Senin, 06 April 2020

IKUTI WEBINAR: Upaya Produktif di Masa Pandemik


[ JJB ke #29 Series: #LiterasiLawanPandemi ]

Sumber: Foto pribadi
Work From Home (WFH) adalah salah satu himbauan pemerintah dalam rangka memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Tak hanya para pekerja saja yang dihimbau untuk bekerja dari rumah, pelajar dan mahasiswapun juga dianjurkan untuk belajar dari rumah. Begitu pula dengan umat bergama juga dihimbau untuk beribadah di rumah. Upaya ini dilakukan guna untuk mendukung kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Hastag #diRumahAja pun menjadi viral di dunia maya.

Kondisi ini bisa jadi menyenangkan untuk sebagian orang, tapi bisa juga menjadi momok bagi orang lain. Ini adalah sebuah pola kerja yang relatif baru dan akan menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang. Di tengah ketidakpastian kondisi di luar rumah, saat kita stay #diRumahAja diharapkan agar kita tetap produktif. Banyak cara dan banyak jalan untuk menjadi lebih produktif, salah satunya adalah mengikuti Webinar. Apa itu Webinar? F.Y.I Webinar berasal dari dua kata, yaitu Web dan Seminar. Jadi Webinar adalah suatu seminar, presentasi, pengajaran dan workshop yang dilakukan secara online.

Weekend day kemaren, Minggu (5/4), Mata Garuda LPDP bekerjasama dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Dunia menggelar seminar online di aplikasi Zoom. Acara tersebut bertajuk, “Solusi Ekonomi yang Efektif untuk Penanganan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat.” Mata Garuda merupakan wadah bagi keluarga besar alumni dan wardee beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) RI.

Gambar: Poster acara

Seminar online ini diikuti oleh kurang lebih 500 peserta (mahasiswa dan umum) yang tersebar dari berbagai penjuru negeri. Webinar tersebut menghadirkan narasumber dari beberapa tokoh nasional seperti: Sandiaga Uno (Pengusaha Indonesia), Prof.dr.Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH (Ketua Perkumpulan Ahli Ekonomi Kesehatan Indonesia), Prof.Dr.Didik J.Rachbinni (Ekonom dan Pendiri INDEF), Hidayat Amir,Phd (Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI dan Putri Viona Sari,Sgz.,MSc (Awardee LPDP, Global Health Policy, Researcher, University of Edinburgh, Inggris). Serta di moderatori oleh Arip Muttaqien, PhD (Alumni LPDP, PhD in Economics Maastricht University, Belanda).

Dalam pembukaannya, moderator, mas Arip Muttaqien memaparkan kondisi pemerintah yang telah menetapkan stastus Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID 19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, realokasi anggaran harus dilakukan untuk menghadapi dampaknegatif COVID-19 terhadap perekonomian. “Bagaimana dampak dari kebijakan tersebut terhadap penanganan COVID 19 di Indonesia? Dan apa saja respon masyarakat terhadap situasi ini?,” Begitu pengantar pertanyaannya yang kemudian mempersilahkan satu persatu narasumber untuk memaparkan materinya.

Berikut Pemaparan dari Beberapa Pemateri Webinar:

Beberapa poin yang saya tangkap adalah pertama dari Prof.Didik. Beliau menyampaikan bahwa solusi ekonomi yang mendasar dalam hal ini adalah solusi kesehatan. Ekonomi tidak bisa apa-apa selain adanya kesehatan. Begitupun dengan mbak Viona, beliau mengatakan, “dalam mengambil solusi ekonomi, pemerintah harus memastika solusi tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai in the best interest of the people.” Artinya, harus berdasar demi kepentingan terbaik rakyat.

Lain halnya dengan bang Sandiga Uno yang lebih banyak berbicara tentang UMKM selaku sektor yang paling terdampak dan terhamtam oleh Covid 19 ini beserta kebijakan yang telah dilakukan pemerintah yang direalisaikan khususnya dari segi bantuan tunainya melalui Program Keluarga Harapan dan Kartu Pra Kerja. Menurutnya, dengan adanya COVID-19 ini seakan lebih mempercepat adanya era Industri 4.0, seperti meningkatnya perilaku belanja masyarakat di E-commerce.

Gambar: Sandiga Uno sedang memberikan materi di Webinar Mata Garuda LPDP


Sedangkan Prof.Thabrany dalam kesimpulannya menyampaikan bahwa eksternalitas covid 19 terhadap ekonomi sangat besar, terlalu dini untuk menghitung untuk menghitung dampak final saat ini. “Hikmah di balik pandemi ini adalah kini kita sadar: sistem kesehatan lemah, dana tabungan (jaminan sosial) terlalu kecil, dan sistem ekonomi kita lemah. Saatnya melihat peluang seperti inovasi merancang dan mengembangkan bisnis bidang kesehatan, e-commerce, daring, digital, riset obat, vaksin, dan penguatan sistem kesehatan dan sistem ekonomi.

Terakhir dari pak Hidayat Amir, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal Kemeterian Keuangan tersebut lebi banyak menerangkan tentang kebijakan ekonomi dalam rangka penanganan covid-19 yang dilakukan pemerintah. Seperti misalnya menerangkan tentang PERPPU No.1/Tahun 2020 yang di dalamnya termasuk untuk mengakomodasi tambahan belanja dan pembiayaan pemerintah sebasar Rp 405,1 triliun. Diantaranya mencangkup:

1). Intervensi penanggulangan covid-19 (Rp 75 T)
2). Perluasan Social Safety Net (Rp 110 T)
3). Dukungan dunia usaha (Rp 70,1 T)
4). Pembiayaan dalam rangka mendukung Program Pemulihan Ekonomi Nasional (Rp 150 T)

Belajar dari Webinar ini, saya jadi sadar bahwa ternyata masih banyak hal yang belum saya ketahui yang pada akhirnya menjadi sedikit terang. Saya sendiri sangat mengapresiasi panitia penyelenggara (Mata Garuda LPDP dan PPI Sedunia) yang telah menyelenggarakan webinar sekeren ini. Pada dasarnya, kesadaran karena ketidaktahuan lah yang mendorong kita untuk terus belajar dan berkembang. Hadirnya Covid-19 bukanlah suatu alasan untuk kita menghabiskan waktu #diRumahAja dengan bermalas-malasan apalagi hanya sekedar stalking ig mantan dan gebetan. Hikks!! Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meng-up grade diri agar lebih produktif, ikut Webinar salah satunya.

“Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (QS.Al-Insyirah ayat 7)

Sidoarjo, 6 April 2020 || Budi Setiawan

Kamis, 02 April 2020

APA YANG BISA DIPOST?


[ JJB Ke #28 Series #LiterasiLawanPandemi]

Sumber foto: Pribadi


Pertanyaan ini saya rasa banyak menghantui kaum milenial yang saat ini sedang khusuk-khusuknya mengikuti anjuran pemerintah untuk #dirumahaja . Milenial yang sebelum adanya serangan pandemi Covid-19 adalah kaum yang "dikit-dikit cekrek upload" tak lupa dengan hastag #ootd nya agar lebih afdhol. 😁

Sayang seribu sayang kegiatan yang sudah mendarah daging itu pada akhirnya dihentikan secara paksa oleh monster bernama "korona". Pada akhirnya, postingan-postingan yang saya jumpai di Ig story atau wa story teman-teman belakangan ini lebih banyak menampilkan tentang betapa kejamnya virus korona tersebut menyerang manusia. Tentang berita-berita daerah zona merah yang kian meluas, upaya-upaya kebijakan pemerintah untuk pencegahan dan info-info lain seputar virus tersebut. Sesekali ada beberapa juga yang jualan APD (Alat pelindung diri) berupa masker, hand sanitizer dan lain-lain.

Jenuh nggak sih? Saya yakin sebagian dari kita merasa jenuh akan hal itu. Kapan ini semua akan berakhir? Jawabannya tidak ada yang tahu persis. Yang jelas hal tersebut tidak boleh kita remehkan, namun juga jangan terlalu panik. Hingga pada akhirnya atas dasar kepanikan tersebut kita ngelakuin hal-hal yang konyol semacam #panicbuying , membeli barang-barang untuk pencegahan korona secara berlebihan untuk kemudian menimbunnya. Tanpa melihat bahwa di samping kanan kiri kita juga membutuhkannya. Berapa banyak dokter dan tenaga medis yang menjadi garda terdepan penanganan virus ini menjadi korban karena kurangnya APD? Plis kawan, mereka adalah PAHLAWAN kita saat ini.

Berawal dari kejenuhan itu, saya tergerak untuk membuat semacam gerakan bersama untuk lebih produktif dan bermaanfaat bagi sekeliling kita. Gerakan tersebut bisa kita mulai dengan hal-hal kecil namun bisa ber-impact secara luas. Semisal menulis. Kenapa menulis? Karena dengan menulis kita bisa memberikan sedikit wawasan kita kepada dunia. Meng-edukasi pembaca dengan hal-hal yang sekiranya bermaanfaat itu saya rasa juga sebuah upaya dalam rangka mencerdaskan bangsa ini. Kalau bicara 'bangsa' dirasa terlalu berlebih-lebihan ya mungkin buat teman-teman sekitar kita saja dulu. Hehe..

Tidak perlu tulisan yang panjang x lebar x tinggi. Cukup buat postingan di instagram atau facebook dengan memberi caption satu paragraf atau dua paragraf dari masing-masing sisa foto hasil jepretan sebelum masa #physicaldistancing ini dengan dibumbui narasi yang sedikit menggugah untuk dibaca saya rasa itu sudah layak di-publish. 😊. 

"Satu peluru bisa menembus satu kepala, satu kata bisa menembus jutaan kepala" - Sayyid Quthb

Sidoarjo, 2 April 2020 || Budi Setiawan

Rabu, 01 April 2020

2024: DARI NUSANTARA UNTUK PERADABAN DUNIA

[ Resensi Buku #4 ]

Sumber Foto: Pribadi



Judul Buku     : 2024 HIJRAH UNTUK NEGERI
Penulis            : Aji Dedi Mulawarman
Penerbit           : Yayasan Rumah Peneleh
Tahun Terbit    : 2016
Tebal Halaman: 316 Hlm
Resentator       : Budi Setiawan

Sinopsis Buku :

Berbicara masalah peradaban merupakan kemewahan bagi masyarakat negeri ini, karena tema seperti ini memang tak bisa dijadikan “pasar” seperti halnya berbicara masalah-masalah di luar topik itu. Membincang peradaban juga tak hanya sekedar menelusuri sejarah tokoh dan peristiwa-peristiwa penting pada pusat-pusat kekuasaan Yunani, Romawi, China, India, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Jepang, Majapahit, Perlak, Malaka, Demak, Mataram Baru, Ternate dan Tidore, serta pusat-pusat kejayaan lainnya saja. Membincang peradaban juga bukan hanya masalah “makan” dan “kuasa”, ekonomi dan politik saja, dan dengan itu pula maka peradaban bisa hancur, luluh lantak tak berkeping, hilang dari sejarah masa kini dan masa depan seperti halnya peradaban suku Maya, Aztek, Roma dan lain-lain.

Jika standart kemakmuran suatu negara hanya dinilai berdasarkan penerapan model institusi inklusif ekonomi dan politik seperti yang dikemukakan oleh Acemoglu dan Robinson lalu bagaimana dengan degradasi moral dan tingginya angka kejahatan yang justru itu ada di negara yang katanya makmur? Memang taraf hidup di Barat meningkat kemakmurannya, tidak di Timur, luar biasanya perkembangan sains teknologi, jaminan pendidikan meningkat drastis. Fukuyama mengatakan sebagai simbol kemenangan Liberalisme dan Demokrasi liberal, Barat adalah pemegang sah status sosial manusia terakhir di muka Bumi. Tetapi, kemakmuran, sekali lagi juga dibarengi dengan kehancuran moralitas seperti bencana kebebasan LGBT- Lesbong hombreng, meningkatnya kejahatan, aborsi, masifikasi penggunaan narkotika, serta kejahatan-kejahatan lainnya yang melejit melampaui dunia timur.

Tak hanya itu, institusi inklusif ekonomi dan politik yang digadang-gadang Acemoglu dan Robinson berbasis demokrasi liberalnya Fukuyama di Barat, diungkapkan Fukuyama sebagai realitas paling bobrok, birokrasi sebagai simbol insitusi inklusif adalah pusat segala kebobrokan yang menyebabkan pembusukan politik, political decay.

Secara sederhana kemakmuran dalam benak Barat, hanyalah kemakmuran berbasis materialisme, tidak lebih. Begitu kira-kira jika kita melihatnya hanya dalam kategori-kategori praksis pragmatis seperti yang tengah menjadi fokus dunia Barat. Berbeda pandang dengan penulis buku ini yang mengatakan bahwa, “kemakmuran seharusnya, adalah bagian dari integralitas berjiwa langit untuk memberikan yang terbaik bagi umat, dan setiap manusia maupun masyarakat di dalamnya memiliki hak, keinginan, kebersamaan yang sebenarnya, serta kebaikan yang perlu didakwahkan kepada siapapun untuk mencapai ummatan wahidah sekaligus wasatha. Umat yang utama, sekaligus umat yang sejahtera seiring sejalan. Sangat disayangkan memang apabila kita sudah dipenjarakan dalam kenyataan pikiran dan laku pragmatisme dunia, materialisme, liberalisme dan sekularisme yang terekam di dalamnya, Deus Absconditus, Tuhan ada, namun Tuhan dianggap sudah pensiun. Jika demikian, sungguh itu adalah realita yang begitu menyedihkan.

Melihat kondisi umat Islam Indonesia yang saat ini kian terpuruk dan diistilahkan oleh penulis dengan term “dramaturgi dan subhat komunal negeri” inikah wajah kebudayaan nasional kita sekarang? Kita lihat gejolak sosial terdahulu misalnya, aksi berujung kematian lima orang guru (honorer) hanya karena aspirasi kesejahteraan dan bahkan sebatas status sosial  dan tak pelak di sisi lain terjerembablah kita pada arus LGBT hasil pendidikan puluhan tahun negeri tanpa desain jelas, sisi lainnya pula negara membuat kebijakan antisipatif secara masif aksi terorisme. Belum lagi gerakan jutaan manusia dari daratan Cina ke Indonesia, baik terang-terangan maupun tak kasat mata, lewat jalan manapun.

Apakah empat contoh gejolak sosial tersebut pernah ditangkap dalam satu frame “gagap kebudayaan” (Sebagaimana Daniel Bell menyebutnya kontradiksi budaya)? Apakah negeri ini memang punya style selalu melakukan antisipasi parsial tanpa mengkaji lebih dalam dan substantif persoalan-persoalan sosial sebagai masalah kebudayaan? Sebenarnya apa yang terjadi dengan negeri ini.

Negeri ini milik bersama, umat islam harus terdepan mengajak entitas umat lain membangun kebudayaan dalam kerangka religi, bukan lainnya. Negeri harus diselamatkan lewat konsolidasi kebudayaan, kebudayaan beragama. Masih ada waktu, menjelang takdir 100 tahun munculnya tajdid (pembaharu) sebagai simbol kemenangan yang harus diraih sejak 1924 kongres Al-Islam ketiga di Surabaya, saat ini menjelang 2024 melakukan perubahan dengan mengedepankan kebudayaan dalam kerangka religiositas, kebudayaan bermarwah masjid, sedangkan pasar tetap perlu tetapi harus diletakkan di kodrat aslinya, bukan menjadi superior dibanding masjid (seperti saat ini dan telah menjadi kebenaran umum).

Kelebihan:

1).    Salah satu buku yang mencoba membincangkan peradaban dunia dan nusantara dengan kacamata analisis kritis penulis.

2). Memiliki ruang lingkup pembahasan yang cukup komprehensif dan visioner dalam membaca gejala-gejala globalisasi yang membingungkan.

3).   Terdapat beberapa tabel, diagram dan gambar ilustrasi yang secara proporsional disajikan oleh penulis di buku ini sehingga memudahkan pembaca memahaminya.

Kekurangan:

1).    Tulisan dalam buku ini tergolong lumayan berat jika dibaca oleh masyarakat awam yang semestinya ditulis juga arti kata-kata yang sukar dipahami dalam lembar glosarium.

2).  Terdapat beberapa pernyataan dari beberapa ahli yang dikutip dengan bahasa Inggris namun tidak ditulis artinya yang memudahkan pembaca untuk memahami maknanya.



Selasa, 18 Februari 2020

Berbagi Bukan Hanya Soal Materi

[ JJB Ke #27 ]


Sumber gambar: marketeers.com


Banyak yang bilang dengan kita berbagi maka kita akan jauh lebih bahagia. Saya rasa itu benar adanya. Pasalnya ketika kita berbagi maka secara otomatis kita telah mengeluarkan energi-energi positif dalam diri kita untuk kemudian menularkannya ke orang lain lewat aktivitas berbagi tersebut. Sejalan dengan teori Hukum Kekekalan Energi (HKE), saat kita mengeluarkan energi positif, maka dipastikan yang kembali pada diri kita adalah energi positif. Dalam kasus ini energi positif yang dikeluarkan saat berbagi akan mendatangkan energi positif juga berupa kebahagiaan tersebut.

“Sharing is caring” berbagi itu peduli, begitu kata orang-orang. Berbagi adalah suatu aktivitas wujud kepedulian kita terhadap sesama, sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial. “Zoon Politicon” begitu Aristoteles mengistilahkan manusia sebagai hewan yang bermasyarakat. Maka tak ayal, semenjak kecil kita telah diajari untuk berbagi dengan teman-teman sebaya kita baik itu berupa makanan, mainan dan bersikap adil ketika sedang bermain. Kala itu berbagi menjadi hal yang sangat menyenangkan, dalam benak kita kalau hari ini memberi besuknya akan menerima. Atau setidaknya kita punya hak untuk menerima kembali buah dari apa yang kita beri.

Tentang keihklasan saat memberi mungkin lambat laun baru kita pelajari prakteknya saat kita menginjak usia dewasa. Ketika tahu bahwa membagi adalah bentuk dari shodaqoh yang harus disertai dengan keikhlasan, ketika tahu dan sadar bahwa membagi itu bukan hanya soal “hutang-saur”. Dan ketika memahami bahwa aktivitas membagi itu bukan hanya soal materi namun bisa berbentuk pemikiran, saran, pendapat, kritik, motivasi, informasi dan lain sebagainya.

Terlebih dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, kita lebih dimudahkan untuk berinteraksi dengan berbagai orang diberbagai belahan dunia dan pelosok negeri hanya dengan menggunakan media smartphone yang kita miliki. Dengan fitur share kita bisa berbagi informasi dan pemikiran lewat bergai kanal seperti Whatshapp, facebook, twitter, instagram dan blog hanya dengan sentuhan jari jemari kita di gadget.

Sharing/share adalah istilah ketika pengguna internet membagikan sebuah informasi/file di internet untuk bisa diketahui secara luas oleh pengguna internet lainnya. Dengan internet kita bisa membagikan berbagi macam informasi dan file dengan cepat dan mudah. Tak hanya itu, aktivitas ini juga bisa mempengaruhi teman atau orang yang menjadi target berbagi kita untuk membagikan pula ke orang lain hingga bisa berdampak lebih luas dengan begitu cepat. Andai yang kita bagikan bisa memberi manfaat dan berdampak sosial yang lebih baik, maka kita bisa disebut influencer positif.

Namun, seringkali karena terlalu mudahnya berbagi, kita tidak melakukan penyaringan terlebih dahulu terhadap informasi yang kita dapat. Sehingga banyak sekali informasi bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech), konten-konten sampah yang tidak mencerdaskan terbagikan di media sosial dan internet. Maka dari itu perlu adanya verifikasi terhadap info atau tulisan yang dibagikan  agar tidak termakan berita hoaks. Niat mulia untuk berbagi jangan sampai berujung dibui, seperti kasus yang banyak terjadi belakang ini.

Pada dasarnya saya menyenangi aktivitas berbagi, terutama yang lebih sering berbagi apa yang saya tahu lewat media sosial, wa, blog, diskusi dan termasuk yang belakangan saya tekuni yaitu menulis buku. Berbagi yang lain kadang masih terasa berat, seperti uang misalnya. Apalagi sumber pemasukan saya dari kerja dan jualan buku , terbilang belum begitu banyak. Akan tetapi saya harus tetap mensyukurinya supaya nikmatnya ditambah. Amin.

Aktifitas berbagi  tersebut memang saya tujukan agar apa yang saya tahu tidak berakhir di diri sendiri hingga pada akhirnya dicap sebagai orang yang “pelit ilmu” naudzubillah. Saya ingin informasi itu bisa dikonsumsi oleh orang-orang yang membutuhkannya baik saat ini atau suatu saat nanti. Hingga sang penerima bisa memperoleh manfaat dari apa yang tengah saya bagikan. Sudah pasti senang rasanya ketika kita bisa menjadi jalan untuk mewujudkan kebahagiaan orang lain. Sebab, dengan demikian semoga kehidupan saya di dunia ini bisa lebih sedikit berarti dan tak terkesan hanya sebatas “mampir ngombe” saja.

Sidoarjo, 18 Februari 2020 || Budi Setiawan

Selasa, 03 September 2019

PDKT dengan Ilmu Politik


[ Resensi Buku #3 ]

Sumber Foto: Pribadi


Judul Buku      : Mengenal Ilmu Politik
Penulis             : Ikhsan Darmawan
Penerbit           : PT.Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit    : 2015
Tebal Halaman : 206 Halaman
Resentator       : Budi Setiawan

Sinopsis Buku :

“Politik” pada dasarnya ada di dekat setiap manusia karena politik tidak hanya tentang persoalan yang berkenaan dengan sedikit orang seperti tarik-menarik kepentingan diantara para elit politik, tapi juga bersentuhan dengan hal paling kecil dan dihadapi banyak (bahkan jutaan) orang di sebuah negara seperti naik atau turunnya ongkos kendaraan umum. Kajian mengenai bagaimana dan mengapa sebuah kebijakan dibuat oleh pemerintah dan siapa pihak yang diuntungkan atau dirugikan (dalam konteks kepentingan) oleh sebuah kebijakan tersebut adalh salah satu bagian yang dibahas dan diteliti di dalam ilmu politik.

Ilmu politik sendiri ialah kumpulan pengetahuan yang logis dan sistematis tentang politik. Sejarah kemunculan ilmu politik jika ditelusuri jauh ke masa lampau berawal ketika ilmuwan Yunani bernama Plato mengahasilkan karya-karyanya yang berjudul Republic, Statesma, dan Laws. Dalam karyanya tersebut , Plato mengajukan gagasan-gagasan tentang keadilan, political virtue, dan macam-macam bentuk pemerintahan wilayah (polity). Selain Plato, juga ada karya Aristoteles, politics, yang mengulas mengenai negara, manusia, kesetaraan dan ketidakseataraan, kewarganegaraan, sistem politik, demokrasi , oligarki dan banyak hal lain.

Ilmu politik memiliki sejumlah fokus yaitu diantaranya: a). Fokus pada kekuasaan, b). Fokus pada institusi, c). Fokus pada proses kebijakan, d). Fokus pada ideologi dan gerakan, e). Fokus pada hubungan internasional dan f). Fokus pada perilaku politik. Politik sendiri menurut Andrew Heywood dan sejumlah ilmuwan lain berasal dari bahasa Yunani yakni Polis, secara harfiah artinya adalah negara-kota. Interpretasi mengenai kata politik tidak hanya soal “negara-kota”. Hal ini dikarenakan kata “politik” itu sendiri pada dasarnya tidak bermakna tunggal setidaknya ada empat interpretasi dari kata politik yakni; 1). Seni mengelola pemerintahan 2). Kekuasaan 3). Konflik dan 4). Proses pembuatan kebijakan.

Pemerintah di negara manapun memegang peran yang penting dan strategis. Baik atau buruknya sebuah pemerintah dalam mengelola kebijakan dan pemerintahannya menentukan baik atau buruknya nasib banyak orang di negara tersebut. Apabila pemerintah di negara tertentu tidak mempedulikan ragam kebebasan dan hak asasi manusia dengan dalih menciptakan keteraturan, maka dampak yang dialami warga dari negara tersebut adalah hilangnya banyak kebebasan serta jaminan hak asasi yang bagi banyak pihak adalah hal yang mutlak dimiliki tiap orang saat ini.

Pemerintahan (the goverment) sendiri diartikan sebagai proses kelembagaan dimana keputusan kolektif dan biasanya mengikat dibuat. Pemerintah (goverment) berbeda dengan pemerintahan (governance). Pemerintah mengacu kepada suatu kelompok tertentu yang memiliki wewenang untuk mengelola kekuasaan selama jangka waktu tertentu. Sedangkan pemerintahan ialah seluruh hal yang bertalian dengan masalah dan urusan pemerintah. Austin Ranney membagi tipe pemerintahan menjadi tiga berdasarkan letak kekuasaan untuk memerintah yaitu: 1). Otokrasi (autocracy), pemerintahaan oleh satu orang 2). Oligarki (oligarchy), pemerintahan oleh beberapa orang 3).Demokrasi (democracy), pemerintahan oleh banyak orang.

Di dalam ilmu politik terdapat konsep yang banyak dikenal, yaitu trias politica, konsep trias politica berawal dari pemikiran bahwa kekuasaan sebaiknya tidak diserahkan kepada satu orang atau lembaga saja. Hal ini berkaitan dengan ungkapan Lord Acton yang menyebutkan, “power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely”. Artinya, kekuasaan cenderung untuk korup atau menyeleweng, dan kekuasaan yang absolut pasti korup atau menyeleweng. Trias politica itu sendiri artinya pembagian kekuasaan kepada tiga lembaga kekuasaan yaitu lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Seorang pembuat kebijakan tidak mungkin dapat juga menjalankan fungsi penerapan kebijakan tersebut secara sekaligus dikarenakan pembuat kebijakan itu memiliki spesialisasi fungsi dalam pembuat keputusan politik saja. Oleh sebab itu, maka lembaga eksekutif memerlukan birokrasi. Secara etismologi, kata birokrasi diambil dari dua kata yaitu “bureau” yang berarti meja dan “cracy” yang berarti pemerintahan. Secara sederhana, birokrasi dapat didefinisikan sebagai seluruh unit yang berada di bawah lembaga eksekutif yang tugasnya membantu lembaga eksekutif dalam penerapan kebijakan-kebijakan.

Di dalam suatu negara yang mendukung sistem demokrasi misalnya, itu ada kaitanya dengan faktor budaya politik yang berlaku di tempat tersebut. Budaya politik adalah nilai-nilai, sikap, dan kepercayaan dari masyarakat tertentu, diperoleh melalui proses sosialisai, yang memengaruhi perilaku politik dalam sebuah negara.

Komunikasi politik, menurut Steven Foster, adalah cara dan implikasi dari  dimana politisi berusaha untuk mengomunikasikan pesan mereka untuk pemilih yang skeptis dan tidak terikat. Dalam hal ini Foster menganggap bahwa komunikasi politik terjadi dalam kaitannya dengan pemilu, ketika terdapat proses kampanya politik yang melibatkan politisi dan pemilih. Sedangkan Opini publik dapat didefinisikan sebagai kumpulan pendapat dari individu-individu di dalam sebuah negara tentang suatu hal yang berkembang di masyarakat. Misalnya ada rencana kebijakan pemerintah untuk membatasi distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM). Maka opini publik dapat berupa opini dari masyarakat tertentu (biasanya berupa responden survei) tentang usulan rencana kebijakan pembatasan distribusi BBM oleh pemerintah. Opini masyarakat dapat berupa “setuju”,”tidak setuju”, atau mungkin saja, “tidak tahu atau ragu-ragu”.

Di samping itu dalam ilmu politik kita juga mengenal yang namanya partai politik, kelompok kepentingan dan kelompok penekan. Kemudian untuk menegakkan prinsip kedaulatan rakyat, maka warga negara harus tetap mempunyai akses untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan, maka diperlukanlah partisipasi politik. Partisipasi politik secara sederhana dapat diartikan sebagai setiap tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk memengaruhi pembuatan kebijakan yang dilakukan pemerintah. Contohnya adalah warga negara membayar pajak kendaraan bermotor. Membayar pajak adalah salah satu bentuk partisipasi politik. Menggunakan hak pilih atau biasa disingkat dengan memilih (voting) adalah salah satu bentuk partisipasi politik yang terjadi dalam sebuah pemilihan umum.

Kehidupan sebuah negara tidak dapat dilepaskan dari ideologi politik baik itu ideologi politik yang secara khusus menjadi dasar kehidupan bernegara dari sebuah masyarakat maupun ideologi politik yang mewarnai dan saling berkompetisi satu sama lain dalam kehidupan masyarakat di sebuah negara. Ada banyak ideologi politik di dunia ini diantaranya adalah: 1). Komunisme 2). Sosialisme 3). Fasisme 4). Liberalisme dan 5). Demokrasi.

Kelebihan:

1. Salah satu buku yang mencoba mengenalkan apa itu ilmu politik beserta     isinya dengan bahasa yang sederhana.
2. Memiliki ruang lingkup pembahasan yang cukup komprehensif dalam tataran pengantar ilmu politik.
3. Terdapat beberapa gambar ilustrasi yang secara proporsional di sajikan oleh penulis di dalam buku.
4. Layak dan cocok dibaca oleh para mahasiswa dan masyarakat luas yang ingin memperluas wawasan tentang dunia politik pada umumnya dan ilmu politik pada khususnya.

Kekurangan:

1. Meskipun secara akademis tulisan dalam buku ini dinilai ditulis dengan bahasa sederhana namun masih ada beberapa kata yang susah dimengerti oleh masyarakat awam yang semestinya ditulis juga arti katanya dalam lembar glosarium.
2. Terdapat beberapa pernyataan dari beberapa ahli yang dikutip dengan bahasa inggris namun tidak ditulis artinya yang memudahkan pembaca untuk memahami maknanya.
3. Sedikit sekali contoh aplikasi dari ilmu politik tersebut yang mengambil subyek dan obyek politik di Indonesia.


Selasa, 30 April 2019

Mahasiswa: Representasi Kaum Borjuis dan Proletar (Buruh) Masa Depan

[[ JJB Ke #26 ]]

Foto Pribadi: May Day 2018 yang lalu


Sebelum membaca tulisan saya terlalu jauh, saya ingin mengajak teman-teman untuk bernyanyi bersama dalam sebuah alunan lagu di bawah ini: 

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota bersatu padu rebut demokrasi gegap gempita dalam satu suara demi tugas suci yang mulia

hari hari esok adalah milik kita terciptanya masyarakat sejahtera terbentuknya tatanan masyarakat Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita kabarkan di tangan kita tergenggam arah bangsa marilah kawan mari kita nyanyikan sebuah lagu tentang pembebasan (Buruh Tani)

Begitulah kira-kira lagu yang sering didengungkan oleh para demonstran dari serikat buruh dan mahasiswa yang tengah menyuarakan aspirasinya di telinga para penguasa. Saya yakin teman-teman yang mengaku sebagai aktivis kampus baik dari Pers Mahasiswa maupun Ormek-ormek (Organisasi Ekstra) seperti HMI, PMII, GMNI dan lain-lain tidak asing dengan lagu tersebut. Namun bagi sebagian mahasiswa yang "IPK Oriented" mungkin masih asing, ada baiknya jika memang iya coba cek di YouTube dulu judul lagunya "Buruh Tani" hehe.

Kita bukan hanya sebatas membahas popularnya lagu tersebut di kalangan aktivis, tapi lebih dari itu. Jika kita analisa lebih lanjut, ada semacam konvergensi yang saling berkaitan antara mahasiswa dengan buruh sebagai subjek instrumen demokrasi. Dan itu terpapar jelas di bait pertama lagu. Artinya, masalah yang berkaitan dengan buruh juga seharusnya menjadi masalah yang patut diperbincangkan di kalangan akademisi seperti mahasiswa.

Berkaca pada sejarah, Hari Buruh "May Day" diresmikan pada 1 Mei oleh pemerintah lewat UU Kerja No.12/1948. Dalam pasal 15 ayat 2 UU No.12 Tahun 1948 dikatakan, "Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja". Namun situasi berubah ketika Orde Baru berkuasa. Sejak 1 Mei 1967, hari buruh sedunia "May Day" dilarang. Serikat buruh dibatasi ruang geraknya dan Orde Baru melemahkan gerakan buruh dengan berbagai cara. Tidak hanya itu, Bahkan pergerakan mahasiswa pada waktu itu juga dibungkam dengan diberlakukannya kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinas Kemahasiswaan). Buruh dan Mahasiswa pada saat itu haknya dibelenggu dengan meng-haram-kan kritik terhadap rezim.

Tahun 1998 ketika Mahasiswa terlibat aksi demonstrasi besar-besaran akhirnya ORBA tumbang dan pasca itu peringatan hari buruh sedunia tak lagi dilarang. Begitulah hiruk pikuknya sekilas perjuangan mahasiswa dan buruh melawan penindasan kapitalisme pada masa itu. Yang sebenarnya antara keduanya saling bertautan seperti yang sudah saya jabarkan di awal.

Mahasiswa: Buruh Masa Depan

Apa artinya hal tersebut bagi mahasiswa? Kita bisa menyimpulkan bahwa mahasiswa adalah para buruh di masa depan. Dengan posisinya sebagai ‘buruh masa-depan’, maka mahasiswa sebetulnya harus sadar bahwa kepentingan buruh saat ini adalah kepentingannya di masa yang akan datang. Ketika mahasiswa lulus, dalam profesi apapun ia bekerja, ia harus sadar bahwa ia adalah ‘buruh’. Kesadaran atas subjektivitasnya inilah yang, menurut Zizek (2009) akan menjadi salah satu fondasi dari resistensi yang ia bangun pada konstruksi bangunan yang bernama kapitalisme.

Mahasiswa: Borjuis Masa Depan.

Seperti yang kita ketahui, makna dari Borjuis menurut KBBI adalah kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas (biasanya dipertentangkan dengan rakyat jelata). Artinya, mahasiswa selain menjadi bagian buruh di masa depan seperti yang saya uraikan di awal juga ada kemungkinan untuk menjadi seorang Borjuis dari kalangan menengah ke atas. Bisa jadi lewat jalur menjadi pejabat pemerintah ataupun menjadi seorang pengusaha. Dan sadarlah, bahwa di kelas inilah benih-benih Kapitalisme tumbuh. Sederhananya Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Tak hanya itu mereka juga rela menindas kaum buruh demi keuntungan pribadinya. Di era Revolusi Industri 4.0, ternyata akumulasi kapital tak hanya dilakukan di pabrik, tetapi  juga di berbagai tempat. Sebut saja misalnya kampus, sekolah, bank, rumah sakit ataupun di perusahan jasa berbasis online yang sekarang mulai tumbuh subur.

Nah, dengan kita mengetahui paham dan konstruksi yang diikuti para kaum kapitalis tersebut setidaknya kita di masa depan bisa menghindari untuk tidak terlibat dan terjatuh dalam kubangan lingkaran setan tersebut.

Begitu sebaliknya, jika mahasiswa adalah representasi dari 'buruh masa depan,' maka sudah selayaknya gerakan mahasiswa saat ini mengambil posisi yang inheren dengan gerakan buruh. Bahwa masalah buruh secara tersirat juga menjadi masalah mahasiswa begitu sebaliknya. Oleh karenanya seperti masalah kesejahteraan buruh yang selalu menjadi tuntutan tiap tahun baiknya menjadi PR juga bagi gerakan mahasiswa untuk ikut serta menyuarakan aksinya tak hanya sebatas di jalan namun juga lewat senjata intelektual-nya melalui penulisan berita Pers Mahasiswa misalnya atau lewat jalur lain. Tujuannya sama, yaitu untuk bersama-sama melawan dan menumbangkan Kapitalisme di Negeri ini. Lalu memberi sinyal "Hijau" bagi pengusaha yang ikut serta mensejahterakan karyawannya (Social Entrepreneur).

SELAMAT HARI BURUH SEDUNIA Bagi para buruh masa kini dan masa depan. Semoga kita tetap diberi kekuatan untuk tetap melawan Kapitalisme.

Sidoarjo, 30 April 2019 || Budi Setiawan

#SalamMahasiswa 💪
#SalamPersMahasiswa 📸📝
#SalamPergerakan.
#PanjangUmurPerjungan.

Senin, 25 Maret 2019

"Konsep Minimalisme: Kebahagiaan hidup dalam kesederhanaan"

 
[ Resensi Buku #2 ]
Sumber foto: Pribadi


-Judul Buku   :Seni Hidup Minimalis
-Penulis         : Francine Jay
-Penerbit       : PT.Gramedia Pustaka Utama
-Tahun Terbit: 2018
-Tebal            : 260 Halaman
-Resentator   : Budi Setiawan

Hidup dengan menerapkan konsep Minimalisme bisa diartikan kitalah yang mengendalikan barang yang kita miliki. Kita yang menentukan ruang, fungsi, dan potensi rumah kita. Kita mengubah rumah menjadi tempat terbuka, penuh udara segar, dan mampu menampung hal-hal bermakna dalam hidup ini. Itu artinya kita menyatakan kebebasan dari kondisi yang serba-berantakan. Bebas berarti merdeka. Merdeka dari apa? Dari keterikatan dan belenggu barang-barang yang kita punya.

Coba kita pikirkan berapa banyak waktu dan energi yang kita korbankan untuk memiliki suatu barang: merencanakan untuk membeli, mencari diskon, mengumpulkan bahkan mungkin meminjam uang untuk membeli, pergi ke toko, membawa pulang, mencari tempat penyimpanan, belajar menggunakannya, merawat, membeli asuransi dan seabrek kegiatan yang mendorong kita untuk menyikapi barang tersebut. Coba misal kita lakukan setiap tahapan ini dengan jumlah barang yang kita punya. Hasilnya, sungguh melelahkan sekali kawan. Kita merasa tidak pernah punya cukup banyak waktu; bisa jadi barang kitalah penyebabnya. Itulah kenapa di atas disebutkan bahwa barang kita tanpa disadari bisa membelenggu kebebasan dan kemerdekaan kita.

Dengan menumbuhkan pola pikir minimalis penulis mengajak kita melihat dan mengkaji ulang kegunaan barang kita, mempertimbangkan manfaat dan nilai positif darinya serta menemukan kebebasan hidup dengan jumlah barang yang "cukup" untuk memenuhi kebutuhan kita bukan malah memenuhi semua keinginan kita.

Nah, setelah diterapkannya pola pikir minimalis. Langkah berikutnya yaitu mengaktualisasikan sikap tersebut dalam tindakan. Metode yang ditawarkan disini adalah dengan menerapkan metode STREMLINE, yang terdiri dari sepuluh teknik ampuh untuk membersihkan dan menjaga rumah tetap rapi. Teknik ini sangat mudah dilakukan dan diingat. Setiap hurufnya melambangkan satu langkah dalam proses merapikan tempat tinggal Anda. Huruf-huruf metode STREAMILINE tersebut yakni sebagi berikut:

S- Start over: Mulai dari awal
T- Trash, treasure, or transfer: Buang, simpan, atau berikan
R- Reason for each item: Alasan setiap barang
E- Everything in its place: Semua barang pada tempatnya
A- All surfaces clear: Semua permukaan bersih
M- Modules: Ruang
L- Limits: Batas
I- If one comes in, one goes out: Satu masuk, satu keluar
N- Narrow down: Kurangi
E- Everyday maintenance: Perawatan setiap hari.

Setalah kita memahami metode STREAMILINE diatas kemudian kita akan menerapkan metode itu pada ruangan-ruangan tertentu yang ada di rumah kita. Baik itu ruang keluarga, ruang tidur, ruang pakaian, ruang kerja, ruang dapur, ruang makan, kamar mandi, ruang penyimpanan (Gudang, garasi, loteng) serta juga bagaimana menyikapi barang-barang hadiah, peninggalan dan barang kenangan dari orang-orang tersayang.

Setalah semua tahapan diatas sudah kita praktekkan dan terapkan kemudian selanjutnya adalah memperkenalkan cara hidup yang sama kepada anggota keluarga. Anggota keluarga merupakan kesatuan komponen yang harus saling bekerjasama demi tercapainya konsep hidup minimalis beserta kebahagiaan yang diharapkannya. Kita perlihatkan betapa asyiknya hidup hanya dengan sedikit barang dan rumah yang rapi.

Gaya hidup yang sederhana juga bisa berdampak positif pada bumi, penghuninya dan generasi mendatang. Dampak penting yang akan semakin mendorong kita untuk mengurangi konsumsi dan hidup tanpa beban di muka bumi. Kata Mahatma Gandi, "Hiduplah dengan sederhana agar orang lain dapat hidup." Tak disangka inilah hadiah terbesar yang bisa didapatkan dari hidup minimalis. Kita harus berpikir global bahwa didunia ini kita hidup bersama lebih dari tujuh miliar orang lainnya. Ruang dan sumberdaya kita terbatas, lalu bagaimana kita bisa menjamin ada cukup makanan, air, lahan, dan energi untuk masa yang akan datang jika tanpa sedikitpun menerapkan konsep hidup minimalis?

Kelebihan Buku:

-       Buku ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin meraih kebahagiaan dengan menerapkan cara hidup minimalis

-       Isi dari buku ini bisa membuka wawasan baru untuk kita semua  terkait manfaat yang luar biasa dari konsep hidup minimalis.

     -   Bahasa yang digunakan mudah dipahami maksudnya.

     -   Metode STREAMLINE yang ditawarkanpun mudah diingat dan dipahami.

Kekurangan Buku:

-       Tidak menyertakan form timeline dan cek list daftar pekerjaan yang mestinya bisa lebih menuntun pembaca untuk mempraktekkan tiap metode yang ditawarkan secara bertahap.

-       Tidak ada contoh cerita kasus khusus yang bisa jadi inspirasi buat pembaca untuk lebih memberikan stimulus dalam menerapkannya dikehidupan nyata.

Rabu, 06 Februari 2019

MEMAHAMI TRANSFORMASI MARKETING 4.0

[ Resensi Buku #1 ]

Sumber: Foto Pribadi



Judul Buku      : Marketing 4.0, Bergerak dari Tradisional ke Digital
Pengarang       : Philip Kotler, Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan
Penerbit           : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2019
Tebal Halaman: 171 Halaman
Resentator       : Budi Setiawan

Sinopsis Buku:

            Revolusi industri 4.0 telah membawa pergeseran manusia dari tradisional ke digital dengan begitu cepat. Dilain pihak taktik pemasaranpun terjadi transformasi dan perkembangan dari waktu ke waktu.

            Enam tahun terakhir, marketing 3.0 menginspirasi dunia untuk merangkul dan menjelajahi pemasaran yang berorientasi pada manusia (Human Centris). Dengan adanya konvergensi teknologi ini akhirnya akan berunjung pada konvergensi antara pemasaran digital dan pemasaran tradisional. Untuk itu bapak pemasaran Phillip Kotler beserta Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan memperkenalkan marketing 4.0 sebagai perkembangan wajar dari marketing 3.0.

            Dasar pemikiran utama dari buku ini adalah bahwa pemasaran harus disesuaikan dengan perubahan alami dari jalur pelanggan dalam ekonomi digital. Para pemasar harus menerima pergeseran ke lanskap bisnis yang lebih horizontal, inklusif dan sosial. Media sosial telah menghapus rintangan geografis & demografis yang memungkinkan masyarakat berkomunikasi dan perusahaan berinovasi melalui kolaborasi.

            Paradoks dari pemasaran ke pelanggan terhubung, menuntut pemasar untuk memadukan antara interaksi online versus offline. Dan konektivitas telah memberdayakan pelanggan dengan informasi yang berlimpah. Selain itu Subkultur digital besar dari kaum muda, perempuan dan warganet yang akan menjadi pondasi bagi jenis pelanggan baru sepenuhnya disaat ini.

            Di era digital ini jalur pelanggan didefinisikan ulang dari 4A (Aware, Appeal, Ask dan Act) menjadi 5A (Aware, Appeal, Ask, Act dan Advocate) karena ternyata pendapat dan rekomendasi dari keluarga dan teman-teman kita memiliki dampak besar terhadap keputusan pembelian. Anjuran itu bisa dari online contohnya  TripAdvisor, posting produk perusahaan dll  maupun dari offline.

            Sejalan dengan 5A, buku ini memperkenalkan seperangkat metrik baru yaitu purchase action ratio (PAR) dan brand action ratio (BAR). Keduanya dapat mengevalusai dengan lebih baik seberapa efektif pemasar dalam menggerakkan pelanggan dari sadar ke bertindak dan akhirnya menganjurkan. Pada intinya PAR dan BAR memungkinkan pemasar untuk mengukur seberapa produktivitas usaha pemasaran dalam sebuah perusahaan. Juga ditelusuri secara mendalam beberapa industri kunci & belajar cara  melaksanakan gagasan marketing 4.0 pada industri 4.0 dengan mengidentifikasi empat pola besar untuk berbagai industri: “gagang pintu”, “ikan mas”, “terompet”, dan “corong”.

            Setelah itu dibagian ketiga diuraikan secara terperinci dari marketing 4.0 yang dimulai dengan pemasaran yang berorientasi pada manusia, yang ditujukan untuk memanusiakan mereka dengan atribut yang mirip manusia. Selain itu pemasaran konten dan pemasaran omnichannel juga diharapkan lebih diperhatikan dan ditingkatkan untuk meraih penjualan yang lebih tinggi dengan mengkombinasikan teknologi dengan tradisional.

            Pada akhirnya, marketing 4.0 adalah pendekatan pemasaran yang menggunakan interaksi online dan offline antara perusahaan dan pelanggan, memadukan gaya dan substansi dalam membangun merek dan akhirnya melengkapi onektivitas mesin ke mesin dengan sentuhan manusia ke manusia untuk memperkuat keterlibatan pelanggan. Pemasaran digital & pemasaran tradisinonal dimaksudkan untuk dipadukan dan dikombinasikan dengan tujuan mendapat pembelaan ataupun loyalitas pelanggan.

Kelebihan Buku:

-       Buku ini sangat cocok dibaca oleh para dosen, mahasiswa, praktisi dan pekerja pemasaran, pengusaha serta semua orang yang ingin mengetahui perkembangan terbaru dari dunia pemasaran.

-       Isi dari buku lumayan berbobot karena penulis memaparkan fakta berdasarkan data dan sumber-sumber yang relevan.

-       Memampukan pembaca untuk memeriksa contoh langsung peningkatan produktiviatas dari perkembangan marketing 4.0 dengan melibatkan pelanggan disepanjang jalur dunia nyata melalui pasar digital masa kini.

Kekurangan Buku:

-       Banyak istilah dalam buku ini yang mungkin akan susah dimengerti oleh orang awam.

-       Tidak ada indeks bukunya

-       Cover buku kurang maching dengan judulnya.

Minggu, 03 Februari 2019

Memaknai Kata-kata

[ JJB ke #25 ]

Sumber: Foto Pribadi
”Kata-kata”, sepertinya memang terdengar sepele.Tapi ternyata kata-kata yang mengandung inspirasi kebaikan mampu mengubah cara pandang dan perilaku seseorang, bahkan orang-orang disekitar kita. Kata-kata seakan punya kekuatan sendiri yang mampu membakar semangat, memunculkan emosi positif serta memberi kedamaian dalam diri.

Terkadang kata-kata tersebut sedikit banyak ada yang mampu menyentuh hati. Makjleb katanya, jika suatu kata-kata mampu menggetarkan hatinya. Maka setelah itu tak jarang kita termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lewat sentuhan kata-kata bijak tersebut. Dan selanjutnya orang-orang yang termotivasi dengan kata-kata tersebut punya dorongan kuat untuk menerapkan dalam sebuah aksi nyata.

Sebut saja kata-kata dari Hos.Cokroaminoto, Bung Karno, Bung Tomo dan sejumlah tokoh-tokoh besar kemerdekaan lainnya. Mereka telah mampu memotivasi dan mempengaruhi Rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan ditangan penjajah dengan kata-katanya.
Kalau kita lihat belakangan ini, kata-kata menjadi semacam kewajiban bagi sebagaian warganet dalam bermedia sosial. Mereka menyebutnya dengan nama “caption”. Biasanya orang memberi caption dari status Ig, Facebook, Instastory dan lain-lain dengan kata-kata bijak dari tokoh-tokoh terkenal, ayat suci, hadist, ataupun dari pemikirannya sendiri.

Bahkan, dalam dunia percintaanpun tak luput dari namanya kata-kata. Padahal kata si “Doi” cinta itu tak perlu dijelaskan namun cukup dirasakan. Memang benar sih, namun tanpa adanya pengungkapan akan cinta kita pada seseorang, apakah kita yakin dia akan mengerti maksud kita hanya lewat kode-kode saja? Saya rasa cinta pun memang juga harus butuh kata-kata yang bertindak sebagai penerjemah dari bahasa hati kita.

Akan tetapi, acapkali kita tidak betul-betul memahami apa yang sebenarnya sudah kita tulis dan posting di sosmed akan kata-kata bijak itu. Bisa jadi itu disebabkan kita menuliskannya hanya karena ego semata. Atau lebih parahnya agar kita terlihat lebih berin(telek)tual daripa yang lain. Ah, saya rasa itu terlalu rendahan. Meskipun saya pribadi terkadang juga sering khilaf. Ya, semoga saja setelah ini kita bisa menata niat menjadi lebih baik Amin.

Memaknai kata-kata tidak hanya sebatas memahami apa maksud dari kata-kata bijak tersebut. Akan tetapi lebih dari itu, kita harus menerimanya dengan cara mau mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari sesuai kebaikan apa yang diajarkan dan terkandung dalam kata-kata bijak itu.

Makna sendiri adalah arti atau maksud yang tersimpan dari suatu kata. Artinya, makna dengan kata-katanya sangat bertautan dan saling menyatu. Tjiptadi (1984:19) menyebutkan bahwa jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kata tidak akan memperoleh makna dari kata itu.

Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, kita dulu pernah diajarkan beberapa makna kata seperti makna denotatif, makna konotatif, makna leksikal dan lain-lain. Masih ingatkah? Kalau masih ingat Alhamdulillah, kalau sudah lupa bisa jadi terlalu banyak mikirin kenangan dimasa lalu kali ya. Hehe. Yuk, kita coba buka lagi bukunya atau cari tahu lewat google juga boleh biar ingat kembali ilmunya.

Nah, dengan itu kita sedikit punya senjata yang bisa digunakan untuk menafsirkan sebuah kata-kata. Dalam memaknai kata-kata yang terpenting menurut hemat sayaada dua; Pertama, kita harus cari tahu arti dan makna sebenarnya dari kata-kata tersebut. Kedua, kita harus mau menerima kebenaran dari kata-kata bijak tersebut yang sudah jelas kebenarannya dengan cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sidoarjo, 03 Februari 2019 || Budi Setiawan