rumah sakit ataupun di perusahan jasa berbasis online yang sekarang mulai tumbuh subur.

Nah, dengan kita mengetahui paham dan konstruksi yang diikuti para kaum kapitalis tersebut setidaknya kita di masa depan bisa menghindari untuk tidak terlibat dan terjatuh dalam kubangan lingkaran setan tersebut.

Begitu sebaliknya, jika mahasiswa adalah representasi dari 'buruh masa depan,' maka sudah selayaknya gerakan mahasiswa saat ini mengambil posisi yang inheren dengan gerakan buruh. Bahwa masalah buruh secara tersirat juga menjadi masalah mahasiswa begitu sebaliknya. Oleh karenanya seperti masalah kesejahteraan buruh yang selalu menjadi tuntutan tiap tahun baiknya menjadi PR juga bagi gerakan mahasiswa untuk ikut serta menyuarakan aksinya tak hanya sebatas di jalan namun juga lewat senjata intelektual-nya melalui penulisan berita Pers Mahasiswa misalnya atau lewat jalur lain. Tujuannya sama, yaitu untuk bersama-sama melawan dan menumbangkan Kapitalisme di Negeri ini. Lalu memberi sinyal "Hijau" bagi pengusaha yang ikut serta mensejahterakan karyawannya (Social Entrepreneur).

SELAMAT HARI BURUH SEDUNIA Bagi para buruh masa kini dan masa depan. Semoga kita tetap diberi kekuatan untuk tetap melawan Kapitalisme.

Sidoarjo, 30 April 2019 || Budi Setiawan

#SalamMahasiswa πŸ’ͺ
#SalamPersMahasiswa πŸ“ΈπŸ“
#SalamPergerakan.
#PanjangUmurPerjungan.

Rabu, 06 Februari 2019

MEMAHAMI TRANSFORMASI MARKETING 4.0

[ Resensi Buku #1 ]

Sumber: Foto Pribadi



Judul Buku      : Marketing 4.0, Bergerak dari Tradisional ke Digital
Pengarang       : Philip Kotler, Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan
Penerbit           : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2019
Tebal Halaman: 171 Halaman
Resentator       : Budi Setiawan

Sinopsis Buku:

            Revolusi industri 4.0 telah membawa pergeseran manusia dari tradisional ke digital dengan begitu cepat. Dilain pihak taktik pemasaranpun terjadi transformasi dan perkembangan dari waktu ke waktu.

            Enam tahun terakhir, marketing 3.0 menginspirasi dunia untuk merangkul dan menjelajahi pemasaran yang berorientasi pada manusia (Human Centris). Dengan adanya konvergensi teknologi ini akhirnya akan berunjung pada konvergensi antara pemasaran digital dan pemasaran tradisional. Untuk itu bapak pemasaran Phillip Kotler beserta Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan memperkenalkan marketing 4.0 sebagai perkembangan wajar dari marketing 3.0.

            Dasar pemikiran utama dari buku ini adalah bahwa pemasaran harus disesuaikan dengan perubahan alami dari jalur pelanggan dalam ekonomi digital. Para pemasar harus menerima pergeseran ke lanskap bisnis yang lebih horizontal, inklusif dan sosial. Media sosial telah menghapus rintangan geografis & demografis yang memungkinkan masyarakat berkomunikasi dan perusahaan berinovasi melalui kolaborasi.

            Paradoks dari pemasaran ke pelanggan terhubung, menuntut pemasar untuk memadukan antara interaksi online versus offline. Dan konektivitas telah memberdayakan pelanggan dengan informasi yang berlimpah. Selain itu Subkultur digital besar dari kaum muda, perempuan dan warganet yang akan menjadi pondasi bagi jenis pelanggan baru sepenuhnya disaat ini.

            Di era digital ini jalur pelanggan didefinisikan ulang dari 4A (Aware, Appeal, Ask dan Act) menjadi 5A (Aware, Appeal, Ask, Act dan Advocate) karena ternyata pendapat dan rekomendasi dari keluarga dan teman-teman kita memiliki dampak besar terhadap keputusan pembelian. Anjuran itu bisa dari online contohnya  TripAdvisor, posting produk perusahaan dll  maupun dari offline.

            Sejalan dengan 5A, buku ini memperkenalkan seperangkat metrik baru yaitu purchase action ratio (PAR) dan brand action ratio (BAR). Keduanya dapat mengevalusai dengan lebih baik seberapa efektif pemasar dalam menggerakkan pelanggan dari sadar ke bertindak dan akhirnya menganjurkan. Pada intinya PAR dan BAR memungkinkan pemasar untuk mengukur seberapa produktivitas usaha pemasaran dalam sebuah perusahaan. Juga ditelusuri secara mendalam beberapa industri kunci & belajar cara  melaksanakan gagasan marketing 4.0 pada industri 4.0 dengan mengidentifikasi empat pola besar untuk berbagai industri: “gagang pintu”, “ikan mas”, “terompet”, dan “corong”.

            Setelah itu dibagian ketiga diuraikan secara terperinci dari marketing 4.0 yang dimulai dengan pemasaran yang berorientasi pada manusia, yang ditujukan untuk memanusiakan mereka dengan atribut yang mirip manusia. Selain itu pemasaran konten dan pemasaran omnichannel juga diharapkan lebih diperhatikan dan ditingkatkan untuk meraih penjualan yang lebih tinggi dengan mengkombinasikan teknologi dengan tradisional.

            Pada akhirnya, marketing 4.0 adalah pendekatan pemasaran yang menggunakan interaksi online dan offline antara perusahaan dan pelanggan, memadukan gaya dan substansi dalam membangun merek dan akhirnya melengkapi onektivitas mesin ke mesin dengan sentuhan manusia ke manusia untuk memperkuat keterlibatan pelanggan. Pemasaran digital & pemasaran tradisinonal dimaksudkan untuk dipadukan dan dikombinasikan dengan tujuan mendapat pembelaan ataupun loyalitas pelanggan.

Kelebihan Buku:

-       Buku ini sangat cocok dibaca oleh para dosen, mahasiswa, praktisi dan pekerja pemasaran, pengusaha serta semua orang yang ingin mengetahui perkembangan terbaru dari dunia pemasaran.

-       Isi dari buku lumayan berbobot karena penulis memaparkan fakta berdasarkan data dan sumber-sumber yang relevan.

-       Memampukan pembaca untuk memeriksa contoh langsung peningkatan produktiviatas dari perkembangan marketing 4.0 dengan melibatkan pelanggan disepanjang jalur dunia nyata melalui pasar digital masa kini.

Kekurangan Buku:

-       Banyak istilah dalam buku ini yang mungkin akan susah dimengerti oleh orang awam.

-       Tidak ada indeks bukunya

-       Cover buku kurang maching dengan judulnya.

Kamis, 13 Desember 2018

Belajar Public Speaking itu Penting


[ JJB ke #24 ]

"All the great speakers were bad speakers at first (setiap pembicara hebat pada mulanya adalah pembicara yang buruk)”. – Ralph Waldo Emerson

Dok.UKM JM


Sepertinya banyak benarnya apa yang dikatakan Ralph Waldo Emerson di atas. Pertama harus kita sepakati dulu, bahwa kesuksesan itu berawal dari sebuah proses yang penuh dengan perjuangan. Begitupun dengan kesuksesan manjadi public speaker, merekapun pasti punya jam terbang tinggi yang dibarengi dengan latihan, latihan dan latihan. Hingga ia menapaki tangga kesuksesannya menjadi public speaker yang bisa dibilang sudah “WOW”.

Menjadi pembicara hebat memang banyak keuntungan yang akan kita dapatkan. Bahkan communication skill saat ini seakan sudah menjadi sebuah anak tangga yang wajib dijajaki untuk menuju level tangga-tangga kesuksesan berikutnya. Jika mungkin ditanyakan, apa yang bisa merubah dunia selain teknologi, maka jawabannya adalah “kata-kata”, baik kata-kata yang ada dalam tulisan maupun pidato. Tapi sayangnya tidak banyak orang yang menguasai keahlian tersebut.

Seperti yang kita ketahui bersama pemimpin-pemimpin besar dunia adalah juga seorang pembicara yang hebat. Sebut saja misalnya Adolt Hitler (Nazi, Jerman) di dalam bukunya yang berjudul “Mein Kampt” dia dengan jujur mengatakan, “Ich konnte reden,” artinya, “saya menguasai dunia karena kemampuan berpidato.” Katanya. Begitupun dengan pemimpin revolusi Indonesia, bapak proklamator kemerdekaan republik Indonesia Ir.Soekarno juga merupakan pembicara yang hebat pada zamannya. Beliau disebut-sebut sebagai singa podium karena kepiawiannya membawakan pidato di depan rakyat Indonesia dengan berapi-api.

Ada beberapa dampak yang akan kita rasakan jika memiliki kemampuan public speaking seperti yang dikatakan Amirulloh Syarbini dalam bukunya “Jago Public Speaking & Pintar Writing”. Dampak-dampak positif tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pengaruh Dasyat. Pembicara hebat pasti akan memiliki pengaruh yang luar biasa bagi para pendengarnya. Ide-idenya selalu dinanti. Petuah-petuahnya selalu dirindukan. Dan buku-buku yang ditulisnya selalu dibaca jutaan orang. Bahkan sampai meninggal dunia pun, nama-nama mereka tetap diabadikan dalam buku-buku sejarah. Artinya, jika hal tersebut bermanfaat bagi sesama sudah barang tentu juga akan menjadi sebuah “ilmu yang bermanfaat” yang mana pahalanya akan terus mengalir walaupun kita sudah meninggal kelak.

2. Karir Melesat. Dengan kemampuan berbicara dasyat, tak hanya pengaruhnya saja yang luar biasa namun karirnya pun akan meningkat. Seseorang yang mampu memberikan ‘kesan’ dengan  lawan bicaranya, akan menambah nilai (Value added) di depan orang lain dibandingkan dengan orang yang sebenarnya memiliki pengetahuan atau pendidikan baik tetapi tidak mampu mengungkapkan pendapatnya di depan publik. Nama-nama seperti Andrie Wongso (Motivator) atau Tukul Arwana (Presenter) adalah salah satu bukti nyata bahwa kehebatan berbicara yang mereka miliki mampu menghapus keterbatasan pengetahuan dan pendidikan.

3. Popularitas Meningkat. Siapa sih yang tidak mengenal Abdullah Gymnastiar (AA Gym), Yusuf Mansur, Tung Desem Waringin, Choky Sitohang, Andrie Wongso, Tukul Arwana, Mario Teguh, dan lainnya. Apa yang menyebakna mereka terkenal? Kita pasti sepakat, penyebabnya adalah karena mereka pembicara publik yang dasyat. Ya, mereka populer karena kemampuan bicara. Dengan kehebatan berbicaranya, entah itu cara penyajiannya, materi yang disampaikannya, gaya personalnya, mereka akan semakinn diingat dalam benak semua orang.

4. Pendapatan Berlipat. Sebagaian besar orang sukses dari bidang apapun selalu memiliki daya jual yang membuatnya mahal, yaitu “kemampuan berbicara”. Nama-nama besar yag dikenal memiliki kehebatan berbicara di negeri ini adalah mereka yang mempunyai penghasilan luar biasa. Sebut saja misalnya Tung Desem Waringin, ada yang tahu berapa bayaran yang diperoleh TDW untuk mengisi seminar dalam sehari? Menurut informasi yang beredar, sekali mengisi seminar, TDW dibayar tidak kurang dari 80 juta. Bisa kita bayangkan bukan? Berapa pundi-pundi rupiah yang akan didapatkan misalnya setiap hari TDW mengisi seminar atau training. Belum lagi kita bicara penghasilan pembicara-pembica lain seperti Mario Teguh, Tukul Arwana, AA Gym dan lain-lain.

Saya terkadang memang merasa 'iri' pada mereka yang mampu berbicara lancar di depan publik. Terlebih dia memang tak hanya pandai bicara tapi juga konten yang disampaikan punya bobot tersendiri. Terlebih jika dia masih muda, seperti misalnya Makmun Rasyid (Penulis Buku HTI Gagal Paham Khilafah, Rasulullah Way Of Life, dan Hafidz Qur’an), dia menurut saya adalah satu pembicara muda yang idealis. Pemuda yang dengan kecerdasannya berbicara di mukan umum dan dia berbicara secara ringkas, rapi, berbobot sekaligus dapat membius audience dengan retorikanya bagiku sungguh luar biasa. Dan sialnya bakat tersebut belum ada pada diri saya pribadi.

Tapi walaupun begitu, saya sedikit benci pada mereka yang suka bicara namun tidak pernah meng-upgrade pengetahuannya lewat membaca buku atau sumber bacaan lainnya. Pokok pembahasan yang dibicarakan pasti tak jauh dari yang 'itu-itu' saja. Kiranya mungkin akan lebih indah jika seseorang yang gemar mengisi memori otaknya dengan berbagai pengetahuan  dan disamping itu dia juga mahir berbicara. Saya teringat akan pesan dari H.O.S Cokro Aminoto, “Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”. Saya pikir-pikir pantas saja Bung Karno menjadi pemimpin besar karena beliau punya keahlian dua-duanya.

Bersama Mas Pramono (Coach Public Speaking Wow Speaker)

Saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan  orang-orang yang punya kemampuan public speaking yang dasyat seperti Andrie Wongso (Motivator), M.Pramono ( Public Speaking Coach & People Skill Trainer), Rizki Erdiantoro (Grafolog & Public Speaker), teman-teman senior Forum Kopi Wow (Wow Speaker Indonesia) dan lain-lain. Terutama kepada mas Pram (panggilan akrab M.Pramono) yang telah menjadi coach saya dalam belajar mengenai public speaking di Surabaya. Saya ucapkan terima kasih banyak telah mengajarkan sejak dini mengenai teknik-teknik public speaking meskipun masih banyak yang belum saya terapkan dan belum saya kuasai saat berbicara dihadapan orang banyak.

Latihan, latihan dan latihan


Sedikit meminjam perkataan coach saya M.Pramono, “Semua orang bisa menjadi Wow Speaker, karena yang dibutuhkan bukan besarnya talenta melainkan besarnya komitmen untuk berlatih, berlatih dan berlatih. Wow Speaker itu bukan bakat, melainkan komitmen”. “Suaiapp coach, saya akan berkomitmen untuk berlatih terus seperti apa yang mas Pram pesankan,” jawab saya dalam hati.

Sidoarjo, 14 Desember 2018 || Budi Setiawan


Minggu, 18 November 2018

Kenapa Berhenti Produktif?


JJB ke #23


"Dan para insinyur di Jepang sering diingatkan akan sebuah moto, ‘Tidak pernah akan ada kemajuan jika Anda mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama dari waktu ke waktu"  

        -Masaaki Imai-         

Sumber Foto: news.lewatmana.com



Terus beraktifitas, bekerja dan berkreatifitas adalah sebagai pertanda daya hidup seseorang. Maka kelangsungan hidup seseorang tergantung pada tingkat produktifitasnya sebagai manusia. Namun, sayangnya tidak semua orang menyadari akan hal itu. Sehingga seperti yang sering kita lihat bersama banyak pengangguran, berandalan, anak jalanan, maling, pencopet dan lain-lain. Mereka bertebaran di sekitar kita akibat kurang produktifnya pribadi tersebut. Hal itu sudah pasti akan menjadikan masalah masyarakat (Problem Society) yang perlu untuk dituntaskan.

Seiring berjalannya waktu, seorang yang berakal pasti punya cita-cita dan harapan untuk meraih kesuksesan hidup. Artinya adalah kesuksesan ini bisa berupa pencapaian atau prestasi yang berhasil ia raih setelah dirinya bekerja keras dalam mengerjakan sesuatu.
Produktif dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang menguntungkan atau bermanfaat bagi dirinya atau kegiatan yang dipenuhi  hal-hal yang bermanfaat. Tidak hanya itu dalam islampun seorang yang produktif seperti misalnya bekerja karena mengaharap ridha Allah pun dianggap ibadah. Beliau Ibnu Umar R.A dari Rasulullah, berkata,”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang beriman yang berkarya.”(HR.Thabrani dalam Al-Kabir)

Untuk mengetahui produktif atau tidaknya seseorang, menurut saya cukup dengan kita mengajukan pertanyaan, “apa karyamu?” itu mungkin sudah cukup dan mewakili dari sekian pertanyaan untuk menguji seseorang produktif atau tidak. Karena syarat seseorang dikatakan produktif yang paling utama adalah dengan karya dan pencapaian apa yang ia ukir selama ini. Menurut saya sebuah karya atau pencapain tersebut tidaklah harus sesuatu yang besar, hal kecilpun bisa dikatakan produktif asal ia punya nilai lebih (Value added) yang bisa membuat dirinya berdaya.

Beberapa bulan terakhir saya merasa ada penurunan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih produktif. Walaupun di satu sisi angan-angan untuk berencana memperbaiki kualitas diri hari demi hari itu selalu ada, namun pada kenyataannya saya tetap saja terkalahkan oleh rasa malas yang berkepanjangan ini. Sialnya terkadang kesadaran-kesadaran seperti ini hanya mampir sebentar, setalah itu edan lagi.

Penurunan semangat dalam hidup ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja atau bahkan diternak untuk kemudian beranak pinak. Ya, kalau misal yang diternak sapi mah bisa menghasilkan. Lha kalau misal sikap malas yang diternak maka jelas rugilah yang akan didapat. Oleh karnanya, kata ‘semangat’ menjadi semacam amunisi yang perlu ada agar kita bisa mencapai target-target kehidupan yang sudah direncanakan.

Dahulu kala ada sebuah legenda yang menyebutkan bahwa manusia serigala (werewolf) memiliki kekuatan yang akan meningkat berkali lipat jika bulan purnama tiba. Begitu juga dengan tukang sihir. Segala kemampuannya akan meningkat disaat bulan purnama menjelang. Kekuatan sihirnya akan mencapai puncak saat momen sakral itu tiba. Hal tersebut berlaku juga bagi kita, kita sendiri bisa membuat purnama yang menggairahkan semangat. Purnama tersebut dapat kita ibaratkan dengan sesuatu yang menjadikan kita lebih bersemngat dan bergelora dalam menjalani kehidupan maupun untuk meraih pencapaian-pencapaian dalam hidup.

Purnama tersebut misalnya adalah seorang Ibu, dengan kita menjadikan ‘ibu’ sebagai purnama saat kuliah misalnya, maka kita akan lebih bersemangat untuk belajar dan menyelesaikan study. Purnama lain yang bisa jadi contoh mungkin bisa jadi calon pasangan kita. Ya, walaupun mungkin masih tampak samar-samar layaknya idghom syamsiyyah tapi setidaknya kita sadar bahwa kita harus betul-betul mempersiapkan diri untuk kebahagiaan keluarga kita di masa depan.(#Eaaakk) Prinsip “Perbaiki dirimu sama denganperbaiki jodohmu” memang sudah seharusnya kita terapkan karena katanya jodoh adalah cerminan diri kita.

Ada yang bilang, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Lah, ngimpi opo..!! emang situ punya kenalan orang dalam? Enggak kan hehe. Hal mustahil tersebut terkadang menjadi icon beberapa pemuda yang tidak punya kesadaran untuk tumbuh dan berkembang. Ia seakan-akan menjadi bunga tidur bagi pemuda yang senang menginap di zona nyaman. Dengan kata “Nyaman” inilah sebuah realitas seakan terlihat tidak jelas, dan akirnya terjebak dikenyamanan yang hanya sebatas kamuflase.

Menjadi seseorang produktif bisa kita latih dengan hal-hal sederhana, misalnya kalau biasanya kita mandi sekali dalam sehari menjadi tiga kali dalam sehari. Kalau misal kita biasaya datang telat ke kampus, kita rubah menjadi datang tiga puluh menit lebih dulu sebelum jam perkuliahan dimulai. Selanjutnya mungkin bisa dibuat planing yang lebih serius dan membuat skala prioritas sehari-hari agar hidup kita jadi lebih terarah. Dan yang terpenting adalah kita harus punya visi dalam hidup. Visi tersebut bisa kita artikan dengan sebuah pertanyaan, “kira-kira sepuluh tahun yang akan datang kita ingin menjadi apa?” artinya bahwa visi itu harus mencangkup tujuan dan cita-cita jangka panjang kita.

Kalau misalnya ada yang bertanya apakah saya punya visi, jawabannya sudah pasti punya. Saya punya visi dalam sepuluh tahun ke depan ingin menjadi seorang penulis best seller yang bisa menginspirasi pembaca lewat tulisan dan menjadi seorang pengusaha yang bisa ikut serta menciptakan lapangan pekerjaan baru. Saya tidak perlu malu memplubikasikan visi dan cita-cita saya ke depan, karena dengan cara seperti ini mungkin bisa membuat kita lebih bertanggung jawab atas apa yang sudah direncanakan dan syukur-syukur dari teman-teman pembaca ada yang mau membantu meng-amini kan alhamdulillah banget. Hehe.

Semoga dengan kita mengkaji ulang  dan menganalisa kembali kaitannya dengan produktifitas kita sebagai manusia ini akan menambah gairah dan semangat ke depan agar lebih baik hari demi hari. Dan jangan sampai kita menjadi orang yang tidak ada kemajuan karena dari waktu ke waktu selalu melakukan hal yang sama seperti pesan para insinyur di Jepang kata Masaaki Imai di atas. Amiinn.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS.94:&)

Sidoarjo, 19 September 2018 || Budi Setiawan          

Sabtu, 10 November 2018

“Merasa Jatuh Cinta, Bolehkah?”


JJB ke #22

Sumber: Foto Pribadi

“Cinta itu berlebihan dalam kecenderungannya tanpa berharap mendapatkan sesuatu. Cinta itu kegelisahan dalam hati karena rasa jatuh cinta pada kekasih,” Begitu kata Junaid Albaghdadi, seorang ulama sufi yang dulu pernah hidup di Baghdad, Irak. Ketika kita dihadapkan pada suatu kegelisahan dalam hati, tiba-tiba mulut kita susah ngomong lalu tangan dan kaki kita gemeteran ketika tepat berada di depan cinta. Kemudian, senyum-senyum sendiri saat melihatnya dari jauh maka kamu bisa menyebutnya dengan nama “jatuh cinta.” Soo Don’t panic, it’s not some kind of sickness, therefore no need to call a doctor. Jangan panik, karena ia bukan sebuah dosa. Setidaknya ia belum tentu jadi sebuah dosa. 

Semua orang pernah merasakan cinta, cinta adalah fitrah dan indikasi kedewasaan. Bila kamu sudah merasakan jatuh cinta, saya ucapkan selamat! Karena itu tanda kamu normal dan baik-baik saja. Sebagai lelaki dan wanita normal, sudah menjadi kewajaran rasa cinta muncul diantara keduanya. Apalagi mereka berinteraksi dalam waktu yang lama. Terjadinya interaksi itu mungkin mereka satu kampus, satu kantor, satu pengajian, satu organisasi, atau segala “satu” yang lain.

Namun, bukan berarti ketika Allah menganugrahkan rasa cinta sebagai fitrah kepada manusia, lantas kita bebas mengeskpresikannya sesuai kehendak kita, sesuai apa pun yang kita inginkan. Ada masanya, ada tata caranya, dan ada aturannya. Karena itulah agama Islam diturunkan oleh Allah. Supaya kita tetap menjadi manusia yang mengekspresikan cinta sesuai dengan aturan-Nya.
Nah, kembali ke topik. Apakah jatuh cinta itu boleh. Dari berbagai analisa dan sudut pandang tentang cinta yang saya dapatkan ternyata jatuh cinta itu adalah anugrah bukan musibah.

“Tapi kenapa sebagian orang bersedih, merasa kehilangan, dan galau berkepanjangan karena jatuh cinta?”

Orang bersedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan, merasa kehilangan karena si doi lebih memilih menikah dengan cowok lain, dan galau berkepanjangan karena si cowok meminta putus. Itu semua terjadi karena harapan. Semakin tinggi harapan kita pada seseorang pun semakin sakit ketika kita tiba-tiba terjatuh. Kita boleh merasa optimis ketika jatung tiba-tiba berdetak lebih kencang saat melihat wanita cantik nan anggun di depan kita lalu otak tiba-tiba berkomentar “Aku harus bisa mendapatkannya” tapi jangan lupa izin dulu sama yang memilikinya. Izin sama Allah lewat Doa yang di sana kita selipkan namanya dan lewat  walinya jika kita sudah benar-benar yakin untuk menghitbahnya. Nggak mungkin kan, saat kita suka dan menginginkan hp  iPhone XS Plus series di counter hp menjadi milik kita misalnya, lantas kita langsung mengambilnya begitu saja tanpa membelinya terlebih dahulu? Yang ada malah kita babak belur karena dianggap maling dan menjadi sasaran amukan masa.

Begitulah cinta. Saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang maka saat itu pula kita harus berucap “Bismillah aku mencintaimu”. Karena segala cinta hanyalah milik Allah maka saat kita ingin memilikinya kita juga harus izin kepada pemilik-Nya. Dan hanyalah Allah yang berhak memutuskan apakah kita berhak untuk mendapatkan hatinya kemudian menghalalkannya untuk menyempurnakan agamanya atukah kita hanya akan menjadi tamu undangan saat dipesta pernikahannya. Semua atas kehendak Allah, kita hanya perlu berikhtiar dan berdoa untuk mendapatkan yang terbaik. Selebihnya serahkan kepada Allah sang pemilik cinta dari segala cinta dimuka bumi ini.

Sumber: Foto Pribadi

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan meras tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS.Ar-Rum:21)

Sidoarjo, 10 November 2018 || Budi Setiawan

Rabu, 25 Juli 2018

RESEP OBAT SAKIT HATI UNTUK MASPUR


[ JJB KE #20 ]

“Aku harus melihat kamu bahagia, meskipun kamu bahagianya sama orang lain bukan sama aku. Tapi satu hal yang harus kamu ingat ! Di sini ada hati yang selalu dengan tulus menyayangi kamu”.
-Mas Pur-

Sumber Foto: Youtube.com


            Potongan adegan perpisahan sinetron Tukang Ojek Pengkolan (TOP) yang diperankan Mas Pur (Furry Setya) dan Novita (Putri Ane) belakangan viral di dunia maya. Adegan perpisahan keduanya telah sanggup membuat baper penonton dan publik dunia maya dengan kalimatnya yang menohok. Ditambah lagi dengan dikasih bumbu backsound lagu ‘luluh’ (Samson) saat diputus Novita, serta lagu ‘Asal kau bahagia’ (Armada) saat bertemu dipertigaan jalan, duh... sudah pasti bikin suasana tambah baper setengah modiiyaaar  para pemirsa.

            Adegan perpisahan tersebut menjadi trending topik setelah ditonton sekitar 1,1 juta penonton di youtube. Hal tersebut bisa jadi semacam oase dari panasnya berita politik di negeri ini. Tapi terlepas dari itu semua ada beberapa hal yang patut menjadi analisis bahkan pelajaran bagi kita semua. Bagaimana tidak ! perpisahan Mas Pur dengan Novita yang dikabarkan karena tidak direstui orang tuanya itu sudah menjadi polemik di masyarakat nyata selama berabad-abad. Ah, saya rasa mungkin Pak Sutradara ingin menunjukkan paradigma lain dalam dunia sinetron dan drama. Bahwa sinetron atau drama tak selamanya berakhir indah saja yang menjadi perhatian publik seperti yang ada di serial drama Korea.

            Percintaan memang idealnya tidak melibatkan dua orang saja, tetapi juga melibatkan keluarga dan orang tua, karena begitulah budaya yang biasa terjadi di negeri ini. Restu dari orang tua dan keluarga dianggap sangat penting untuk menjadi ukuran melanjutkan hubungan. Walaupun kita sendiri tidak tahu bagaimana usaha Mas Pur dari kalangan menengah ke bawah yang kebetulan berprofesi sebagai tukang ojek dengan muka pas-pasan (Maaf lho mas, kebetulan kita agak sama walaupun gantengan aku dikit hehe), bisa mendapatkan seorang pujaan hati seperti Novita yang cantik, putih, kinclong sekaligus dari kalangan orang mampu. Tapi pada akhirnya maminya tidak setuju karena mungkin dirasa tidak sepadan, dan lebih memilih menjodohkanya dengan Radit brengsek.

Jika segala usaha telah dilakukan namun tak juga mendapatkan restu orang tua biasanya hubungan tersebut akan kandas. Sudah pasti hati yang saling mencinta tersebut akan patah dan terluka, sehebat apapun ia menyembunyikannya. Melihat dari kenyataan di atas, sepertinya memang sah-sah saja jika ada pernyataan bahwa, “Tragedi cinta tak direstui adalah tragedi kemanusiaan paling kejam setelah kapitalisme”. Tapi aksi Mas Pur dengan lontaran ‘kata-kata bijak perpisahan’-nya yang fonumental beserta muka polos nan tulus, telah mampu meyakinkan kita bahwa Mas Pur sesosok aktor yang tegar. Terlebih setelah perpisahan itu Mas Pur memutuskan untuk mudik ke Semarang dan berlibur di sana bersama teman-teman yang lain, hal itu setidaknya sudah menunjukkan bahwa dia menyikapi rasa sakit hati dengan hal-hal positif daripada memilih untuk pergi ke dukun ataupun malah gantung diri.

Sebagai tukang ojek dengan kadar keimanan yang pas-pasan, Mas Pur mungkin belum tahu, bahwa untuk menyembuhkan hati yang sakit itu selain berlibur ada namanya “Tombo Ati” resep dari walisongo yang sudah terbukti ampuh menyembuhkan berbagai penyakit hati. Tombo ati (Obat Hati) tersebut adalah sebagai berikut:
Tombo ati, iku limo perkarane
Kaping pisan moco Qur'an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kembulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi - mugi Gusti Allah njembatani
Artinya:
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua, sholat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpulah dengan orang sholeh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya, siapa bisa menjalani
Moga - moga Gusti Allah mencukupi

          Teruntuk Mas Purnomo terakhir saya sampaikan, bahwa kami senatiasa berada dipihak sampeyan  #KamiBersamaMaspur karena #MaspurAdalahKita. Semoga rasa sakit hati Mas Pur karena ditinggal menikah oleh Novita sang pujaan hati segera sembuh dan segera mendapatkan penggantinya. Amin.

Sidoarjo, 26 Juli 2018 || Budi Setiawan

Kamis, 26 April 2018

Mohon Waspada Jika ke STIE Mahardhika Malam Hari !

Mohon Waspada Jika ke STIE Mahardhika Malam Hari !




Sebenarnya agak tidak enak hati buat kuceritakan. Tapi rasanya ini penting buat informasi dan kewaspadaan kita bersama.

Jadi begini. Hari Kamis lalu, temanku, Jose (Joko Seto) pergi ke kampus. Ia kesana di tengah malam hari sendirian. Kira-kira waktu itu sudah pukul 22.00 wib, kebetulan anak-anak yang kuliah malam sudah pulang semua. Rencananya ia mau mengambil Hp-nya yang ketinggalan di ruang 3.05 seusai UTS. Maklum, hp-nya ketinggalan sebab setelah UTS dia buru-buru pulang karena lupa kucingnya waktu itu belum dikasih makan.

Nah, sampainya di samping ruang 3.05, ia mendengar suara yang memanggil namanya. Suasananya sedikit menegangkan. Maklum, malam itu malam Jumat Kliwon dan dalam kondisi yang lumayan sepi. Lampu-lampu kampus pun sudah banyak yang dimatikan.Tapi Jose bersikap biasa saja.

Sampai kemudian hal yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup itu terjadi. Ia mendekati sumber suara itu dan mulai mendekati pintu masuk ruang 3.05. Saat kaki kanannya melangkah, bulu kuduknya berdiri. Ia agak panik, tetapi tetap menunjukan kesan kalau semua baik-baik saja.

Lalu ia membuka pintu. Dan kamu tahu, teman-teman? Pintunya terkunci. Padahal sebelumnya ada suara yang memanggilnya. Kenceng lagi. Ia pun semakin panik dan buru-buru pergi ke lantai 1 untuk meminta bantuan OB. Ia pikir, jika ke lantai 1 semuanya bisa normal kembali. Sampai di depan tangga turun ke lantai 2, suara itu kembali memanggilnya.

Jose bingung sekaligus makin merinding. Tapi dengan sisa keberanian, ia dekati suara itu. Sumber suara itu, setelah didekati, terhenti lagi di ruang 3.04. Dan apa yang terjadi? ruangannya terkunci lagi. Ia tak bisa masuk dan melacak muasal suara itu.

Ia panik. Lalu ia memutuskan balik ke kosnya di kureksari, Waru. Ia jalan kaki menusuri tangga kampus. Sampai di lantai 2 ia kaget. Suara itu lagi-lagi memanggilnya.

“Jos.. Jose.. Berhenti” suara itu kembali muncul dengan volume yang makin keras.

Jose berhenti. Ia clingak-clinguk dan ketakutan. Sembari pelan-pelan menengok kebelakang, ia berdzikir tanpa henti. Tangannya gemetar. Dan betapa terkejutnya ia, sosok itu menampakkan dirinya.

Bajunya putih, lusuh dan agak bau. Tetapi wajahnya samar. Sosok itu kian mendekat. Semakin dekat.

“Hei!” kata sosok itu.

Jose diam tak berkutik.

“Kamu kemana saja. Aku mau tanya sesuatu” katanya.

Jose dengan keringat dingin lalu benar-benar melihat sosok itu. Dan lagi-lagi ia tak menyangka hal itu akan terjadi di hidupnya.

"Kun...kun.. Kunty...!!" Jose berbicara dengan gagap, lidahnya menjadi kelu dan kaku.

“Kunta-kunty !! Aku kenty woe..!! Minggu depan acara workshop jurnalistik  gimana?” ungkap sosok itu, yang setelah diteliti agak lama adalah teman satu organisasi yaitu Kenty, ia ternyata belum mandi sejak tiga hari yang lalu.

Jose pun menjelaskan bahwa acara Workshop Jurnalistik akan dilaksanakan 6 Mei 2018 di ruang 3.05 Multifunction Hall Lt.3 STIE Mahardhika Surabaya pukul 10.00-15.00 WIB.

Di sana akan ada pembicara Kepala Kompartemen Metropolis Jawapos (Doan Widhiandono) beliau juga seorang penulis Oleh-Oleh Jurnalis, Catatan Traveling di 20 kota pada 11 negara yang akan berbagi ilmu tentang:
1). Kiat-kita bijak bermedia di era millenial.
2). Citizen Of Journalism
3). Literasi media massa.
Dan juga Kepala Biro NET TV Jatim (Mustika Muhammad) yang akan berbagi ilmu tentang Jurnalistik Televisi.

HTM Acara tersebut hanya 50K/Peserta. Yang akan mendapatkan benefit berupa;
1). Sertifikat.
2). Makan Siang.
3). Snack.
4). Seminar Kit
5). Ilmu yang bermanfaat.

Dan bagi yang mau mendaftar cukup registrasi via WA dengan format: [ Workshop_Nama_Instansi/kampus_Email_No.Hp ] ke nomor 0821-3269-1460 (Kenty). Pembayaran ke no. Rek.216-062-7584 (BCA) an.Lasmini.

Buruan daftar pemirsa !! Karena kuota terbatas !!