Tampilkan postingan dengan label ala santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ala santri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2019

Memaknai Kata-kata

[ JJB ke #25 ]

Sumber: Foto Pribadi
”Kata-kata”, sepertinya memang terdengar sepele.Tapi ternyata kata-kata yang mengandung inspirasi kebaikan mampu mengubah cara pandang dan perilaku seseorang, bahkan orang-orang disekitar kita. Kata-kata seakan punya kekuatan sendiri yang mampu membakar semangat, memunculkan emosi positif serta memberi kedamaian dalam diri.

Terkadang kata-kata tersebut sedikit banyak ada yang mampu menyentuh hati. Makjleb katanya, jika suatu kata-kata mampu menggetarkan hatinya. Maka setelah itu tak jarang kita termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lewat sentuhan kata-kata bijak tersebut. Dan selanjutnya orang-orang yang termotivasi dengan kata-kata tersebut punya dorongan kuat untuk menerapkan dalam sebuah aksi nyata.

Sebut saja kata-kata dari Hos.Cokroaminoto, Bung Karno, Bung Tomo dan sejumlah tokoh-tokoh besar kemerdekaan lainnya. Mereka telah mampu memotivasi dan mempengaruhi Rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan ditangan penjajah dengan kata-katanya.
Kalau kita lihat belakangan ini, kata-kata menjadi semacam kewajiban bagi sebagaian warganet dalam bermedia sosial. Mereka menyebutnya dengan nama “caption”. Biasanya orang memberi caption dari status Ig, Facebook, Instastory dan lain-lain dengan kata-kata bijak dari tokoh-tokoh terkenal, ayat suci, hadist, ataupun dari pemikirannya sendiri.

Bahkan, dalam dunia percintaanpun tak luput dari namanya kata-kata. Padahal kata si “Doi” cinta itu tak perlu dijelaskan namun cukup dirasakan. Memang benar sih, namun tanpa adanya pengungkapan akan cinta kita pada seseorang, apakah kita yakin dia akan mengerti maksud kita hanya lewat kode-kode saja? Saya rasa cinta pun memang juga harus butuh kata-kata yang bertindak sebagai penerjemah dari bahasa hati kita.

Akan tetapi, acapkali kita tidak betul-betul memahami apa yang sebenarnya sudah kita tulis dan posting di sosmed akan kata-kata bijak itu. Bisa jadi itu disebabkan kita menuliskannya hanya karena ego semata. Atau lebih parahnya agar kita terlihat lebih berin(telek)tual daripa yang lain. Ah, saya rasa itu terlalu rendahan. Meskipun saya pribadi terkadang juga sering khilaf. Ya, semoga saja setelah ini kita bisa menata niat menjadi lebih baik Amin.

Memaknai kata-kata tidak hanya sebatas memahami apa maksud dari kata-kata bijak tersebut. Akan tetapi lebih dari itu, kita harus menerimanya dengan cara mau mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari sesuai kebaikan apa yang diajarkan dan terkandung dalam kata-kata bijak itu.

Makna sendiri adalah arti atau maksud yang tersimpan dari suatu kata. Artinya, makna dengan kata-katanya sangat bertautan dan saling menyatu. Tjiptadi (1984:19) menyebutkan bahwa jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kata tidak akan memperoleh makna dari kata itu.

Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, kita dulu pernah diajarkan beberapa makna kata seperti makna denotatif, makna konotatif, makna leksikal dan lain-lain. Masih ingatkah? Kalau masih ingat Alhamdulillah, kalau sudah lupa bisa jadi terlalu banyak mikirin kenangan dimasa lalu kali ya. Hehe. Yuk, kita coba buka lagi bukunya atau cari tahu lewat google juga boleh biar ingat kembali ilmunya.

Nah, dengan itu kita sedikit punya senjata yang bisa digunakan untuk menafsirkan sebuah kata-kata. Dalam memaknai kata-kata yang terpenting menurut hemat sayaada dua; Pertama, kita harus cari tahu arti dan makna sebenarnya dari kata-kata tersebut. Kedua, kita harus mau menerima kebenaran dari kata-kata bijak tersebut yang sudah jelas kebenarannya dengan cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sidoarjo, 03 Februari 2019 || Budi Setiawan



Rabu, 31 Oktober 2018

Hal-Hal Sederhana yang Bikin Orang Lain Bahagia

JJB ke #21

Sumber Foto: www.zorggroepsintmaarten.nl

”Sesungguhnya Rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS.Al-A’raf:56)

Kata orang, bahagia itu sederhana. Iya, betul. Ternyata anggapan itu menurutku ada banyak benarnya. Faktanya, orang yang bergelimang harta belum tentu dia bahagia. Bisa jadi dalam kesehariannya orang tersebut selalu merasa was-was karena dikejar-kejar polisi dan KPK yang ternyata hartanya tersebut hasil dari korupsi. Sebaliknya, banyak juga orang-orang yang hidupnya tampak sederhana namun masih bisa tertawa bahagia dengan keluarganya. Dan ini bisa menjadi bukti bahwa bahagia itu memang bisa dikatakan sederhana.

Begitupun cara untuk membuat orang lain bahagia, ternyata juga bisa kita lakukan dengan cara-cara sederhana. Siapa sangka, hal-hal yang tampak sepele bisa jadi justru sangat berharga bagi kebahagiaan orang lain. Dan hal-hal tersebut sering kali saya jumpai dikehidupan sehari-hari. Berawal dari situ saya coba untuk meresponnya yang kemudian menimbulkan kegelisahan yang luar biasa dalam hidup ini. Bagaimana tidak, pasalnya hal-hal sepele tersebut seringkali orang lain lakukan buat kita namun kita sendiri jarang mengamalkannya. Patut kiranya permasalahan tersebut saya angkat menjadi angle dalam jurnal kali ini.

Berikut saya akan uraikan hal-hal sederhana yang bisa bikin orang lain bahagia tersebut:

1. Tersenyum

            Tersenyum adalah shodaqah yang paling murah. Kelihatannya sepele bukan. Tersenyum selain membuat kita bahagia ternyata virus senyum tersebut juga bisa menular ke bibir orang lain yang kita beri senyum. Secara otomatis senyum tersebut akan menambah kebahagiannya.

2. Ucapan Terima Kasih

            Setiap menerima bantuan, apapun bentuknya entah itu hal kecil atau besar jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih. Sederhana memang, namun dengan ucapan ini bisa membuat orang lain merasa dihargai bantuannya. Akibatnya, orang tersebut tak segan untuk mengulurkan tangan pada kita kembali jika dibutuhkan.

3. Memberi Ucapan Disaat Ulang Tahunnya

            Ucapan dan doa yang baik buat teman kita dihari spesialnya sangatlah bisa menambah kebahagian untuknya. Mereka merasa diperhatikan. Terlebih jika kita bisa membuat sedikit kejutan untuknya, misalnya kasih kado atau bawain kue tar untuknya. Sudah pasti kebahagiannya akan tambah berlipat-lipat. Seperti yang saya rasakan sendiri beberapa hari yang lalu. Oh ya, BTW, terima kasih ya teman-teman yang kemaren sudah membuat saya bahagia dengan membuat kejutan saat ultahku. Jujur ini kali pertamanya loh saya dapat kejutan ultah seheboh kemaren. Hehe. (Numpang curhat dikit rek)

4. Memberi Pujian Pada Teman

            Hal ini juga sederhana. Namun pujian yang kita berikan kepada teman kita ternyata juga bisa membuat mereka lebih merasa dihargai atas usaha-usahanya. Terlebih jika usaha yang dilakukan itu ditujukan untuk kebaikan bersama misalkan, itu sudah menjadi bagian dari kewajiban kita untuk memberi pujian dan terima kasih.

5. Memberi Semangat ke Teman

            Tak jauh berbeda dari poin ke tiga dan empat di atas. Memberi semangat kepada teman kita juga bisa menjadi motivasi tersendiri saat dia menghadapi masalah dan membutuhkan dorongan semangat.

6. Membayari Teman Ngopi dan Karcis Parkir

            Tidak harus dengan mengeluarkan uang banyak untuk membuat orang lain bahagia. Cukup membayari saat lagi ngopi bareng atau membayari karcis parkirnyapun akan membuat dia senang. Dia akan merasa bahwa kita peduli terhadapnya.

7. Mendengarkan Lawan Bicara Baik-Baik

            Semua orang pasti ingin didengarkan pendapatnya sebagaimana kita ingin didengarkan orang lain. Saat kita mendengarkan dengan baik-baik apa yang ia bicarakan setidaknya kita telah menghargai pendapatnya. Meskipun terkadang pendapatnya tidak sesuai dengan kita. Hal ini sederhana namun agak sulit dilakukan, sayapun masih perlu banyak belajar untuk bagaimana menjadi pendengar yang baik.

Itulah beberapa hal sederhana yang bisa bikin orang lain bahagia. Sebetulnya masih banyak contoh-contoh lainnya yang mungkin bisa kita bahas dilain kesempatan. Perlu diketahui pada dasarnya jurnal ini saya buat sebagai tamparan keras untuk diri ini. Hal-hal sepele yang dilakukan orang lain dengan konsisten itu yang khususnya ditujukan untuk saya pribadi, sukses membuat saya malu semalu-malunya. Malu karena baru menyadari manfaatnya dan belum bisa sepenuhnya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun misalnya coretan saya ini memberikan kebermanfaatan bagi orang lain saya anggap itu bonus saja mah..

Banyak dari kita takut memberikan nasehat kepada orang lain karena merasa dirinya belum sempurna dan banyak kekurangan. Sayapun terkadang berpikiran seperti itu. Namun seketika saya teringat apa yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri, “Andaikata seorang muslim tidak memberi nasehat kepada saudaranya, kecuali setelah dirinya sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasehat,” pesannya. Dan pesan yang disampaikan oleh Hasan Al-Bashri itulah yang menjadi salah satu semangat saya untuk selalu menebar kebaikan kepada orang lain meskipun saya sendiri belum sepenuhnya menjadi orang baik. Wallahu’alam.. Semoga bermanfaat.

31 Oktober 2018 || Budi Setiawan

Sabtu, 10 Maret 2018

MEMBACA: Jurus Pertama Seorang Penulis dan Jurnalis


MEMBACA: Jurus Pertama Seorang Penulis dan Jurnalis

[ JJB Ke #18 ]

Think before you speak. Read before you think.” ― Fran Lebowitz

Sumber foto: Solopos.com


Betul sekali perkataan dari Frans Lebowitz di atas, ”Berpikirlah sebelum berbicara. Membacalah sebelum kamu berpikir.” Bisa kita bayangkan bersama, seandainya sebelum berbicara kita tidak berpikir terlebih dahulu, sudah barang tentu kata-kata yang kita ucapkan un-faedah dan tak terarah. Alhasil, bisa jadi kita malah dapat gelar sebagai “LAMBE TURAH” dari orang lain karena tidak adanya manfaat dari banyaknya perkataan yang lahir dari rahim mulut kita. Ngeriii... bos, jika orang lain memberikan label tersebut kepada kita. Bukankah di rumah kita masing-masing mendapatkan sebutan istimewa dari emak-emak kita sebagai “cah ganteng sak donya dan cak ayu sak jagad?” Hehe.

Begitu juga sebelum berfikir akan lebih baiknya kita banyak membaca terlebih dahulu. Karena proses berpikir seseorang pada dasarnya juga butuh bahan bakar, dan bahan bakar itu salah satunya adalah membaca. Bisa dibayangkan, seandainya kita mau pergi kuliah ke kampus dan ternyata tangki bensin sepeda motor yang akan kita naiki habis apa yang terjadi? Sudah pasti kita harus membawanya ke SPBU kan? Menurut saya membaca tidak hanya sebatas untuk mengisi waktu luang, akan tetapi juga untuk mengisi kekosongan otak kita dari pengetahuan dan wawasan yang selama ini belum tersentuh.

Beberapa bulan yang lalu saya sempat mengikuti acara “Sinau Sastra” yang diselenggarakan oleh FLP (Forum Lingkar Pena) Sidoarjo. Dalam acara tersebut saya sempat mewancarai salah satu pembicaranya yaitu mas Rafif Amir Ahnaf. Beliau adalah ketua LFP Jatim, Penulis dan Motivator juga. Dari hasil wawancara dengan beliau saya mendapatkan banyak pencerahan terkait organisasi tersebut beserta arah gerak dan program-program kerja yang telah dijalankan. Berawal dari situ saya begitu tertarik dengan program-program kerja organisasinya dan berkeinginan untuk menerapkannya dalam organisasi saya.

Ide untuk membuat program tersebut kemudian saya bicarakan dengan beberapa teman-teman pengurus organisasi dan mereka menyetujuinya. Program tersebut kita namakan dengan “Project Reading Challenge”. Pesertanya adalah pengurus dan jurnalis magang dari organisasi saya. Karena organisasi kita adalah organisasi yang bergerak dibidang pers mahasiswa, maka bahan bacaan yang kita wajibkan waktu itu berupa artikel berita yang berlangsung selama dua minggu. Dalam pelaksanaanya satu hari peserta program wajib membaca minimal satu berita, “One Day One News,” kalau lebih dari itu akan lebih bagus. Di akhir sesi kita umumkan grafik jumlah berita yang telah dibaca oleh peserta kemudian yang terbanyak kita kasihkan penghargaan dan hadiah sebagai bentuk apresiasi kita terhadapnya.

Berawal dari program yang tampak sederhana tersebut, saya tidak membayangkan ternyata banyak reaksi dan respon positif dari mereka. Itu semua bisa saya baca lewat hasil jawaban kuosioner dari masing-masing peserta yang kita minta isi di google form. Berikut adalah data kuesioner dari "Project Reading Challenge" yang kita dapatkan:

Apakah program tersebut cukup menambah minat baca saudara?
22 tanggapan

Sumber: Google Form


Sangat menambah 40,9%

Cukup  menambah 54,5%
Biasa saja 4,6%
Sangat menambah
:12
Cukup menambah
:9
Biasa saja
:1










Berikan kesan anda setelah mengikuti program "Reading Challenge tersebut:22 tanggapan

Dulu saya sebelum ada program ini sangat tidak suka yang namanya membaca berita. Setelah saya mengikuti program ini, saya jadi ingin tau berita dan program ini sangat bermanfaat sekali.
Senang dan bisa lebih giat untuk membaca lagi
Semakin suka membaca berita
Perlu di adakan lagi agar minat baca lebih banyak
Menurut saya program ini sangat bagus karena biasanya kita enggan membacaa berita tapi setelah ada program ini kita jadi menyempatkan membaca walaupun sibuk
Joss
Banyak menambah wawasan dan pengetahuan tentang kejadian yg di sekitar maupun di daerah lain
Semoga bermanfaat
Good karena bisa membawa kebiasaan baru yg bermanfaat
Sangat menambah minat baca yang awalnya baca berita paling tidak 3 kali dalam seminggu dengan adanya program tsb bisa baca tiap hari dan menyadari manfaat dari baca tsb
Membuat saya menambah wawasan
Makin tahu keadaan di sekitar kita terutama keadaan Indonesia hari ini
Kesanny bikin kepala mumet cz banyak baca berita tp bikin ketagihan n tambah wawasan. Thanks yg buat program
Sangat berkesan dapat menambah pengetahuan
Sangat memotivasi menambah pengetahuan
Bisa menambah minat baca, terutama dalam membaca berita ter up date
Biasa aja, tapi seru sih 😳
Selain menambah wawasan program ini mengajak agar kita mau membaca, meskipun saat ini berada di zaman Milenial. Membaca sama hal nya membuka jendela dunia.
Dengan diadakannya program reading challenge, menambah semangat untuk lebih banyak membaca
setelah adanya program reading challenge , minat baca saya sedikit meningkat.
Setelah mengikuti program ini minat baca saya cukup meninggkat
Program Reading Challenge adalah program yang sangat menarik walaupun tidak banyak yang saya baca tapi dapat mendorong saya agar lebih banyak membaca khususnya berita

Apa pesan yang ingin anda sampaikan terhadap program tersebut agar kedepan bisa lebih baik lagi:19 tanggapan

Semoga program ini tetap berjalan seperti kemarin, dan semoga program ini membawa berkah yang tidak suka membaca jadi suka membaca. Aminnnn 😀
Lebih mensupport teman" untuk membaca dan memahami isi berita..
Jika bisa diadakan selalu agar selalu update dengan berita bukan karena ada event. Melainkan menjadi kebiasaan
Semoga budaya membaca tidak di hanya di lombakan saja tetapi bisa di gunakan sehari-hari
Bisa di agendakan program seperti ini tapi beri jeda pelaksanaan biar tidak terkesan bosan
Hadiah yang lebih menarik
Programnya bagus kalau di jadikan kegiatan rutinan
Terus lanjutkan
Mungkin waktunya bisa di perpanjang tidak di batasi jam 9 mlm
Diagendakan untuk reading chellenge selanjutnya agar minat baca makin bertambah supaya membaca berita menjadi kebiasaan dan membaca berita tidak berharap

Membangun sebuah peradaban yang baik ternyata tidak harus dilakukan dengan revolusi dan gerakan besar yang telah dilakukan oleh bapak-bapak bangsa yang fotonya terpajang di setiap lembar uang kita. Semua itu bisa kita lakukan lewat hal-hal kecil dan sederhana namun punya potensi besar untuk menjadi awal perubahan yang bersifat makro. Rofiq Hudawy penulis buku “Doakan Jangan Duakan” pernah berkata dalam status Instagramnya, “ Jika ada yang tanya bagaimana caranya menulis maka saya jawab BACALAH ! (Iqro’). Karena pada pada dasarnya penulis yang baik juga pembaca yang baik.

Semoga lewat program-program kerja yang sederhana ini akan menjadi batu loncatan kita untuk membuat program-program yang lebih besar lagi. Amiin..  Jangan berhenti melangkah kawan!  tetaplah memacu kudamu untuk terus berlari mengerjar mimpi dan menjadi bagian dari pemuda-pemuda inisiator perubahan di zaman now ini.

Sidoarjo, 11 Maret 2018 || Budi Setiawan

Senin, 12 Juni 2017

Tamu yang Terabaikan

Tamu yang Terabaikan

[JJM : Ke #12]


Saudaraku tersayang
Aku ingin pulang
Aku bak tamu yang tak diundang
Karena kehadiranku sering kau abaikan


Hampir setengah bulan aku bertamu diistanamu
Tapi kau tak meng-indahkan kedatanganku
Bahkan oleh-olehku yang aku bawa dari jauh, nyaris tak kau sentuh.

Memang dulu saat aku akan datang
Kau mengaku menyambutku dengan senang.
Marhaban yaa.. ramadhan..
Marhaban yaa.. ramadhan..

Tapi begitu aku datang kepadamu
Aku tak lebih hanya kau persilahkan masuk
Tanpa kau memberikan jamuan yang manis kepadaku

Al-qur'an hanya kau baca sekilas
Kalah dengan update status diwaktu dan tempat yang tak terbatas
Kau juga lebih senang tertidur pulas
Daripada beramal baik dan bekerja keras

Malampun kau sibukkan diri dengan berbelanja
Daripada kau minta ampunan atas segala dosa
Terkadang sholat maghrib sering kau tunda tunda,
Kalah asyik bercengkrama saat buka bersama.

Saudaraku,
rasanya aku seperti tamu yang tak diharapkan.
Sepertinya kau tak menyesal jika ku tinggalkan.

Percayalah wahai saudaraku
Belum tentu aku bisa bertemu kau lagi.
Karena bisa jadi jatah hayatmu keburu habis.
Kau pasti bakal menyesal lantaran membiarkanku terlantar.

Wahai Saudaraku,
Kapankah kau akan memperhatikanku
Sebelum aku benar-benar meninggalkanmu.

8 Juni 2017 | Budi Setiawan

Jumat, 26 Mei 2017

Cerita Dari Negeri Santri



Cerita Dari Negeri Santri

[JJM : Ke #11]

Suasana di kota Santri
Asyik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda-mudi berbusana rapi
Menyandang Kitab Suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang-pergi mengaji .
(lirik “Kota santri”- Nasidaria Qosidah)

Ini pondok putra tampak depan


Pesantren itu laksana Penjara Suci, memang benar. Pesantren seakan-akan menjadi penjara sekaligus surga bagi para pencari ilmu khusunya ilmu agama. Di sana terdapat gerbang laksana benteng kokoh, di mana gembok besinya seperti belenggu kebebasan bagi para penghuninya. “Pesantren” pun menyimpan berjuta kisah yang indah , pun di sana ada ukiran kenangan pahit, manis dan unik yang menurut saya sangat menarik untuk digubah dalam bingkai karya pena.

Asrama dan ruang kelas pondok putra

Di JJM (Jurnal Jomblo Mulia) yang ke 11 ini saya ingin berbagi cerita dan pengalaman tentang apa yang pernah kurasa, kualami dan kujalani. Betapa pernak-pernik perjalanan dipesantren tersebut terlalu sayang untuk hanya dikenang, namun harapannya semoga bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi saya pribadi khususnya dengan mengingat ingat perjalanan masa lampau sebagai acuan untuk melangkah kedepan. Karena seperti yang kita kita ketahui bersama ada ungkapan Experience Is The Best Teacher bahwa “Pengalaman adalah guru terbaik”. Adapun jika teman-teman pembaca mendapatkan kemanfaatan dari tulisan saya, ya alhamdulillah. Paling tidak akan sedikit memberikan jawaban dari pertanyaan: “Bagaimana sih, sebenarnya kehidupan dipondok pesantren itu?”.

Pembacaan Rutinan Maulid Simtudurror


Bagi saya pribadi, menghabiskan sebagian waktu dipondok menjadi sangat penting. Ada banyak sekali hal-hal yang tidak didapat ketika tak pernah mondok. Maka dari itu jika ingin merasakan bagaimana serunya kehidupan dipondok, silahkan mondok dulu. Itu merupakan satu-satunya cara. Kalau hanya dengan membaca buku-buku novel seperti negeri 5 menara karya Ahmad Fuadi atau film mengenai kehidupan dipondok itu saya rasa belum cukup. Tak akan bisa membuat kita total dalam memaknai sensasi saat-saat dipesantren. Ada satu alternatif seadainya teman-teman pembaca ingin merasakan bagaimana nuansa ngaji dipesantren yaitu dengan mengikuti kegiatan ngaji posonan. Mungkin kegiatan ini agak terdengar asing ditelinga kita. Karena memang kegiatan yang sering dilakukan di masyarakat umum adalah seperti tadarrus Al-qur’an, Kultum, ataupun kajian-kajian di bulan Ramadhan. Lalu apa itu ngaji posonan ? Ngaji posonan atau sering disebut ngaji kilatan adalah istilah jawa dalam menyebut tradisi pengajian di sebagian pesantren-pesantren di Indonesia yang dilaksanakan di bulan Ramadhan. Biasanya dilaksanakan kurang lebih 15-20 hari dibulan Ramadhan. Seperti apa keseruannya ngaji posoan di bulan Ramadhan? Jawabannya mungkin bisa dicoba sendiri-sendiri dulu ya, dan silahkan ditafsirkan sendiri-sendiri. Hehe. (Terkait pembahasan ngaji posonan Insya’Allah bisa saya tuliskan dijurnal berikutnya geh).

Suasana ngaji kitab kuning

Oke, kita lanjut (kembali ke laptop) he. Saya sendiri pernah mengenyam pendidikan dipondok pesantren tapi tidak lama hanya tiga tahunan di Kota ponorogo. Jika kita berbicara ponpes di Ponorogo yang maka yang paling terkenal adalah Pondok Modern Gontor yang pernah salah satu santrinya mengabadikan kisah dipondok Gontor itu kedalam sebuah novel yang menjadi Best Seller. Yaitu novel Negeri 5 menara karya A.fuadi. Tapi pondokku bukanlah di Gontor tersebut, pondok saya adalah pondok salaf dimana sistem pengajarannya menganut sistem tradisional. Pondok pesantren yang mengkaji “Kitab-kitab kuning” (kitab kuno). Banyak hal yang mengesankan ketika mondok dipesantren salaf salah satunya adalah hubungan antara kyai dengan santri cukup dekat secara emosional. Kyai terjun langsung  dalam menangani para santrinya. Yang menjadi ciri khas pesantren salaf yaitu sistem pengajarannya menggunakan arab pegon, dimana arab pegon tersebut sebagai metode dalam memaknai kitab yang diajarkan dengan tulisan arab tapi menggunakan bahasa jawa. Kebetulan pondok saya dulu adalah pondok yang memadukan sistem pengajaran tradisional dengan sistem modern dengan adanya sekolah umum di lingkup pesantrennya seperti adanya sekolah MTs (setara dengan SMP) dan MA (setara dengan SMA). Sehingga saat saya mondok dipesantren tersebut tidak hanya ilmu agama yang diajarkan tapi ilmu umum juga tidak ketinggalan.

Asyiknya makan bersama santri

Yang menyenangkan dari Santri di pondok adalah sikap kekeluargaannya. Teman se-pondok bagiku adalah sebuah keluarga besar. Karena orang tua dari para santri bertempat tinggal jauh dari pondok bahkan ada beberapa santri yang berasal dari luar pulau, maka teman-teman santri yang dirasa lebih dekat menjadi keluarga baru dipondok. Jika ada yang sakit maka teman sekamar yang mengurusnya. Saat kehabisan bekal pinjam teman yang punya, saat ada makanan dimakan bersama-sama (Senampan bersama) dan saat ada masalah kita saling curhat untuk saling memberi solusi. Indah nian jika mengingat masa-masa itu yang sulit sekali saya dapatkan saat sudah mengenyam pendidikan di bangku kuliah saat ini. Untuk meringankan beban orang tua dulu ketika mondok saya nderek ndalem (bekerja jadi abdi ndalem dirumahnya Kyai) dan alhamdulillah selama mondok saya dibebaskan dari tanggungan SPP baik yang sekolah umum maupun SPP pondok. Bahkan biaya makan dan asrama pun saya ditanggung ndalem (keluarga kyai). Saya hanya mengeluarkan biaya untuk keperluan pribadi saja seperti, kitab-kitab, buku, peralatan mandi dll. Dari situ saya bisa sedikit meringankan beban Orang Tua. Di ndalem bu Nyei keseharianku  adalah jadi petugas kebersihan baik membersihkan ndalem bu Nyei dan juga mengambil sampah-sampah di halaman pondok putri. F.Y.I hanya santri putra yang ikut ndalem seperti aku sajalah yang boleh masuk dipondok putri. Sebenernya awal-awalnya malu untuk mengambil sampah itu tapi lama-lama jadi biasa saja. Terkadang ada rasa senang juga saat papasan dengan dengan santriwati yang jadi pujaan hati hehehe. Walaupun hanya sebatas saling tebar senyum dan curi pandang dikit tapi senengnya bukan main. Eiiits.. ini pun juga saya lakukan dengan ekstra hati-hati. Kalau sampai Ibu Nyai atau Abah tahu bisa terjadi musibah besar hehe. (Jangan ditiru ya).




Mungkin terkesan sering saya mempromosikan pondok dan kegiatan-kegiatan santrinya di media sosial. Ya, saya memang menuliskannya dalam rangka ikut mengkampanyekan gerakan “ayo mondok” yang dicanangkan PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Seperti yang diutarakan Katib Syuriyah PCNU Jember, Ustadz MN.Harisudin, gerakan Ayo Mondok merupakan langkah positif dalam rangka mencetak generasi bangsa yang cerdas sekaligus berakhlak mulia. Dan pastinya kita berharap agar orang-orang mau menengok pesantren sebagai lembaga pendidikan alternatif ditengah zaman “kekinian” yang begitu tak karuan saat ini. Saya pun begitu tertampar ketika membaca wejangan dari KH.Abdullah Kafabihi Mahrus (Pengasuh pondok Lirboyo kediri) yang menyebutkan “alumni pesantren yang tidak peduli dengan pesantren tidak lebih baik dari yang tidak alumni tapi peduli dengan pesantren”. Lewat membagikan kesan-kesan dari nilai kebaikan-kebaikan yang pernah saya jumpai dipondok ini semoga menjadi sedikit usaha untuk peduli terhadap pusat kaderisasi da’i-da’i itu sendiri. Amiin.

Ziarah Wali di Madura dengan teman seperjuangan

Banyak hal kenapa Orang Tua penting memondokkan anaknya di pesantren. Menurut pengalaman penulis sendiri ada beberapa hal yang dirasa menjadi alasan kenapa mondok itu penting. Pertama dipondok pesantren terutama pondok salaf (Pondok Tradisional NU) memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari dipesantren salaf bisa dipertanggung jawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua diperkenalkannya konsep barokah. Dalam kehidupan di pesantren barokah ini menjadi hal yang sangat penting bagi semua santri. Seringkali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapat barokah kyainya maka akan sia-sia ilmunya. Barokah sendiri mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah SWT (ziyadatul khoir). Artinya setiap waktu semakin bertambah baik. Ketiga dipesantren juga diajarkan bagaimana bersosial. Seperti yang telah saya ceritakan diawal bahwa kebersamaan di pesantren itu sangat erat diibaratkan penghuni pesantren adalah The Big Family (keluarga besar). Semisal bagaimana santri makan bersama dalam sebuah nampan. Dan saling saling bahu membahu jika teman yang lain terkena masalah atau musibah semisal sakit. Dari situ bisa kita lihat bahwa kebersamaan menjadi hal penting kaitannya dengan pendidikan sosial. Kelima adalah Akhlak. Seseorang santri yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan.
Para pengasuh pondok (No.2 dari kiri adalah Kyai Zami' Khudz Dza wali Syam No.3 adalah Kyai Ayyub Ahdiyan Syam

Ini hanyalah sedikit pengalaman yang pernah penulis alami. Masih banyak pengalaman dan hal-hal lain yang menjadi jawaban bahwa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. InsyaAllah jika saya nanti dikaruniai anak maka saya berniat untuk memondokkannya. Tentunya setelah saya dipertemukan jodoh saya dulu,he.

Sekian.

26 Mei 2017 | Budi Setiawan

 Foto-foto lain:




Habis ngaji ya ngrumpi bahas Agama, negara kemudian santri putri hehe
Sepak bola ala santri

Ziarah wali dengan Romo Kyai Ayyub
Pelantikan pengurus OSIPP (Organisasi Santri Intra Pondok Pesantren)