Jumat, 07 Juli 2017

Hajat Penggantian Nama Jurnal

Hajat Penggantian Nama Jurnal

[ JJB: Jurnal Jomblo Berprinsip ke#13]

     Sumber foto:http://goowes.co/2016/10/27/


Sebulan lebih blog ini tak tersentuh tangan saya. Saya merasa menjadi kesatria yang kalah di medan pertempuran sengit dengan komitmen saya yang saya tulis dijurnal sebelumnya. Saya berjanji pada diri sendiri akan rutin menulis jurnal diblog ini paling tidak seminggu sekali. Namun pada kenyataannnya lebih dari sebulan blok ini nyaris tak saya sentuh. Nggak kebayangkan andaikan blog ini diibaratkan cewek dan sudah satu bulan lebih saya cuekin, pastilah sudah berpaling ke lain hati he.

Dijurnal ke#13 ini alhamdulillah saya seperti mendapatkan sebuah wangsit (baca:ilham) untuk mengubah judul jurnal saya diblog ini. Yang seperti diketahui bahwa postingan-postingan sebelumnya saya memberi judul jurnal dengan nama JJM (Jurnal Jomblo Mulia) yang nanti akan saya rubah menjadi JJB (Jurnal Jomblo Berprinsip). Penggantian nama ini bukan tanpa alasan. Salah satu alasan yang mendasarinya adalah saya rasa terlalu naif jika saya menyebut diri sebagai jomblo mulia. Karena memang pada kenyataannya terlalu jauh dari apa yag dikatakan mulia. Pastinya terlepas dari makna dari jomblo yang pada hakikatnya memang mulia seperti yang telah saya ulas di jurnal sebelumnya yang berjudul Jomblo Itu Bukan AIB . Ini mungkin sebagai muhasabah diri saya selama ini. Akhir-akhir ini saya akui banyak melakukan kekhilafan dan dosa yang membuat hati saya menjadi gundah gulana. Kosa kata "gundah gulana" ternyata tak hanya bersandingan dengan masalah cinta saja. Tapi dosa-dosa yang kita lakukan juga akan menggelapkan hati kita sekaligus mebuat hati ini menjadi gelisah.

Saya sepertinya telah terjebak dalam lingkaran setan yang berkepanjangan. Hingga berkali-kali mengulangi dosa yang serupa. Tidak perlu saya publikasikan dosa seperti apa yang telah saya lakukan hingga saya menyesalinya seperti ini. Biarlah ini menjadi rasahasia antara aku dengan Allah SWT saja, mungkin dengan beberapa teman dekatku saja. JJB (Jurnal Jomblo Berprinsip) ini mungkin lebih tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini. Yang memang pada awalnya saya memutuskan berstatus single (baca: jomblo) itu karena sebuah prinsip bukan nasib. Ya mudah-mudahan saya tidak gampang khilaf untuk merubah status saya ini terkecuali saya memang sudah benar-benar siap untuk mengakhiri ke-jomblo-an saya. Dan yang paling penting Allah telah mempertemukan dengan bidadari pilihanNya untuk saya. hehe. Sudahlah.. muhasabah kok malah jadi ngomongin jodoh haduh Ya Allah maafkan hamba khilaf.. Didalam jurnal ini saya berkeinginan untuk hanya menulis dengan berdasarkan apa yang telah saya alami dengan cara 3M (Membaca, merasa dan melakukan) untuk kemudian menulisnya based on true story.

Pagi tadi ketika saya membaca beberapa ayat Alqur'an saya menemukan salah satu ayat dalam surat Ar-Ra'd: 11 yang kurang lebih artinya seperti ini "Sesungguhnya Allah tidak merubah apa-apa/ keadaan yang ada pada suatu kaum (ma biqoumin), hingga mereka mengubah apa-apa/ keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka (ma bi anfusihim)". Hati saya terketuk untuk menyadari bahwa rutinitas dosa-dosa yang telah saya lakukan selama ini hingga yang semakin menjauhkan dari kata "mulia" itu karena sikap saya yang cenderung enggan merubah diri (jiwa) saya sendiri. merubah kebiasaan buruk yang selama ini saya lakukan. Saya sungguh takut kalau mendapatkan lebel sebagai orang yang munafik. Saya ingin jujur terutama kepada diri saya sendiri bahwa saya ini naif dan banyak dosa. Hingga saya berharap saya bisa menemukan teman-teman yang busa mengingatkan atas kesalahan yang saya perbuat, bukan hanya memuji kebaikan saya. Teman-teman yang saling menguatkan untuk merubah diri ini keluar dari apa yang disebut "lingkaran setan". Tapi saya begitu yakin bahwa hidup saya dimasa depan adalah yang saya pikirkan dan lakukan saat ini, bukan berdasar apa yang saya pikir dan lakukan dimasa lalu. Saya ingin hari ini lebih baik dari hari kemaren. Karena saya sama sekali tidak ingin menjadi orang yang merugi dikemudian hari.

8 Juli 2017 | Budi Setiawan

Senin, 12 Juni 2017

Tamu yang Terabaikan

Tamu yang Terabaikan

[JJM : Ke #12]


Saudaraku tersayang
Aku ingin pulang
Aku bak tamu yang tak diundang
Karena kehadiranku sering kau abaikan


Hampir setengah bulan aku bertamu diistanamu
Tapi kau tak meng-indahkan kedatanganku
Bahkan oleh-olehku yang aku bawa dari jauh, nyaris tak kau sentuh.

Memang dulu saat aku akan datang
Kau mengaku menyambutku dengan senang.
Marhaban yaa.. ramadhan..
Marhaban yaa.. ramadhan..

Tapi begitu aku datang kepadamu
Aku tak lebih hanya kau persilahkan masuk
Tanpa kau memberikan jamuan yang manis kepadaku

Al-qur'an hanya kau baca sekilas
Kalah dengan update status diwaktu dan tempat yang tak terbatas
Kau juga lebih senang tertidur pulas
Daripada beramal baik dan bekerja keras

Malampun kau sibukkan diri dengan berbelanja
Daripada kau minta ampunan atas segala dosa
Terkadang sholat maghrib sering kau tunda tunda,
Kalah asyik bercengkrama saat buka bersama.

Saudaraku,
rasanya aku seperti tamu yang tak diharapkan.
Sepertinya kau tak menyesal jika ku tinggalkan.

Percayalah wahai saudaraku
Belum tentu aku bisa bertemu kau lagi.
Karena bisa jadi jatah hayatmu keburu habis.
Kau pasti bakal menyesal lantaran membiarkanku terlantar.

Wahai Saudaraku,
Kapankah kau akan memperhatikanku
Sebelum aku benar-benar meninggalkanmu.

8 Juni 2017 | Budi Setiawan

Jumat, 26 Mei 2017

Cerita Dari Negeri Santri



Cerita Dari Negeri Santri

[JJM : Ke #11]

Suasana di kota Santri
Asyik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda-mudi berbusana rapi
Menyandang Kitab Suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang-pergi mengaji .
(lirik “Kota santri”- Nasidaria Qosidah)

Ini pondok putra tampak depan


Pesantren itu laksana Penjara Suci, memang benar. Pesantren seakan-akan menjadi penjara sekaligus surga bagi para pencari ilmu khusunya ilmu agama. Di sana terdapat gerbang laksana benteng kokoh, di mana gembok besinya seperti belenggu kebebasan bagi para penghuninya. “Pesantren” pun menyimpan berjuta kisah yang indah , pun di sana ada ukiran kenangan pahit, manis dan unik yang menurut saya sangat menarik untuk digubah dalam bingkai karya pena.

Asrama dan ruang kelas pondok putra

Di JJM (Jurnal Jomblo Mulia) yang ke 11 ini saya ingin berbagi cerita dan pengalaman tentang apa yang pernah kurasa, kualami dan kujalani. Betapa pernak-pernik perjalanan dipesantren tersebut terlalu sayang untuk hanya dikenang, namun harapannya semoga bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi saya pribadi khususnya dengan mengingat ingat perjalanan masa lampau sebagai acuan untuk melangkah kedepan. Karena seperti yang kita kita ketahui bersama ada ungkapan Experience Is The Best Teacher bahwa “Pengalaman adalah guru terbaik”. Adapun jika teman-teman pembaca mendapatkan kemanfaatan dari tulisan saya, ya alhamdulillah. Paling tidak akan sedikit memberikan jawaban dari pertanyaan: “Bagaimana sih, sebenarnya kehidupan dipondok pesantren itu?”.

Pembacaan Rutinan Maulid Simtudurror


Bagi saya pribadi, menghabiskan sebagian waktu dipondok menjadi sangat penting. Ada banyak sekali hal-hal yang tidak didapat ketika tak pernah mondok. Maka dari itu jika ingin merasakan bagaimana serunya kehidupan dipondok, silahkan mondok dulu. Itu merupakan satu-satunya cara. Kalau hanya dengan membaca buku-buku novel seperti negeri 5 menara karya Ahmad Fuadi atau film mengenai kehidupan dipondok itu saya rasa belum cukup. Tak akan bisa membuat kita total dalam memaknai sensasi saat-saat dipesantren. Ada satu alternatif seadainya teman-teman pembaca ingin merasakan bagaimana nuansa ngaji dipesantren yaitu dengan mengikuti kegiatan ngaji posonan. Mungkin kegiatan ini agak terdengar asing ditelinga kita. Karena memang kegiatan yang sering dilakukan di masyarakat umum adalah seperti tadarrus Al-qur’an, Kultum, ataupun kajian-kajian di bulan Ramadhan. Lalu apa itu ngaji posonan ? Ngaji posonan atau sering disebut ngaji kilatan adalah istilah jawa dalam menyebut tradisi pengajian di sebagian pesantren-pesantren di Indonesia yang dilaksanakan di bulan Ramadhan. Biasanya dilaksanakan kurang lebih 15-20 hari dibulan Ramadhan. Seperti apa keseruannya ngaji posoan di bulan Ramadhan? Jawabannya mungkin bisa dicoba sendiri-sendiri dulu ya, dan silahkan ditafsirkan sendiri-sendiri. Hehe. (Terkait pembahasan ngaji posonan Insya’Allah bisa saya tuliskan dijurnal berikutnya geh).

Suasana ngaji kitab kuning

Oke, kita lanjut (kembali ke laptop) he. Saya sendiri pernah mengenyam pendidikan dipondok pesantren tapi tidak lama hanya tiga tahunan di Kota ponorogo. Jika kita berbicara ponpes di Ponorogo yang maka yang paling terkenal adalah Pondok Modern Gontor yang pernah salah satu santrinya mengabadikan kisah dipondok Gontor itu kedalam sebuah novel yang menjadi Best Seller. Yaitu novel Negeri 5 menara karya A.fuadi. Tapi pondokku bukanlah di Gontor tersebut, pondok saya adalah pondok salaf dimana sistem pengajarannya menganut sistem tradisional. Pondok pesantren yang mengkaji “Kitab-kitab kuning” (kitab kuno). Banyak hal yang mengesankan ketika mondok dipesantren salaf salah satunya adalah hubungan antara kyai dengan santri cukup dekat secara emosional. Kyai terjun langsung  dalam menangani para santrinya. Yang menjadi ciri khas pesantren salaf yaitu sistem pengajarannya menggunakan arab pegon, dimana arab pegon tersebut sebagai metode dalam memaknai kitab yang diajarkan dengan tulisan arab tapi menggunakan bahasa jawa. Kebetulan pondok saya dulu adalah pondok yang memadukan sistem pengajaran tradisional dengan sistem modern dengan adanya sekolah umum di lingkup pesantrennya seperti adanya sekolah MTs (setara dengan SMP) dan MA (setara dengan SMA). Sehingga saat saya mondok dipesantren tersebut tidak hanya ilmu agama yang diajarkan tapi ilmu umum juga tidak ketinggalan.

Asyiknya makan bersama santri

Yang menyenangkan dari Santri di pondok adalah sikap kekeluargaannya. Teman se-pondok bagiku adalah sebuah keluarga besar. Karena orang tua dari para santri bertempat tinggal jauh dari pondok bahkan ada beberapa santri yang berasal dari luar pulau, maka teman-teman santri yang dirasa lebih dekat menjadi keluarga baru dipondok. Jika ada yang sakit maka teman sekamar yang mengurusnya. Saat kehabisan bekal pinjam teman yang punya, saat ada makanan dimakan bersama-sama (Senampan bersama) dan saat ada masalah kita saling curhat untuk saling memberi solusi. Indah nian jika mengingat masa-masa itu yang sulit sekali saya dapatkan saat sudah mengenyam pendidikan di bangku kuliah saat ini. Untuk meringankan beban orang tua dulu ketika mondok saya nderek ndalem (bekerja jadi abdi ndalem dirumahnya Kyai) dan alhamdulillah selama mondok saya dibebaskan dari tanggungan SPP baik yang sekolah umum maupun SPP pondok. Bahkan biaya makan dan asrama pun saya ditanggung ndalem (keluarga kyai). Saya hanya mengeluarkan biaya untuk keperluan pribadi saja seperti, kitab-kitab, buku, peralatan mandi dll. Dari situ saya bisa sedikit meringankan beban Orang Tua. Di ndalem bu Nyei keseharianku  adalah jadi petugas kebersihan baik membersihkan ndalem bu Nyei dan juga mengambil sampah-sampah di halaman pondok putri. F.Y.I hanya santri putra yang ikut ndalem seperti aku sajalah yang boleh masuk dipondok putri. Sebenernya awal-awalnya malu untuk mengambil sampah itu tapi lama-lama jadi biasa saja. Terkadang ada rasa senang juga saat papasan dengan dengan santriwati yang jadi pujaan hati hehehe. Walaupun hanya sebatas saling tebar senyum dan curi pandang dikit tapi senengnya bukan main. Eiiits.. ini pun juga saya lakukan dengan ekstra hati-hati. Kalau sampai Ibu Nyai atau Abah tahu bisa terjadi musibah besar hehe. (Jangan ditiru ya).




Mungkin terkesan sering saya mempromosikan pondok dan kegiatan-kegiatan santrinya di media sosial. Ya, saya memang menuliskannya dalam rangka ikut mengkampanyekan gerakan “ayo mondok” yang dicanangkan PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Seperti yang diutarakan Katib Syuriyah PCNU Jember, Ustadz MN.Harisudin, gerakan Ayo Mondok merupakan langkah positif dalam rangka mencetak generasi bangsa yang cerdas sekaligus berakhlak mulia. Dan pastinya kita berharap agar orang-orang mau menengok pesantren sebagai lembaga pendidikan alternatif ditengah zaman “kekinian” yang begitu tak karuan saat ini. Saya pun begitu tertampar ketika membaca wejangan dari KH.Abdullah Kafabihi Mahrus (Pengasuh pondok Lirboyo kediri) yang menyebutkan “alumni pesantren yang tidak peduli dengan pesantren tidak lebih baik dari yang tidak alumni tapi peduli dengan pesantren”. Lewat membagikan kesan-kesan dari nilai kebaikan-kebaikan yang pernah saya jumpai dipondok ini semoga menjadi sedikit usaha untuk peduli terhadap pusat kaderisasi da’i-da’i itu sendiri. Amiin.

Ziarah Wali di Madura dengan teman seperjuangan

Banyak hal kenapa Orang Tua penting memondokkan anaknya di pesantren. Menurut pengalaman penulis sendiri ada beberapa hal yang dirasa menjadi alasan kenapa mondok itu penting. Pertama dipondok pesantren terutama pondok salaf (Pondok Tradisional NU) memiliki sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari dipesantren salaf bisa dipertanggung jawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua diperkenalkannya konsep barokah. Dalam kehidupan di pesantren barokah ini menjadi hal yang sangat penting bagi semua santri. Seringkali kita mendengar, setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapat barokah kyainya maka akan sia-sia ilmunya. Barokah sendiri mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah SWT (ziyadatul khoir). Artinya setiap waktu semakin bertambah baik. Ketiga dipesantren juga diajarkan bagaimana bersosial. Seperti yang telah saya ceritakan diawal bahwa kebersamaan di pesantren itu sangat erat diibaratkan penghuni pesantren adalah The Big Family (keluarga besar). Semisal bagaimana santri makan bersama dalam sebuah nampan. Dan saling saling bahu membahu jika teman yang lain terkena masalah atau musibah semisal sakit. Dari situ bisa kita lihat bahwa kebersamaan menjadi hal penting kaitannya dengan pendidikan sosial. Kelima adalah Akhlak. Seseorang santri yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan.
Para pengasuh pondok (No.2 dari kiri adalah Kyai Zami' Khudz Dza wali Syam No.3 adalah Kyai Ayyub Ahdiyan Syam

Ini hanyalah sedikit pengalaman yang pernah penulis alami. Masih banyak pengalaman dan hal-hal lain yang menjadi jawaban bahwa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. InsyaAllah jika saya nanti dikaruniai anak maka saya berniat untuk memondokkannya. Tentunya setelah saya dipertemukan jodoh saya dulu,he.

Sekian.

26 Mei 2017 | Budi Setiawan

 Foto-foto lain:




Habis ngaji ya ngrumpi bahas Agama, negara kemudian santri putri hehe
Sepak bola ala santri

Ziarah wali dengan Romo Kyai Ayyub
Pelantikan pengurus OSIPP (Organisasi Santri Intra Pondok Pesantren)




Minggu, 07 Mei 2017

Merasa Tertinggal Jauh



#JJM Ke 10
Merasa Tertinggal Jauh 
 
Sumber gambar: www.solopos.com
 "Jangan pernah jadi orang yang gampang puas! Masih banyak puncak-puncak yang harus kau capai"- Anis Baswedan

Akhir-akhir ini saya sering berfikir betapa sangat tertinggal jauhnya saya dari mereka-mereka yang telah menemukan singgasananya dipintu kesuksesan. Kesuksesan disini menurut saya tidak bisa dianalogikan hanya milik mereka-mereka yang punya duit lebih dan kecukupan dari segi materi saja. Tapi menurutku esensi dari kesuksesasan adalah ketika orang itu dapat memberikan manfaat lebih bagi orang lain. Karena seperti yang kita ketahui bersama menurut baginda Rasul SAW.“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”.

Saya mungkin bisa jadi termasuk pemuda-pemuda yang kurang gaul dan kekinian, karena memang jadwal nonton, liburan, ataupun ngopi bisa dihitung  dalam  beberapa bulan terakhir ini. Semestinya kegiatan-kegiatan semacam itu menjadi jadwal rutinitas pemuda kekinian setiap minggunya. Saya lebih suka bermesraan dengan buku-buku daripada bermesraan denganya.Eits, kata ganti “nya” disini ternyata juga masih tanda tanya, he.  Saya juga mulai senang mengikuti beragam acara. Tentu acara yang saya ikuti tersebut temanya sesuai dengan passion saya. Hal-hal yang berkaitan dengan tulis menulis, leadership, entrepreneur, jurnalistik, keagamaan, dan beberapa hal yang selalu mengundang percik antusiasme dibenak saya untuk berkesempatan jadi pesertanya. Mungkin beberapa pemuda asing memaknai berbeda dalam hal yang dikatakan gaul ini. Dan saya ingin mencoba dengan sangat untuk menjadi bagian dari pemuda-pemuda asing ini. Pemuda yang merasa tidak begitu puas dengan hal-hal bersifat umum, punya tingkat kepekaan tinggi terhadap lingkungan sekitar, berfikir diatas rata-rata dan selalu melakukan pengembangan diri untuk bisa berinovasi.

Berawal dari seminar entrepreneur yang diselenggarakan oleh Hipmi PT UNAIR dan BEM FKG Unair bertempat di Gedung Garuda Muka Fakultas kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya kemarin sabtu, (06/05/2017) pikiran mengenai ketertinggalan saya dengan beberapa pemateri semakin menjadi-jadi. Bahkan saya sempat kagum dan penasaran dengan salah satu panitia seminar yang notabennya menjadi ketua Hipmi PT Unair tersebut. Namanya Galang Satria Bella diusianya yang masih sangat muda yaitu 21 tahun bahkan lebih muda dari saya, sudah mampu menciptakan obat nyamuk herbal berkemasan dari limbah kaleng rokok. Suatu kebanggaan tersendiri bagi orang tua punya anak seperti dia dan juga kebanggan kampus punya mahasiswa yang diatas rata-rata seperti beliau. Akhirnya setelah tiba dirumah naluri menulis saya kemudian bangkit lagi. Saya sebenarnya bingung  judul tulisan apa yang akan saya angkat di JJM (Jurnal Jomblo Mulia) yang ke 10 ini. Dan clingg.. Serta merta ada gambar lampu bohlam diatas kepala saya, tanda ide sudah lahir dari rahim imajinasi saya. Ya, ide y itu adalah saya ingin menuliskan beberapa paragraf tentang ketinggalan saya dengan beberapa anak muda yang telah lebih dulu sukses daripada saya. Baik mereka yang sudah saya temui secara langsung maupun yang hanya saya jumpai diInternet (Online).

Pertama-tama saya masih penasaran siapa sih sebenarnya mas Galang tersebut dan bagaiman history dari biografi hidupnya selama ini. Betul saja setelah searching saya menemukan website pribadinya. Selain punya produk buatan sendiri yaitu obat nyamuk Miredo yang saya ceritakan diatas ternyata juga sudah banyak pencapaian-pencapaian yang dia raih, seperti Juara 1 lomba Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) Unair 2015, dll. Selain itu ternyata dia juga pernah aktif dibeberapa Organisasi salah satunya Ketua Umum LPM Mercusuar Unair 2014/2015, Reporter majalah Unair 2016 dan masih banyak lagi. Teman-teman bisa cek dan kepoin juga diwebsitenya www.galangkesatriabella.com . Jam terbang dan semangat organisasinya yang tinggi membuat dia dipercayai untuk jadi pengurus dibeberapa Organisasi. Lain halnya dengan beberapa penulis yang saya kagumi karena prestasinya yang luar biasa ditengah setatusnya yang ternyata juga masih lajang (baca: jomblo) he. Seperti mas Brilli Agung, dia adalah penulis buku  Kitab Penyihir Aksara dan 25 buku lainnya. Walaupun masih lajang tapi karya-karya dan pencapaiannya beliau tidak bisa dianggap remeh. Selain itu dia juga dikenal sebagai Authormaker yang telah jadi mentor beberapa penulis lain di Kelas Menulis Online (KMO) dan Bikin Buku Club (BBC). Tidak main-main visi hidupnya adalah “ Di tahun 2060, 7 dari 10 penulis di Indonesia ketika ditanya siapa gurunya, mereka akan menjawab Brilli Agung”.  Tak hanya itu saat ini beliau juga sedang belajar menjadi pengusaha, dengan mendirikan 3 perusahaan: 1. PT. Inspirator Juara Indonesia (Inspirator Academy), 2.PT.Valua Lidi Impressario (Valua Training), dan 3.PT.Wahana Manuskrip Semesta (Jakarta Translator). Yang paling membuat saya terkesan adalah dari ceritanya saat acara bedah buku di kampung steak Rungkut, Surabaya. Dia menceritakan semua hasil royalti dari buku pertama yang dia tulis dipergunakan untuk membiayai umrah Ibunya. Seketika itu hati saya tersentuh dan mata saya berkaca-kaca. Dan berkata dalam hati, “Selama ini apa yang telah saya berikan kepada kepada orangtuaku terutama Ibu, hingga membuat beliau menangis bahagia dengan prestasi-prestasi dan pencapaian anaknya ?”.

Kalau berbicara masalah perencanaan sesuatu baik karir, cita-cita dan lain-lain  saya mungkin lebih punya keahlian tersebut, tapi sayangnya saya belumlah menjadi pengeksekusi rencana yang baik. Memang baground saya saat ini adalah dari mahasiswa jurusan manajement. Mestinya fungsi manajement yang terbalut dalam POACE (Planning, Organizing, Actualing, Controlling dan Evaluting) saya terapkan dengan baik-baik. Tapi nyatanya saya masih terkendala difungsi actualing sebagai bentuk pengeksekusian sebuah rencana. Banyak orang yang tak kuat dan melambaikan tangan tanda menyerah. Semoga saja kita tak termasuk golongan orang-orang yang menyerah kalah tersebut. Apalagi menjadi kesatria yang kalah sebelum bertempur, jangan deh ! itu kan sangat memalukan he. Kita tentunya ingin jadi seorang pemenang bukan, yang kemudian bisa mengajak sebanyak mungkin orang untuk turut serta mengikuti jalan yang telah kita lalui. Tentunya harus kita pastikan dulu bahwa jalan tersebut memang sesuai dan sejalan dengan hukum agama dan negara kita. Amiin.

Sidoarjo, 7 Mei 2017 | Budi Setiawan

Senin, 24 April 2017

Mencari Sebuah Ritme Hidup Didalam Organisasi

#JJM Ke 9

Mencari Sebuah Ritme Hidup Didalam Organisasi

“Sebatang panah akan mudah patah, tetapi tidak dengan sepuluh di dalam sebuah kemasan”- Pepatah Jepang

Dok. Tim Jurnalis Mahardhika





Dari kutipan pepatah Jepang diatas kita bisa memetik sedikit makna tentang sebuah organisasi. Makna yang terkandung disini adalah kita akan lebih kuat jika melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Sebaliknya jika kita bersikap individualis kita akan lemah, karena sejatinya kita hidup didunia ini adalah sebagai makhluk sosial disamping sebagai makhluk individualis. Hal itulah yang menyebabkan timbulnya sebuah organisasi. Together we achive more, dengan kebersamaan tim kita akan dapat memperoleh sebuah prestasi dalam organisasi. Kata-kata ini awalnya saya dapatkan saat bekerja disebuah perusahaan yaitu di PT.Arta Boga Cemerlang Surabaya. Dan inilah salah satu quotes yang membuat saya semangat berorganisasi dikampus STIE Mahardhika Surabaya. Seringkali saya memberikan quotes ini sebagai hastag dimedia sosial dalam rangka untuk membangkitkan semangat kebersamaan dalam organisasi khususnya bagi penulis sendiri. Ya, syukur-syukur kalau teman-teman pembaca ada yang merasa termotivasi dengan tulisan tersebut saya anggap itu bonus,he.

Sebagai mahasiswa kadang kita bingung mau menentukan jadi mahasiswa yang seperti apa. Mau aktif kuliah doang, aktif diorganisasi, atau dua-duanya. Biasanya yang sulit menentukan pilihan tersebut adalah mahasiswa baru. Dilema gitu bawaannya. Kalau masuk masuk takutnya nggak bisa bagi waktu, kalau nggak daftar takutnya nyesel.hehe. Awal kuliah dulu, saya juga bingung mau gabung UKM atau Organisasi apa. Soalnya kakak-kakak senior pada waktu itu mempromosikan UKM dan organisasinya sama-sama menarik dan bisa menarik perhatian maba, saya kira dilihat dari cara pembicaraannya sepertinya mereka fresh gradute agen MLM sehingga bisa mempersuasive audiens yang ada. Berawal dari rasa penasaran dan semangat yang membara akhirnya para mahasiswa baru yang notabenenya belum tahu kehidupan kampus sebenarnya (masih polos ceritanya) daftarin diri ke UKM dan organisasi yang membuat mereka tertarik. Pada waktu itu saya daftarin diri masuk UKM jurnalis karena saya anggap ada ketertarikan dengan UKM tersebut. Alasan saya masuk UKM itu adalah saya ingin punya keahlian dalam bidang tulis menulis, terlebih sebelumya hobi saya suka membaca. Jadi saya pikir waktu itu hobi membaca sebaiknya disandingkan dengan hobi menulis, biar jodoh kali ya.he

Alasan teman-teman yang lain ikut bergabung di UKM dan Organisasi pun juga berbeda-beda. Pertama memang karena sudah ada niat entah itu mencari pengalaman baru, mencari teman baru, mencari kegiatan baru, atau hanya sekedar mencari gebetan baru dengan syarat dan ketentuan berlaku (Khusus buat jomblo) eh. Yang kedua mungkin karena ingin mencari popularitas biar cepat dikenal sama teman-teman mahasiswa yang lain dan juga dosen. Tapi menurut saya apapun motifnya, gabung di organisasi atau UKM itu baik. Walaupun sebenarnya motif atau niat yang baik menurut ajaran Islam adalah untuk mencari ilmu dan pengalaman yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, seperti yang telah dijelaskan oleh Syech Azzarnuji dalam kitab ta’alimul muta’alimnya dalam bab niat. Selain itu daripada kita keluyuran gak jelas, ngopi sambil rokoan di warkop , mabuk-mabukan di-bar, atau malah kegiatannya hanya scroll layar hp di dalam kamar berharap ada yang nge-chat padahal jomblo kan lebih baik ikut UKM atau organisasi. Iya,nggak?. Makanya yang sudah ada niatan masuk organisasi atau UKM jangan ragu untuk daftar. Segera take action mumpung masih muda. Oke, kalau udah pada daftar saya lanjut ceritanya ke pengalaman.

Pengalaman Organisasi dan UKM
Sumber foto:anakuntad.com/2015/07/4

Sebenarnya apa sih organisasi itu? Menurut wikipedia.org organisasi adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Berbicara tentang pengalaman organisasi sebenarnya saya mulia mengenal dan masuk organisasi itu waktu kelas dua SMP. Waktu itu saya mengikuti organisasi kemasyarakatan yaitu Persaudaraan Setia Hati Terate sebuah organisasi yang berfokus pada pencak silat, persaudaraan antar warga dan falsafah-falsafah yang telah diajarkan oleh pendirinya. Untuk yang di dalam sekolah saya mengikuti Osis dan menjabat sebagai wakil akan tetapi waktu itu Osis di smp saya masih jarang mengadakan meeting bersama ataupun mengadakan sebuah acara. Bisa dibilang waktu itu ke-Osis-an saya masih bisa dipertanyakan. Karena mungkin waktu itu OSIS di SMP saya belum begitu terorganisir dan hanya sebagai formalitas saja. Kemudian saya melajutkan sekolah di Madarasah Aliyah YP.KH.Syamsuddin dalam naungan sebuah pondok salaf di kota Ponorogo. Disitu semangat ke-organisasian saya bangkit lagi. Dan lagi-lagi saya bergabung di Osis, pada waktu itu menjabat sebagai bendahara II. Disini saya baru merasakan aura organisasi yang berbeda jauh dari OSIS yang pernah saya ikutin diwaktu SMP. Selain itu saya juga ikut dikegiatan pramuka BANTARA. Bantara kepanjangan dari Bantuan Tenaga Rakyat. Yang merupakan Tanda Kecapakan Umum (TKU) dari golongan pramuka tingkat Penegak. Kemudian diwaktu kelas dua MA saya sudah mengikuti empat organisasi sekaligus. Dari 4 organisasi itu Alhamdulillah saya diberi amanah untuk menjadi pengurus semua. Mulai dari OSIS saya menjabat sebagai Ketua, Pramuka BANTARA sebagai bendahara I, OSIPP (Organisasi Santri Intra Pondok Pesantren) sebagai ( maaf yang ini Saya lupa hehe), dan Safid (Sanggar Kaligrafi Durisawo) Sebagai Humas. Kebetulan waktu itu SAFID (Sanggar Kaligrafi Durisawo) itu baru dibuka dipondokku. Sehingga saya perlu menerapkan prinsip Win-win Solutions disaat dua atau tiga organisasi itu mengadakan acara dalam waktu yang sama. Terkecuali untuk OSIS pasti selalu saya prioritaskan karena memang saya harus sadar sebagai ketua tanggung jawab saya lebih besar dari yang lain.

Dok.Jurnalis Mahardhika

Keinginan untuk aktif dan masuk dalam aktivitas organisasi berlanjut juga diwaktu saya menginjak bangku kuliah. Dan seperti yang kita ketahui bersama dikampus terdapat banyak sekali organisasi dan UKM yang ada. UKM di sini bukan Usaha Kecil Menengah ya, tapi Unit Kegiatan Mahasiswa,he. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti UKM Jurnalis seperti yang saya ceritakan diawal. Disini tahun pertama masuk jurnalis masih jarang diadakan acara dan meeting, terhitung waktu itu kurang lebih hanya lima kali pertemuan dalam satu tahun. Bisa dibilang jurnalis waktu itu hanyalah semi aktif, atau bisa dikatakan hampir punah. Tapi yang membuatku terkesan adalah saat saya pertama kalinya diminta kakak pengurus untuk membuat wawancara dan berita mengenai profil seorang dosen namanya bu Wulandari Hardjanti dikampus saya. Jujur waktu itu saya senang banget ketika berita hasil wawancara dosen itu terpasang dimading, serasa benar-benar sudah menjadi jurnalis beneran,he. Menginjak tahun berikutnya tepatnya di semester tiga, estafet kepemimpinan Jurnalis diteruskan oleh mbak Angelin Selin sebagai ketua. Atas inisiatif beliau dan teman-teman lain akhirnya kita membuat struktur kepengurusan Jurnalis yang baru. Berbekal semangat yang membara, kita ingin menghidupkan kehidupan pers dikampus kembali. Program-rogram kerja yang sebelumnya berhenti kita jalankan kembali dan bahkan kita tambahi. Waktu itu saya ditunjuk untuk menjadi pengurus Koordinator mading dan berlanjut sampai sekarang. Tapi walaupun begitu, saya tidak puas hanya fokus dimading saya mencoba selalu sempatkan waktu untuk membuat artikel berita dari wawancara dengan narasumber ataupun artikel-artikel lain yang bersifat informatif. Karena saya mulai sadar bahwa roh dari UKM Jurnalis itu adalah sebuah tulisan, terutama berita. 


Dok.Hipmi PT STIE MAHARDHIKA


Untuk Organisasi saya memilih masuk di HIPMI PT (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi). Saya masuk di Hipmi bukan berarti saya udah punya usaha, sama sekali belum. Karena dalam persyaratan masuk tidak harus mempunyai usaha dulu, dan kebetulan waktu sekolah di Madrasah Aliyah dulu saya punya impian ke depan ingin jadi pengusaha, sebagai proses awal untuk mewujudkan impian itu akhirnya saya daftarlah di Hipmi PT. Sekitar satu semester berjalan saya menemukan banyak ilmu di dalam Hipmi. Menurut saya Hipmi acaranya keren-keren. Kenapa demikian? Karena salah satu alasannya adalah acara Hipmi seperti nongkrong produktif, kopi bisnis, cangkruk produktif banyak diadakan dicafe-cafe. Selain itu juga pembicaranya sudah pasti berbobot dan sudah punya usaha-usaha sendiri yang sedang berkembang. Dan yang membuatku senang adalah acara-acara seperti itu free bahkan sering juga dapat minum gratis. Yang paling menyenangkan bisa bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa dari universitas lain di Surabaya, sehingga bisa menambah teman,networking dan bisa saling bertukar pikiran. Mungkin barangkali juga bisa menambah daftar nama-nama calon masa depan kita nanti, itupun jika beruntung. Eaaa.. Setelah satu semester berjalan saya tiba-tiba ditunjuk juga sebagi pengurus bagian Humas. Sebenarnya waktu itu saya sempat menolaknya dengan dalih kalau saya belum punya pengalaman banyak dibidang wirausaha dan kebetulan saya juga pengurus di UKM Jurnalis. Tapi karena sedikit dipaksa (maaf) akhirnya saya meng-iyakan tawaran itu. Ya, harapannya semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik. Dan seperti yang kita ketahui bersama menurut Rasulallah SAW. “Manusia yang terbaik adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Semoga saja apapun organisasi dan UKM yang kita ikutin bisa menambah pengalaman dan manfaat bagi kita dan orang-orang disekitar kita. Seperti halnya sabda Rasulallah SAW.Tersebut. Aamiiin.

Sidoarjo, 24 April 2017 | Budi Setiawan





Kamis, 13 April 2017

DOA UNTUK NEGERI

#JJM Ke 8

Do’a Untuk Negeri

“Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir sambil berdzikir kepada Allah ‘azza wajala kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat menyelimuti mereka, dan ketenangan hati turun kepada mereka, dan Allah menyebut (memuji) mereka dihadapan makhluk yang ada di sisi-Nya” (H.R. Muslim)

Sumber gambar: Sigit Waskito TV9 Nusantara


Gemah zikir terdengar lantang oleh ratusan ribu warga Nahdliyyin yang memadati area GOR Delta Sidoarjo dalam acara Istighozah  Kubro pada minggu (9/4/2017) yang lalu. Lantunan Do’a-doa yang dipanjatkan oleh para Kyai sepuh NU dan ratusan ribu warga Nahdlatul Ulama itu membuat hati ini serasa bergetar. Lantas perhelatan akbar warga Nahdliyyin itu mendapat sorotan dari berbagai pihak. Hal ini memang sesuatu yang sangat wajar sekali lantaran perhelatan tersebut dihadiri tidak hanya hitungan ratusan warga Nahdliyyin tapi sampai ratusan ribu. Bahkan, sampai meluber ke luar stadion dan bahu jalan raya.

KH.Hasan Mutawakil Alallah selaku Ketua PWNU Jatim menyebutkan bahwa istighosah Akbar tersebut tidak semata-mata digelar untuk merayakan harlah NU yang ke 94 saja, melainkan juga untuk mendo’akan  bangsa agar terhindar dari macam perpecahan yang belakangan ini mengemuka dipermukaan. “Kiai NU tentu beda dengan yang lain, demo Kiai NU digelar dengan Istighozah, doa bersama,” papar KH. Mutawakil saat membuka Istighozah Kubro di GOR Delta Sidoarjo pada minggu, seperti yang tertera di kelanakota.suarasurabaya.net.

Berdasarkan pada keterangan beliau. Kiai NU tidak hanya mengurusi perihal agama saja melainkan juga turut memikirkan masalah bangsa dan negara. Istighosah ini juga merupakan bagian dari peran NU agar bangsa tetap rukun dan lebih sejahtera. Terlepas dari itu jika kita cermati di media sosial banyak golongan yang saling mengkafirkan-kafirkan sesama muslim. Tidak hanya itu banyak juga diantaranya yang menggembor-gemborkan ingin mendirikan negara Islam di Indonesia padahal seperti yang kita ketahui bersama Ulama-ulama Nu menyatakan bahwa NKRI, Pancasila, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah sudah final, negara ini negara bangsa, bukan negara agama.

Sumber gambar: Dok.Pribadi


Harapan kita adalah semoga doa para kyai dan warga Nahdliyyin yang terbingkai dalam sebuah tema besar “ membuka pintu langit menggapai nurullah (Cahaya Ilahi)” tersebut bangsa kita ini diberikan keselamatan, kesejahteraan dan kemakmuran. Selain itu semoga saja bencana sosial  yang menimpa bangsa ini ada jalan keluarnya. Amin.. Tak ada lebih indah dari kata “semoga” yang kemudian kita aminin bersama.^-^

Sidoarjo, 14 April 2017 | Budi Setiawan